Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 81


__ADS_3

"Kenapa Mommy mematikan ponselnya?"


"Saya juga tidak tahu, Tuan," saut Asisten Deon


"Aku tidak bertanya padamu!' bentak Ansel karena memang sedang kesal.


"Maaf, Tuan."


Selama di perjalanan menuju lokasi meeting, Ansel merasa begitu gelisah dan tak tenang. Pikirannya hanya tertuju kepada Lisha dan calon bayinya.


"Naikan kecepatannya, Deon!" Titah Ansel tak sabar ingin tiba di lokasi meeting. Ingin segera menyelesaikan masalah proyek pembangunan resort di Pulau Mabuk Perawan, dan segera pulang untuk menemani Lisha seharian.


Namun, masalah kali ini cukup sulit. Di mana pemerintah dan pejabat di Arab sudah mengetahui tentang keistimewaan pulau itu. Mereka memberhentikan jalanya proyek dan memfitnah Ansel telah melakukan pembangunan proyek tanpa izin. Ansel harus tiba secepat mungkin guna meyakinkan para investor yang kini panik dan banyak yang ingin meminta kembali uang mereka.


Ansel harus bertindak secepat mungkin, karena dia akan mengalami kerugian hingga puluhan triliun bila gagal membangun proyek di Pulau Mabuk Perawan. Bukan kerugian materi saja yang Ansel perhitungkan, melainkan janjinya kepada Lisha tidak akan bisa terlaksana. Di mana dia berjanji akan menggandeng Lisha menuju Altar di Pulau Mabuk Perawan dan Ansel tidak akan pernah mengingkari janjinya apalagi mengecewakan Lisha.


Karena merasa tak nyaman dengan perasaan gelisah, Ansel pun memutuskan untuk menelpon ke Mansion.


"Hallo, Tuan Ansel," sambut Bibi Lili sopan.

__ADS_1


"Lisha sudah bangun belum, Bi?" Tanya Ansel langsung ke intinya.


"No-na Lisha masih tidur, Tuan," jawab Bibi Lili gugup membuat Ansel merasa curiga.


Merasa semakin khawatir, Ansel pun segera menelpon Bibi Lili langsung ke ponsel kepala pembantunya itu.


"I-iya, Tuan," ucap Bibi Lili terpaksa mengangkat panggilan video dari Ansel.


"Sekarang juga Bibi pergi ke kamar saya, saya ingin melihat langsung Lisha tidur," tegas Ansel dengan nada suara yang menekan.


"Baik, Tuan," Bibi Lili tak dapat lagi mengelak, dia pun segera masuk ke dalam lift menuju lantai atas di mana kamar Ansel berada.


Tiba di kamar, Ansel meminta Bibi Lili untuk mengarahkan ponselnya ke arah kasur. Dengan terpaksa Bibi Lili pun mengarahkan ponselnya ke arah ranjang di mana seharusnya Lisha berada.


"Baiklah, sekarang Bibi sudah boleh keluar," titah Ansel lesu.


"Apakah steak yang saya buatkan sudah dimakan olehnya, Bi?" Tanya Ansel ketika Bibi Lili sudah berada di luar kamar.


"Sudah, Tuan. Nona sudah menghabiskan Steak yang Tuan Buatkan, Nona menghabiskannya tanpa menyisakan sedikit pun di piringnya," Bibi Lili menjawab dengan lancar karena merasa begitu lega telah berhasil mengelabuhi Tuannya. Jelas yang ada di atas ranjang adalah pelayan lain yang terpaksa menyamar menjadi Nona Lisha, dengan pakaian dan rambut yang sama.

__ADS_1


"Baguslah, tolong jaga Lisha, ya, Bi," pinta Ansel merasa lega karena Lisha baik-baik saja.


"Siap, Tuan. Tuan tidak perlu khawatir," jawab Bibi Lili dengan wajah memucat.


Ansel Kemudian mematikan ponsel setelah mendengar jawaban Bibi Lili.


"Kita sudah sampai Tuan, saya akan membawa Tuan langsung dekat dengan gedung karena ada begitu banyak wartawan yang ingin meliput berita besar ini."


"Terserah padamu, yang pasti aku tidak ingin berhadapan dengan orang-orang tidak punya pekerjaan itu!"


"Baik, Tuan," jawab Asisten Deon.


"Tapi itulah pekerjaan mereka, Tuan," imbuh Asisten Deon dalam hati.


Deeerrtt!


"Siapa lagi!" Kesal Ansel langsung meraih ponselnya. Ada pesan dari nomor tak dikenal dan Ansel langsung membacanya. Tidak disangka isi pesan itu membuatnya begitu terkejut.


Bagaimana tidak, di pesan itu ada foto Lisha dan Garvin saat sedang Arab. Walau wajah dan tubuh kedua model di dalamnya memang di sensor, tetapi tatap saja Ansel meradang. Apalagi Kalimat di bawah foto itu membuat emosinya seketika memuncak.

__ADS_1


Aku mengirimkan foto itu ke Mommy-mu, kira-kira apa, ya, yang akan dia lakukan?


"Deon, Putar balik ke klinik dr. Yuna!"


__ADS_2