Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 70


__ADS_3

Setelah memastikan Lisha telah tertidur pulas. Ansel segera turun dari ranjang dengan begitu perlahan agar tak membuat Lisha terbangun. Dia keluar dari kamar dan terburu-buru menuju sebuah ruangan rahasia yang didalamnya terdapat lift berukuran kecil. Ansel masuk ke dalam lift kecil itu, menekan tombol rahasia yang langsung mengantarkan dirinya ke ruangan bawah tanah di resort pribadinya itu.


Ansel melewati lorong demi lorong yang begitu banyaknya, hingga tibalah di sebuah tempat yang begitu luas. Yang di sana terdapat beberapa orangnya yang tengah memukuli seorang Dokter yang sebelumnya telah memeriksa kandungan Lisha. Ya, sebenarnya Ansel tau kalau dokter itu adalah orang utusan Garvin.


"Apa semua sudah siap, Deon?" Tanya Ansel kepada Asisten Deon.


"Semua sudah siap, Tuan. Kami sudah berhasil memasang alat itu di dalam mulutnya. Dan jika dia berkhianat, maka sekali tekan, nyawanya serta keluarganya akan segera berakhir," jelas Asisten Deon sambil menyerahkan sebuah remote kecil berwarna hitam dengan satu tombol mereh di tengah-tengahnya. Ansel menyambut remote itu dengan tersenyum licik menghadap pada Dokter berusia kira-kira empat puluh tahun yang badannya telah babak belur, tapi tidak dengan wajahnya yang masih utuh.


Agar tak dicurigai Garvin, anggota Ansel tidak mengancam Dokter itu dengan kekerasan. Melainkan, mengancan dengan menyandera seluruh anggota keluarga yang begitu dokter itu sayangi.


"Bagus," saut Ansel memuji kinerja Asisten Deon yang ceketan.


Selangkah, dua langkah, tiga langkah, dan kini, Ansel berdiri tepat di hadapan Dokter yang kini gemetar ketakutan.


"Aku tidak pernah main-main dengan ancamanku. Jadi, aku harap kamu bisa diajak bekerja sama dengan baik," tutur Ansel memperlihatkan sisi kejam dan dinginnya yang menakutkan.


"Ba-baik, Tua-tuan. Sa-saya ber-janji demi ke-keluarga sa-ya, kalau saya ti-dak akan meng-khianati Tu-an." Jawabannya gagap.


"Bagus." Kata Ansel kembali pada tempat semula.


"Bebaskan dia!" Titah Ansel tegas.


"Baik, Tuan," jawab Deon dan yang lainnya serentak.

__ADS_1


***


Keesokan harinya....


"Ansel, aku takut," ucap Lisha menahan kakinya untuk tidak melangkah masuk ke dalam ruangan obgyn.


"Tidak apa-apa, ada aku," ucap Ansel menggengam tangan Lisha erat. Ansel pun membawa Lisha masuk. Walau berat kaki Lisha melangkah, tapi dia tetap berusaha meyakinkan hatinya yang tak kunjung tenang.


"Hallo, Dokter Adiva," sapa Ansel dalam bahasa Arab.


"Hay, Tuan Ansel. Tuan ke mana saja? Saya telpon tidak aktif lagi nomornya, saya kira Tuan sudah kembali ke Negera X." Tutur Dokter cantik berhijab itu.


"Maaf, Dokter Adiva. Saya sedang sibuk, selalu lupa untuk datang ke sini," jawab Ansel ramah dan bersahabat. Lisha yang tak mengerti hanya tersenyum tanpa alasan.


Ansel membawa Lisha menuju ranjang, kemudian membantu Lisha naik ke atas ranjang. "Ansel, aku mau diapakan?" Tanya Lisha takut.


"Tidak apa-apa, dia hanya akan memeriksa kandunganmu saja. Tidak perlu khawatir, aku ada bersamamu," Ansel berusaha menenangkan Lisha.


Dokter Adiva mendekat dengan seorang Suster yang siap membantu meletakkan gell di perut datar Lisha. Suster menyelimuti Lisha dengan selimut. Kemudian meminta Lisha untuk menaikan gaunnya, Ansel turut membantu menaikkan gaun Lisha. Setelah perut Lisha terbuka, suster mulai meletakan gell khusus di perut Lisha. Gell yang berfungsi untuk menghindari terjadinya gesekan dengan alat transducer . Selain itu, gell juga berguna untuk memudahkan pengiriman gelombang suara ke dalam tubuh.


Kini, dr. Adiva mulai menggerakkan alat transducer itu di perut Lisha yang sudah sedikit membulat. Gerakan itu bertujuan agar gelombang suara yang dikirim mampu memantul kembali dan memunculkan gambar dengan baik. Tiap gema yang memantul akan membentuk gambar berupa bentuk ukuran, dari pantulan itulah yang akan membentuk gambar di layar komputer.


"Berapa Minggu, Dokter?" Tanya Lisha dan Ansel serentak. Keduanya sama-sama tak sabar ingin mendengarkan berapa usia kandungan Lisha sebenarnya.

__ADS_1


"Lebih dari sembilan minggu, Tuan, Nona." Jawab Dokter Adiva yakin setelah memastikan."


Ansel dan Lisha saling memandang dengan tersenyum bahagia. Bahkan Lisha tak dapat menahan air matanya hingga menangis terisak.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kan aku sudah mengatakan kalau dia adalah anakku," ucap Ansel menciumi kening dan bibir Lisha karena merasa begitu lega.


.


.


.


Hehehehe, Othor baca semua komenan kalian, terima kasih banyak Othor ucapkan untuk yang sudah mau komen di tiap bab😍🙏🏻


Tenang, gesss. Konflik gedeknya nggk akan bikin kalian syok, kok🙈


Nggk berat-berat amat juga, sama ajak kayak sebelumnya. Alasan Othor sebut Konflik Berat adalah karena itu akan menjadi konflik terakhir di cerita ini, kita akan masuk pada tahap penyelesaian konfliknya🤗


Kalau soal Happy atau Sad end?


Yang ikutin semua cerita Othor dari awal pasti tau kalau Othor nggk pernah bikin Sad Ending🤭 Pasti akan selalu Happy ending mau sekejam apa pun MC cowoknya🥲 Dibilang nggk adil juga bodmat🤣


Oke semua, jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, vote, dan juga hadiahnya. terima kasih banyak, lopeee readers semua😘😘😘😍

__ADS_1


__ADS_2