Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 44


__ADS_3

"Walau Lisha melahirkan seorang putra untukku, apa mommy kira aku akan menyerahkannya begitu saja untuk menjadi budak Eriska," tutur Ansel membuat Nyonya Mina tercengang.


"Apa maksudmu Ansel? Tentu saja itu harus terjadi, karena Lisha sudah berjanji akan malakukan itu. Lagipula, tidak mungkin Mommy membiarkan Cucu Mommy sendiri menjadi budaknya Eriska." Jelas Nyonya Mina.


"Dengar Ansel, Putra yang akan Lisha lahirkan nanti, adalah darah dagingmu. Tentu dia akan tetap menjadi milikmu, Eriska hanya menggunakan Anak lelaki itu agar Pamannya tidak lagi berani kepadanya. Kamu tau Gyn Grup sebesar apa. Jadi, Mommy tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kali ini," pungkas Nyonya Mina berdiri lalu pergi meninggalkan Ansel dan juga Lisha.


"Apa kamu mengerti apa yang aku dan Mommy bicarakan?"


"Maaf, Tuan. Saya masih sering melupakan nama saya sendiri," bohong Lisha.


"Baguslah, tidak perlu dipikirkan. Mommy berbicara yang tidak penting. Sekarang makanlah makananmu. Apa bisa menyuap sendiiri?"


"Bisa, Tuan. Luka di sikut kanan tidak terlalu parah." Jawab Lisha kali ini jujur.

__ADS_1


Begitu selesai makan malam, Ansel kembali menggendong Lisha memasuki lift, "Tuan, saya ingin turun saja, lagi pula kita ada di dalam lift," pinta Lisha yang masih berada dalam gendongan Ansel.


"Sudah sampai," jawab Ansel begitu lift terbuka. Menuju kamar, Ansel membaringkan Lisha ke atas ranjang dengan perlahan, sedangkan dirinya menuju kamar mandi guna mencuci wajah serta menggosok gigi.


Kini, Ansel naik ke atas ranjang dan memposisikan diri di samping Lisha. Sedangkan Lisha menarik selimut hingga menutupi lehernya. "Tuan mau apa?"


"Hanya memelukmu tidak akan lebih," jawab Ansel menarik Lisha masuk ke dalam pelukannya dengan sangat berhati-hati agar tidak mengernai lukanya.


"Sekarang tidurlah," titah Ansel lalu menutup matanya. Lisha yang belum bisa tidur, memilih mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah teduh Ansel ketika terlelap.


Keesokkan harinya.


Kini, Lisha sudah berada di dalam pesawat lebih dulu, sedangkan Ansel sedang bersama Eriska di bawah sana. Entah apa yang keduanya bicarakan, tapi terlihat sangat serius.

__ADS_1


"Ansel, tetap pertahankan Gun Grup, ya, jangan sampai jatuh ke tangan Pamanku. Oh ya, Lisha itu perempuan yang baik, aku tidak mungkin salah memilih. Jaga dia, jika suatu saat dia berhasil melahirkan seorang Putra untukmu, aku mohon, biarkan dia menjadi pemimpin Gym Grup, aku mohon, Ansel." Pinta Eriska tampak sendu.


"Apa yang kau katakan Eriska?" Tanya Ansel merasa aneh dengan perkataan Eriska.


"Kalau kamu lelah menjadi Suami pura-puraku, kamu boleh ceraikan aku. Tapi, meski aku kamu ceraikan, Lisha akan tetap menjadi seorang Istri kedua."


"Berkata yang jelas, Eriska. Apa maksud dari semua ucapanmu?" Ansel mulai naik darah.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya lelah saja. Yasudah sana pergi, selamat bersenang-senang, ya. Aku juga mau berangkat untuk bersenang-senang," ujar Eriska seraya tertawa lepas.


"Bay Ansel, ingat, jaga Gyn Grup ya," ucap Eriska lagi sambil berlalu. Eriska masuk ke dalam pesewat pribadinya. Dia akan berangkat untuk liburan entah ke mana. Karena setahu Ansel, wanita yang selalu berpakaian terbuka itu tidak pernah absen pergi jalan-jalan berpindah negara sesuka hatinya.


"Deon, apa kamu juga merasa aneh dengan Eriska?

__ADS_1


"Sepertinya tidak, Tuan. Bukannya Nona selalu mengatakan hal yang sama, terakhir pertemuan di pesta, Nona juga mengatakan hal ini." Jawab Deon jujur.


"Perkataannya memang sama, hanya saja ... Ekspresi wajahnya yang ... Ah sudahlah, ayo kita berangkat sekarang," ajak Ansel segera menaiki anak tangga.


__ADS_2