
Sebuah pulau dengan luas 200.000 hektar. Pulau indah yang baru saja Ansel beli dengan harga yang cukup tinggi, tapi tetap tidak sebanding dengan keuntungan besar yang akan Ansel dapatkan bila tujuannya berhasil.
Rugi, tentu tidak. Seorang pengusaha sehebat Ansel tidak mungkin bertindak tanpa memikirkan apa keuntungannya terlebih dahulu. Karena itulah Ansel dengan senang hati menerima kekalahan dari Garvin.
Jika Garvin mendapatkan sebuah lahan yang sangat cocok di bangun hotel karena letaknya yang strategis. Maka Ansel mendapatkan sebuah pulau yang di dalamnya terdapat begitu banyak tempat-tempat indah yang tidak satu pun orang ketahui. Karena ketidak tahuan orang-oranglah, Ansel bisa mendapatkan pulau indah itu dengan begitu mudahnya.
Pulau itu memiliki segudang tempat indah seperti, pantai pantai yang membentang disetiap sudut pulau, dengan pasir berwarna putih bersih. Di sisi kanan pulau juga terdapat pantai air laut berwarna-warni dengan pasir pantainya berwarna pink berkilau. Di hadapan pantai berpasir pink itu juga terdapat dua pulau kecil yang letaknya begitu rapi, yaitu tepat di sisi kiri dan sisi kanan pantai berpasir pink berkilau itu. Dipercantik dengan sajian sanset yang begitu sempurna kala diapit dua
Pulau kecil itu.
Tak hanya wisata pantai saja. Tapi, di pulau itu juga terdapat gua berbatu transparan, yang akan Ansel jadikan ikon wisata paling mengesankan nantinya. Letak gua yang tersembunyi serta terlihat buruk dari luar, membuat tidak satu pun yang mengetahuinya.
__ADS_1
Sebuah keberuntungan besar bagi Ansel, mendapatkan pulau itu dengan mudah. Tidak main-main besarnya biaya yang akan Ansel keluarkan demi membuat Resort berdesain alami yang nantinya akan menjadikannya memilki pengaruh besar di negara Arab. Jika dia berhasil, jangankan Garvin, kerajaan Arab Saudi saja pasti tidak akan memandang dirinya sebelah mata lagi.
"Pulau seindah ini mereka jual begitu saja. Sangat mengherankan."
"Haha, mereka hanya tidak tau kalau ada banyak destinasi wisata langkah di sini," jawab Ansel bangga.
"Benarkah, kalau begitu bagaimana kalau mereka mau merebutnya lagi?"
"Lalu mau diapakan hutan itu?" Lisha menunjuk pada hutan lebat di belakangnya.
"Nanti kamu juga akan tau," jawab Ansel dengan segala ide berliannya.
__ADS_1
Merasa lelah, Lisha pun melepaskan jubah yang menutupi tubuh seksinya, membuat Ansel tak berkedip sedikit pun. Ansel juga ikut duduk di samping Lisha. Keduanya berselonjor kaki di pasir pantai pink itu.
"Lalu, apa nama pulau juga pantai ini?" Tanya Lisha penasaran.
"MABUK PERAWAN!" Jawab Ansel bersemangat.
"Apa kamu bercanda?" Lisha tak habis pikir dengan nama yang Ansel berikan untuk pulau seindah itu.
"Hahaha, nama yang bagus bukan? Aku memang hebat," ucap Ansel bangga.
"Itu nama yang aneh, Ansel," saut Lisha.
__ADS_1
"Lebih tepatnya itu adalah nama yang unik. MABUK PERAWAN. Mabuk artinya, siapa pun yang melihat langsung keindahan pulau ini, maka dia akan mabuk dan pasti akan ketagihan serta candu dengan sensasinya. Sedangkan perawan artinya, karena pulau ini memang masih perawan. Hanya kita berdua dan para pengawal saja yang datang kesini. Itu pun kita tidak menelusurinya langsung. Jadi, menurutku sangat cocok bila nama pulau ini adalah pulau MABUK PERAWAN," Jelas Ansel panjang kali lebar. Lisha yang mendengarkan itu hanya terdiam dengan ekspresi yang tak dapat digambarkan.