
"Deon, kamu tidak bercanda bukan?" Tanya Nyonya Mina memastikan.
"Benar, Nyonya. Saya tidak berbohong, Tuan sendiri yang mengatakan akan membawa Nona Lisha untuk berbulan madu ke Dubai." Jawab Asisten Deon di seberang sana.
"Ekspresi Ansel ketika mengatakan itu serius, bukan? Tidak seperti ada maksud lain dari perubahannya?" Nyonya Mina terlihat gelisah, ada sedikit keraguan di hatinya. Dia adalah Ibu kandung yang melahirkan Ansel, dia mengenal betul bagimana sikap Ansel yang kini, cukup diragukan ketika Sang Putra tiba-tiba menjadi baik dan yang pasti tak sabaran.
"Ekspresi Tuan terlihat sangat bahagia dan sepertinya Tuan sedang memikirkan hal yang romantis di sana, saya bisa melihat jelas itu di raut wajahnya yang berseri-seri." Jawab Asisten Deon jujur.
"Baguslah kalau begitu, kamu persiapkan segalanya," ujar Nyonya Mina senang, tentu dia senang. Jika Ansel membawa Lisha berbulan madu, maka akan semakin cepat dirinya memiliki seorang Cucu, kesempatan memiliki Gyn Grup akan semakin dekat kepada-nya.
"Baik, Nyonya."
Nyonya Mina menatap Lisha dengan tersenyum licik. Lisha tampak memegangi luka di tangannya yang terbuka dan berdarah akibat Nyonya Mina yang menyeretnya terlalu kuat.
"Jangan cengeng kamu, pasang sendiri perban itu dan persipakan dirimu, kita pulang seoarang juga," titahnya dengan nada ketus.
"Sekarang, Nyonya?" Tanya Lisha mengkonfirmasi.
__ADS_1
"Kalau sudah saya katakan sekarang, artinya ya sekarang!" Bentaknya membuat Lisha patuh, meraih perban lalu ia bungkus perban itu ke lukannya dengan begitu berhati-hati.
Begitu selesai bersiap-siap, Nyonya Mina pun langsung membawa Lisha keluar dari rumah sakit untuk kembali ke Mansion dan mempersiapkan segala keperluan Lisha dan Ansel yang akan berbulan madu.
Sore harinya, setelah seluruh pekerjaan di kantor telah usai. Ansel bersama dengan Asisten Deon pergi menuju rumah sakit lebih dulu, guna menjemput Lisha sekaligus memberitahu Lisha kalau dia akan di ajak ke Dubai untuk berbulan madu.
Namun, Ansel begitu panik saat memasuki ruangan rawat Lisha, pasalnya tidak ada siapa pun di sana.
"Tuan, sepertinya tidak mungkin Nona Lisha diculik. Sebentar, saya telpon Nyonya, sepertinya Nyonya sudah memawa Nona pulang," jelas Asisten Deon menjelaskan agar Tuannya tak khawatir.
"Telpon saja Mommy. Lagi pula aku juga tidak khawatir, hanya kaget saja," kilah Ansel.
"Nyonya mengatakan kalau Nona Lisha sudah dia bawa pulang, Tuan." Jawab Asisten Deon.
"Kenapa Mommy tidak menelpon kalau sudah membawa Lisha pulang, kalau mommy mengatakannya kita pasti akan langsung pulang," keluh Ansel sambil berjalan cepat keluar dari rumah sakit.
"Sepertinya faktor usia, Tuan."
__ADS_1
Beberapa menit di perjalanan pulang. Kini, Ansel telah tiba di Mansionnya. Dia segera keluar dari mobil untuk menghampiri Lisha secepat mungkin.
"Benar-benar mabuk per*wan," gumam Asisten Deon mengekor di Belakang Tuannya yang berjalan begitu cepat.
Ansel masuk ke dalam lift, lalu keluar lagi. Sepertinya dia ragu kalau Sang Ibu membawa Lisha ke kamarnya di lantai atas. Karena beberapa hari yang lalu, dia tau kalau Lisha dipindahkan ke kamar tamu.
Begitu pintu lift terbuka, Ansel kembali keluar dari dalam lift. "Ada apa, Tuan?" Tanya Asisten Deon heran.
"Kamu periksa Lisha di kamar tamu, aku akan periksa dia dia kamar pembantu." Titah Ansel mengajak Asisten Deon berbagi tugas.
"Baik, Tuan." Ansel dan Asisten Deon pun berlari berlawanan arah.
"Kenapa sepi sekali? Kemana para pelayan?" Ansel bertanya-tanya dalam hati karena heran dengan Mansion yang begitu sepi. Biasanya, di setiap sudut ruangan pasti ada pelayan yang membersihkan apa saja. Ansel semakin curiga dan berjalan dengan cepat menuju kamar pembantu yang berada di samping dapur.
Begitu tiba di kamar Lisha, Ansel langsung membuka pintunya. Lagi dan lagi Ansel tampak begitu panik karena tidak ada siapa pun di ruangan minimalis itu. Ansel juga memeriksa kamar mandi, tapi benar-benar tidak ada siapa pun di sana.
Ansel berlari kembali ke tempat semula dan bertamu dengan Asisten Deon. "Bagaimana? Lisha ada di sana bukan?" Tanya Ansel.
__ADS_1
"Tidak, ada Tuan."
"Apa!"