
"Kenapa menyalahkanku, anakmu saja yang terlalu manja. Hanya memberi izin makan dua sendok bila tidak kamu suapi," jelas Lisha pada Ansel.
"Sayang, jangan begitu lagi, ya. Kan sudah Daddy katakan, jangan menyusahkan Mommy," Ansel berbicara sambil mengelus perut Lisha seakan tengah menasehati calon bayinya.
"Daddy yang baik," satu kecupan Lisha daratan di pipi Ansel.
"Ini juga, Sayang," Ansel memonyongkan bibirnya ke hadapan Lisha. Ragu-ragu Lisha pun mendaratkan ciuman di bibir Ansel.
"Itu tadi makanan penutup," Ansel berkata lembut membuat kedua pipi Lisha memerah.
"Sekarang istirahatlah," Ansel menyelimuti Lisha.
"Tapi aku tidak mengantuk," tolak Lisha
"Tapi kamu harus tidur siang."
"Mana bisa dipaksakan," saut Lisha keukeuh.
"Yasudah, sekarang mau apa lagi?"
"Mau tidur," jawab Lisha cepat.
"Kamu bilang tidak mau tidur," kesal Ansel.
"Aku hanya mengatakan tidak bisa tidur. Aku tidak pernah mengatakan kalau aku tidak mau tidur," jawab Lisha santai.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa bedanya?" Keluh Ansel dalam hati.
"Dasar manusia dingin yang tidak peka," kesal Lisha dalam hati.
"Kalau begitu tunggulah sebentar, aku akan segera kembali," ujar Ansel langsung keluar dari kamar, membuat Lisha tak sempat menghentikannya.
Beberapa menit kemudian, Ansel kembali dengan membawa begitu banyak buku tentang kehamilan. Ansel meletakan gunungan buku yang dia bawa ke atas meja.
"Ansel, buku apa itu? Kenapa sangat banyak?" Lisha bertanya karena heran.
"Membaca buku seputar kehamilan bagus untukmu, kamu bisa langsung istirahat kalau sudah lelah membacanya," jelas Ansel membuat Lisha terharu.
"Terima kasih, Ansel," lagi dan lagi Lisha meneteskan air mata.
"Aku tidak lagi takut kalau dia adalah perempuan," sambung Lisha.
"Aku pastikan tidak akan ada yang dapat memisahkan kita," ucap Ansel serius.
"Aku juga tidak akan meninggalkanmu apa pun yang terjadi," Lisha menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Ansel.
"Istri yang cerdas," puji Ansel. "Sekarang, kamu lanjut baca-baca dulu, ya. Aku ingin ke ruang kerja untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan."
"Sebelum kamu pergi bekerja, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Bertanya apa, Sayang? Katakan saja," Ansel memebelai perlahan rambut panjang Lisha.
__ADS_1
"Video itu ... Em, apakah tidak akan dihapus?" Tanya Lisha hati-hati karena takut membuat Ansel kesal.
"Aku sudah menghapusnya," tutur Ansel lembut.
"Kenapa? Bukankah itu bisa dijadikan bukti untuk membuat Garvin di penjara?"
"Tadinya, aku memang ingin menggunakan bukti itu untuk menjerat Garvin. Tapi, setelah aku pikir-pikir, aku tidak mau melibatkanmu dalam masalah ini. Aku tidak ingin membuatmu berada dalam posisi yang bahaya lagi." Jawab Ansel sendu.
"Tapi, apakah percuma bila kamu menghapusnya. Pasti Garvin juga akan menyimpan video itu, Ansel. Bagaimana kalau dia menyebarkan video itu tanpa menyamarkan wajah juga tubuhku? Bagaimana kalau orang-orang diseluruh dunia melihatnya? Bagaimana kalau—"
"Sssstt ... Tenanglah sayang, Garvin tidak menyimpan video itu, aku yakin itu. Kalau pun ada, aku tidak akan membiarkannya menyebarkan video itu," Ansel memeluk erat Lisha yang kembali ketakutan.
"Ta-tapi Ansel, tidak mungkin dia tidak menyimpannya! Aku pasti akan membuatmu malu kalau sampai video itu tersebar. Aku takut Ansel."
Ansel merutuki kebodohannya, andai dia langsung menghapus video itu, pasti Lisha tidak akan melihatnya dan pasti Lisha juga tidak akan ketakutan seperti ini.
Tapi, Ansel yakin kalau Garvin tidak menyimpan video itu. Karena saat tiba di sana, kamera yang Garvin gunakan untuk merekam dirinya dan Lisha telah hancur tak berbentuk.
Dalam analisis Ansel, Garvin tidak mampu menyentuh Lisha. Karena tak mampu, dia pun kesal hingga menghancurkan kamera itu. Ansel berharap Analisisnya tidak meleset.
Yang Ansel pikirkan sekarang adalah kenapa Garvin tidak menyakiti Lisha? Kenapa hanya menggertak dirinya dengan membuat rekaman video? Padahal kalau memang Garvin memiliki dendam kepadanya, dapat dipastikan dia akan melukai orang yang paling berharga bagi Ansel, yaitu Lisha.
"Tidak usah marah, Ansel. Aku hanya melakukan apa yang telah kamu lakukan kepada salah satu anggota keluargaku."
Itu adalah ucapan Garvin sebelum dia mereka video itu. Dari ucapan itu Ansel berpikir kesalahan apa yang telah dia lakukan kepada salah satu anggota keluarga Garvin. Jika diamati dari video yang Garvin rekam, dapat dipetik sebuah kesimpulan tentang, apakah dirinya telah melakukan hal yang sama seperti yang Garvin lakukan kepada Lisha?
__ADS_1