Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 09


__ADS_3

"Tapi saya belum mengatakan apa pun kepada Ibu saya, Nyonya. Jadi, bolehkah saya pulang untuk malam ini? Saya akan mencari alasan agar Ibu saya tidak curiga, ibu dan adik saya, pasti akan kehilangan saya bila saya tidak mengatakan apa pun kepada mereka. Dan lagi, saya juga belum mengemas pakaian saya," ujar Lisha mencoba membujuk Nyonya Mina.


"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi, sekarang juga. Karena nanti malam kamu akan mulai tidur bersama Ansel," Lisha tersedak salivanya sendiri ketika mendengar ucapan to the point dari Nyonya Mina.


Dia memang tau bahwa dia akan tidur bersama dengan suami kontraknya. Tapi, tetap saja Lisha merasa belum yakin dan meragukan pilihannya ini. Apalagi pesan sang ibu yang terus terngiang di telinganya, membuatnya merasa begitu sangat berdosa, karena telah mengecewakan sang ibu tercinta.


Tapi apa boleh buat, Lisha telah terjebak dalam lingkaran hitam ini. Bukan cuma dirinya yang akan terluka bila dia pergi, tapi juga ibu dan adiknya tersayang. Mana mungkin Lisha sanggup melihat ibu dan adiknya terluka. Lisha tau siapa keluarga Stewart, dia tau seberapa besarnya kekuasaan mereka. Untuk itulah, Lisha lebih memilih bungkam dan juga patuh.


"Kalau begitu saya akan pulang sekarang juga, Nyonya. Tapi, Nyonya benar akan menepati janji Nyonya, bukan?" Tanya Lisha memastikan sekali lagi sebelum pergi.


"Tentu saja. Biaya pengobatan serta biaya hidup ibu dan adikmu akan aku penuhi selama kamu menjadi istri putarku, dan bila kamu berhasil melahirkan seorang cucu untuk saya, maka kontrak selesai, dan kamu boleh pergi yang jauh dari kehidupan putra saya," jawab Nyonya Mina dengan wajah angkuh.


"Hanya cucu saja, kan, Nyonya? Tidak harus perempuan atau lelaki?" Tanya Lisha Baru mengingat akan hal itu.


"Hem, tentu saja harus seorang Putra. Seoarang anak laki-laki yang akan menjadi pewaris Stewart Grup," jawab Nyonya Lisha membuat Lisha cukup kaget.


"Nyonya tidak mengatakan hal itu kepada saya," protes Lisha tak terima.


"Semuanya tertulis di dalam dokumen ini. Lagian, isi dokumen ini bisa saya tambah atau saya ubah sesuai yang saya inginkan," jawabnya santai.


"Apa gunanya membuat peraturan aneh itu, bila dia sendiri dapat mengubahnya sesuka hati," ucap Lisha yang hanya berani mengeluh dalam hati.


"Deon!" Teriak Nyonya Mina.


"Antarkan Lisha ke rumah sakit, pastikan juga di ke rumahnya untuk mengambil pakaiannya. Ingat, tepat pada jam tiga sore, kau sudah harus membawanya kembali ke rumah ini," titah Nyonya Mina sambil menunjuk-nunjuk wajah Lisha.


"Baik, Nyonya," jawab Deon patuh.


"Mari, Nona." Ajak Deon sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Lisha.


Lisha berdiri, lalu berjalan mengekor di belakang Deon karena dia masih belum hapal kemana arah rumah serba luas itu.


"Tuan, eh Deon. Ke rumah saya dulu, ya. Saya ingin mengemas pakaian saya lebih dulu," pinta Lisha yang kini sudah berada di dalam mobil.

__ADS_1


"Baik, Nona." Jawab Deon langsung berbelok mengarah ke gubuk rumah Lisha.


Tak lama kemudian, mobil mewah itu telah terparkir di pinggir jalan. Sebelum turun, Lisha meminta agar Deon tidak turun bersamanya.


"Deon, kamu bisa, kan, tunggu di sini saja. Saya tidak ingin tetangga berpikir lain," pinta Lisha menghentikan aksi Deon yang akan ke luar dari mobil.


Dari spion, Lisha dapat menangkap ekspresi lain dari wajah Deon.


"Kamu tenang saja, saya tidak mungkin kabur," ujar Lisha meyakinkan Deon bahwa dirinya tidak akan pergi kemana pun.


"Baiklah, Nona." Jawab Deon pada akhirnya.


Mendapat izin dari Deon, barulah Lisha keluar dari mobil. Dengan gerakan cepat Lisha menyingkir dari mobil itu, kemudian berlari masuk ke dalam gubuk rumahnya.


Tiba di dalam rumah, Lisha langsung menuju kamarnya yang sama dengan kamar adiknya. Menyingkap tabir yang menjadi pintu lemari, mengambil beberapa helai pakaiannya lalu dia masukkan ke dalam tas lusuh miliknya.


Tak lupa, Lisha juga memasukkan beberapa helai pekaian untuk adiknya yang kemudian dia masukan ke dalam tas kecil milik sang adik.


Tak butuh waktu lama, kini Lisha telah selesai mengemas semua pakaian. Masih dengan berlari, Lisha cepat masuk ke dalam mobil mewah milik Deon. Bukan, maksudnya milik keluarga Stewart yang berkuasa.


"Baik, Nona," jawab Deon langsung tancap gas menuju rumah sakit, di mana Ibu Lisha di rawat.


Selama Lisha pergi, Ibunya mungkin akan lama di rawat di rumah sakit itu. Nyonya Mina bilang, dia akan memastikan kesembuhan Ibunya. Ibu Lisha mengidap penyakit gagal ginjal, hingga saat ini dia masih bisa bertahan dengan ginjal rusaknya. Namun, itu tidak akan bertahan lama.


Secepat mungkin, Ibu Lisha harus mendapatkan pendonor. Dan Nyonya Mina juga telah mengatakan kalau dia sudah mendapatkan pendonor untuk Ibu Lisha. Nyonya Mina berjanji akan melakukan operasi ketika Lisha berhasil mengandung anak Seorang CEO gondrong bernama Ansel Stewart.


Jika belum, maka waktu akan terus diundur. Untuk itulah, Lisha juga menginginkan agar dirinya cepat mengandung anak dari seorang Ansel. Agar dia bisa menyelamatkan nyawa Ibunya secepat mungkin pula.


Tiba di rumah sakit, Lisha berjalan menuju ruangan ibunya dengan membawa serta tas yang berisi pakaian untuk adiknya, Casey. Sedangkan Supir Deon, Lisha suruh untuk menunggu di mobil agar ibunya tidak curiga akan kehadiran Supir Deon.


"Kakak, kakak kembali dengan cepat. Kakak lihat ini, aku dibelikan boneka sama kakak cantik, Temen-nya kakak," tunjuk Casey kepada seorang suster yang kini menyuapi sang Ibu dengan telaten.


Lisha tampak tersenyum senang, karena Nyonya Mina benar-benar menepati janjinya. "Lisha, kamu sudah kembali," sapa suster itu berakting.

__ADS_1


"Ah iya, terima kasih sudah merawat ibuku.," Jawab Lisha tampak sedikit bingung, namun berusaha melanjutkan aktingnya agar ibunya tidak curiga.


"Sama-sama, Lisha. Sebagai teman, sudah seharusnya aku membantumu. Lagian ini memang tugasku." Jawab Suster itu akrab.


"Iya, sekali lagi terima kasih banyak." Jawab Lisha tulus.


"Karena kamu sudah kembali, aku akan langsung pergi untuk mengurus pasien lainnya," pamit sang suster lalu berdiri.


"Iya, silahkan. Maaf karena sudah merepotkanmu," saut Lisha.


"Tidak masalah, itu bukan apa-apa,"


"Hati-hati, ya, suster Lara dan Terima kasih," sambung ibu Santi pelan.


"Sama-sama, Ibu Santi." Jawabnya ramah.


"Dadah, kakak cantik." Casey juga ikut mengucapkan kalimat selamat tinggal.


"Kamu jangan nakal, ya." Ujar Suster Lara seraya mengusap pelan kepala Casey.


"Kamu pulang cepat, Nak? Apa ada masalah?" Tanya Ibu Santi dengan raut wajah khawatirnya.


"Tidak ada masalah yang terjadi Ibu. Malahan Lisha ingin memyampaikan kabar baik untuk ibu dan juga Casey," jawab Lisha tersenyum.


"Apa itu, nak," jawab Ibu Santi antusias.


"Kabar baik apa, Kak?" Tanya Casey juga tak kalah antusiasnya.


"Lisha dapat tawaran kerja di luar negri, Bu." Jawab Lisha tersenyum bahagia namun tidak dengan sang Ibu.


"Ibu turut bahagia, Nak. Berapa lama kamu akan di sana? Dan di negara mana itu? Apa aman untukmu, nak?" Insting seorang ibu berkat dengan penuh tanya kala mengkhawatirkan keadaan Putrinya ketika berada di negeri orang.


"Hanya beberapa bulan saja, Bu. Tidak akan sampai satu tahun." Jawab Lisha semakin membuat kening ibunya berkerut. Sedangkan Casey yang tidak mengerti dengan obrolan orang dewasa itu, memilih untuk tetap fokus bermain bersama boneka barunya.

__ADS_1


"Ya, aku yakin tidak akan lama aku pasti akan hamil. Saat ini adalah masa suburku, aku bisa melakukannya malam ini agar aku hamil secepat mungkin, dan Ibu akan segera di operasi secepatnya pula." Batin Lisha memikirkan rencananya matang-matang.


__ADS_2