Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 22


__ADS_3

"Silahkan masuk, Nona Lisha," ucap Bibik Lili sopan.


"Terima kasih, Bik." Jawab Lisha segera masuk ke dalam kamar lusuh yang lebih mirip gudang daripada kamar. Dari ukurannya saja, jauh lebih luas kamar mandi yang ada di kamar Ansel.


Walau begitu Lisha tetap selalu bersyukur atas apa yang diberikan kepadannya. Menurutnya, kamar ini masih layak huni, jauh lebih baik daripada rumahnya sendiri.


"Nona bisa membersihkannya sendiri bukan?" Tanya Bibik Lili.


"Iya, Bik. Saya bisa membersihkannya sendiri." Jawab Lisha.


"Baguslah. Setelah selesai membersihkan kamar, jangan lupa pakai baju pembantu yang ada di lemari itu, Nona diminta Nyonya untuk ikut membantu membersihkan Mansion bagian luar di taman. Maaf saya menyarankan mengganti hukuman untuk Nona. Tapi menurut saya itu lebih baik daripada Nona di kurung di dalam kamar ini."


"Baik, Bibik. Terima kasih atas bantuan dan saran Bibik." Lisha berkata lembut, setelahnya Bibik Lili Langsung keluar dari kamar Lisha.


Kemudian, Lisha langsung membersihkan kamar sempit, sesak, panas, kotor, dan berdebu itu.

__ADS_1


Selesai menyapu dan mengepelnya hingga bersih, Lisha beristirahat sejenak karena merasa perih pada perutnya yang terus berteriak minta di isi.


Lisha hanya memeluk dan menekan perutnya dengan erat berharap rasa lapar sekaligus perih itu dapat berkurang.


Setelah merasa lebih baik, Lisha membuka Lamari yang ada di sana. Memakai pakaian khas pembantu yang ada di dalamnya. Rok mekar dibawahnya tampak kependekakan ketika Lisha kenakan, ukuran tubuhnya yang lumayan tinggi menjadi penyebab utama.


Selesai berpakaian, Lisha keluar dari kamar dan mencari keberadaan Bibik Lili.


Rupanya Bibik Lili sudah berada di taman luar, dia menjadi mandor yang memerintah para tukang kebun untuk menempatkan posisi bunga yang baru akan ditanam.


"Akhirnya Nona Lisha datang juga." Sambut Bibik Lili. "Baiklah, kalian semua boleh istirahat makan siang. Nona Lisha silahkan gantikan mereka. Maaf Nona, ini adalah perintah dari Nyonya Mina " sambung Bibik Lili lagi.


"Baiklah, silahkan Nona tata dan tanami tanaman ini menggunakan konsep ini. Kalau begitu saya pergi dulu untuk memantau keadaan di dalam." Ujar Bibik Lili lalu pergi meninggalkan Lisha seorang diri di bawah teriknya sinar matahari.


"Baiklah Lisha. Kamu harus semangat, ada Adik dan juga Ibu yang sangat membutuhkanmu saat ini." Ungkap Lisha memulai ritual menanam bunga satu persatu sesuai konsep kebun yang Bibik Lili berikan.

__ADS_1


***


Satu jam berlalu, Lisha merasa kepalanya mulai pusing. Lisha menepikan diri, mencari tempat untuk berteduh. Haus, lapar dan lelah semua Lisha rasakan. Dari pagi hingga akan beranjak sore, Lisha tak kunjung diberikan makanan. Lisha memang biasa menahan lapar, bahkan Lisha sering pingsan kalau penyakit mah-nya kumat.


"Belum selesai, tapi aku merasa sangat lelah dan lapar. Apa yang harus aku lakukan, kalau berhenti dan ketauan Nyonya Mina, dia pasti akan sangat marah. Tapi, kalau dilanjut aku benar-benar tidak sanggup." Gumam Lisha tampak begitu pucat.


"Aku hanya ingin minum, semoga Nyonya Mina tidak marah. Aku sangat haus." Lisha mencoba berdiri walau sulit, lalu berjalan dengan perlahan sambil memegangi kepalanya yang terasa seperti berputar-putar.


Diwaktu yang bersamaan, Ansel pulang dan mamarkirkan mobilnya di sembarang tempat. Ansel keluar dari mobil dan berjalan terburu-buru masuk ke dalam rumah.


Brukk!


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2