Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 12


__ADS_3

"Bukalah kedua paha-mu lebar-lebar," bukannya membuka kedua pahanya, tapi Lisha semakin merapatkan kedua kakinya lalu berkata, "U-untuk a-apa Dokter? Sa-saya masih perawan," ujar Lisha dengan wajah yang sudah Semerah tomat. Walau sesama perempuan, tapi tetap saja Lisha merasa malu.


"Apa Nona kira, Nyonya Mina akan percaya begitu saja tentang apa yang Nona katakan," Lisha terdiam.


"Kalau begitu, biarkan saya melakukan tugas saya," sambung Dokter Yuna lagi. Akhirnya, ragu-ragu Lisha membuka kedua pahanya.


"Lebih lebar lagi, Nona," Lisha menurut, dia memejamkan matanya untuk menetralisir rasa malu. Ah, untuk apa dia malu, bukankag ke enam pelayan itu sudah melihatnya lebih dulu. Bahkan mereka yang membersihkannya.


Tak lama kemudian, Lisha bisa merasakan pergerakkan Dokter Yuna yang kini mengamati daerah intinya.


"Sa-sakit Dokter!" Ringis Lisha kala beberapa jari dr. Lisha menerobos masuk secara perlahan ke dalam daerah intinya.


"Tahan sebentar, ya, Nona," Lisha mengangguk sambil memejamkan matanya rapat.


Begitu dr. Yuna mengeluarkan jarinya, Lisha langsung menutup kembali kedua pahanya. Lisha melihat dr. Yuna mengamati lendir yang dia ambil dari area intinya.


Kemudian dr. Yuna berdiri, melepaskan sarung tangannya, lalu dia buang ke dalam tong sampah mini yang ada di samping ranjang. Kini Lisha duduk sambil memperbaiki jubah mandinya yang sedikit terbuka.

__ADS_1


"Bibik Lili bisa lanjutkan tugas Bibik. Sekarang adalah masa subur Nona Lisha, karena dia masih perawan dan tidak punya pengalaman. Jadi, Bibik harus mengajarkan dia," titah dr. Yuna lalu keluar dari kamar, mungkin saja akan menemui Nyonya Mina untuk membuat laporan.


"Kalian juga sudah bolah pergi," ujar Bibik Lili pada ke enam pelayan yang masih setia berbaris rapi.


Setelah kepergian Dokter Yuna dan para palayan. Bibik Lisha mengambil remote tv. Menyalakan setelah sebelumnya memasang CD yang bergambar aneh.


"Silahkan Nona tonton vidio itu. Amati baik-baik apa yang dilakukan mc wanita di dalamnya. Karena sebentar lagi, Nona harus bisa mempraktekkannya kepada Tuan Ansel." Imbuh Bibik Lili kemudian keluar dari kamar, meninggalkan Lisha dengan segala keterkejutan atas apa yang kini dia amati.


Beberapa menit kemudian.


Pintu kamar yang dibuka oleh Bibik Lili.


"Nona, apa yang Nona lakukan? Kenapa tv-nya malah dimatikan?" Tanya Bibik Lili geram.


"Ma-maaf, Bibi. A-aku—"


"Sudah! Sepertinya Nona tidak suka bila saya bersikap lembut. Ini, pakailah pakain itu secepat mungkin. 5 menit lagi Tuan muda akan pulang, dan Nona harus cepat melakukan tugas Nona. Satu hal lagi, Nona harus pandai-pandai merayu Tuan Muda jika ingin Ibu Nona cepat selamat. Nyonya Mina tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, jadi, Nona harus patuh kepadanya!" Oceh Bibik Lili geram, lalu segera pergi meninggalkan Lisha seorang diri.

__ADS_1


"Astaga! Pakaian apa ini? Apa bedanya dengan tidak memakai pakaian?" Ujar Lisha yang kini sudah berada di dalam kamar mandi, tepatnya di Westafel. Dia memandang jijik tubuhnya yang ada di pantulan kaca dihadapannya. Tubuh indah nan seksi dibalut lingerie berwarna hitam transparan yang memperlihatkan bra dan cd-nya yang berwarna merah menyala.


Siapa yang tidak tergoda melihat pemandangan indah yang terpampang nyata. Lihatlah bagaimana malu-malunya dua gundukkan sintal, kencang, padat, besar, dengan warna putih bersih, yang tampak menyembulkan sedikit wujudnya. Ditambah lagi dengan bokong berukuran L semakin memperindah lakukan tubuh S line itu.


"Aku benar-benar sudah menjadi jal*ng. Ada apa dengan takdirku? Jelas beberapa hari lalu aku hampir diperkosa oleh pria gondrong kusut itu, dan sekarang—dan sekarang aku yang harus menggodanya berharap dia mau menanamkan benihnya di rahimku. Tanpa pakaian ini Sekali pun, aku yakin dia tetap aku melakukannya kepadaku." Batin Lisha kesal, ingin sekali dia menghancurkan kaca yang terdapat pantulan tubuhnya. Tapi apa daya, dia tidak akan mampu melakukannya.


Lisha menghela napas berat, sebelum akhinya membuka pintu kamar mandi perlahan.


"Aaakh!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2