
"Aku tidak tau, hiks ... Aku sangat ngantuk, Ansel. Tapi ... Tapi tidak bisa tidur, huwa!" Ansel panik serta khawatir kala Lisha menangis semakin jadi. Dia segera meraih tubuh Lisha dan membenamkan wajah Lisha dalam pelukannya.
"Sudah, sekarang tenangkan dirimu. Jangan terlalu banyak berpikir. Sekarang tidurlah, aku akan selalu ada bersamamu," Ansel memeluk Lisha semakin erat dan Lisha pun mulai merasa tenang. Cukup lama Ansel duduk dengan terus memeluk Lisha. Hingga akhirnya suara tangis Lisha tak lagi terdengar. Artinya Lisha telah terlelap nyenyak. Perlahan, Ansel membaringkan Lisha dengan posisi yang benar. Dia juga berbaring di samping Lisha, lalu kembali memeluk Lisha. Kedua insan itu tidur dengan saling berpelukan seakan tidak ingin ada yang memisahkan.
Pukul 00:00
"Ansel, Ansel bangunlah," Lisha menepuk-nepuk pelan pundak Ansel. Tak lama, Ansel pun bergerak dan mengusap pelan matanya.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Ansel dengan suara khas bangun tidur.
"Aku lapar, aku ingin makan," Lisha menjawab sambil mengelus perut datarnya.
"Aku akan meminta Asisten Deon menyiapkannya, mau makan apa?"
"Kurma dan nasi putih hangat, sepertinya sangat enak," Lisha meneguk saliva kala membayangkan kurma dan nasi hangat.
"Hanya itu saja?" Tanya Ansel lagi.
"Iya, dua itu saja. Tidak perlu banyak menu, aku hanya ingin dua itu saja."
"Baiklah, aku akan meminta Asisten Deon yang membelinya," jawab Ansel pasrah. Beruntung Dubai adalah kota yang memiliki banyak toko-toko serta restoran yang buka dua puluh empat jam, jadi, Ansel tidak akan terlalu menyulitkan pekerjaan Asisten Deon. Hanya saja, pasti perjaka tua itu akan mengomel dalam hatinya.
__ADS_1
Tak lama menunggu, Asisten Deon pun tiba dengan makanan yang Lisha inginkan. Tidak sulit mencari buah kurma di Dubai, karena di sana memang gudangnya. Ansel beruntung karena Lisha tidak meminta yang aneh-aneh. Walau makan nasi dengan kurma juga termasuk sesuatu yang aneh.
"Sayang," panggil Ansel.
"Iya," jawab Lisha yang kini tengah makan dengan lahapnya.
"Apa bulan ini kamu sudah—" Ansel tidak melanjutkan kalimatnya.
"Sudah apa?" Tanya Lisha penasaran.
"Tidak apa-apa, lanjutkan saja makanya?" Jawab Ansel membuat Lisha mengerutkan alis, karena terlalu lapar. Lisha pun tak menghiraukan Ansel dan kembali makan dengan lahap.
Ansel tersenyum melihat Lisha yang makan begitu lahapnya, hingga mulutnya penuh, tampak begitu imut menurutnya.
"Minumlah, pelan-pelan saja. Aku tidak akan merebutnya," kata Ansel sambil membantu Lisha minum.
"Jangan melihatku seperti tadi," kata Lisha menunduk karena malu.
"Memangnya kenapa, Sayang? Apa masih malu?" Lisha mengangguk membenarkan.
"Kita bahkan sudah melakukan—" Lisha meletakkan jarinya di bibir sensual Ansel.
__ADS_1
"Jangan bahas itu lagi," kesal Lisha dengan kedua pipi yang sudah semerah tomat.
"Baiklah-baiklah, sekarang lanjutkan makanmu," ujar Ansel mengelus kepala Lisha lembut.
"Sudah selesai, aku sudah kenyang," Lisha mengulurkan piringnya kepada Ansel.
"Kenapa tidak habis?"
"Sudah kenyang, sekarang aku mau makan buah. Sepertinya sangat segar," pinta Lisha manja.
"Ada apa dengannya, tidak mungkin dia—"
"Ansel, apa kamu tidak dengar?"
"Tentu aku dengar sayang. Tunggu di sini, akan aku siapkan untukmu," jawab Ansel lesu dan pasarah.
"Baiklah," jawab Lisha bersemangat.
Ansel keluar dari kamar. Menuju dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa jenis buah segar seperti apel, melon, anggur, pir dan lainnya. Ansel mengupasnya dengan telaten, mencuci, lalu memotongnya dengan ukuran kotak-kotak kecil.
Begitu selesai, Ansel pun segara menju kamar. Dan dia begitu terkejutnya saat melihat Lisha telah tertidur dengan lelapnya. Melihat itu Ansel lesu seketika, tapi tetap berjalan menuju ranjang, meletakkan piring berisi buah di atas nakas sambil menghela napas panjang.
__ADS_1
Pasrah, Ansel duduk di samping Lisha, kemudian melahap kasar semua buah yang telah susah payah dia kupas serta potong, seakan menyalurkan kekesalannya.