Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 13


__ADS_3

"Aaakh!" Teriak Lisha kala kaget dengan pintu yang dibuka dari luar, dan dia terpeleset karena lantai kamar mandi yang licin. Tubuhnya terhuyung kebelakang, beruntung pria tampan di hadapannya menangkap tubuhnya Sebelum benar-benar terjatuh ke lantai.


Lisha langsung mengalungkan kedua tanganya di leher pria itu guna menahan tubuhnya agar tak terjatuh. Pria itu juga membantu dengan memeluk erat pinggang rampingnya. Kini, keduanya saling menatap dengan posisi wajah yang begitu dekat.


Lisha membuka matanya lebar-lebar, memastikan apakah benar pria yang kini memeluknya adalah pria kusut yang hampir memperkosanya ketika di hotel.


Jika Lisha tidak melihat rambut gondrongnya yang terikat rapi, mungkin saja Lisha akan mengira bahwa pria yang kini memeluknya adalah orang yang berbeda.


Pria ini terlihat lebih tampan dan rapi dari pada pria semalam. Rambut gondrong yang terikat dengan untaian sedikit anak rambut yang dia biarkan. Kulit putih bersih dengan bulu-bulu halus yang tumbuh di dada bidangnya, semakin menambah aksen seksi pada diri pria tampan yang kini juga terus menatapnya lama.


Lisha mengumpat dirinya dalam hati, karena malah tergoda akan ketampanan pria itu. Sungguh tampan bak pengeran yang datang dari negeri dongeng.

__ADS_1


"Nikahi Putraku dan lahirkan seorang Cucu untukku. Setelahnya, kamu harus pergi yang jauh," kata-kata Nyonya Mina yang tiba-tiba terputar di telinga Lisha, gadis itu tampak meneguk salivanya kasar, memejamkan matanya sambi mendekatkan bibirnya ke bibir pria itu, lalu segera menyatukan bibirnya.


Pria itu tampak membalas ciuman Lisha, dia mengusai bibir ranum Lisha, sedangkan Lisha masih diam dan memejamkan matanya erat.


Tautan yang terjadi cukup lama hingga membuat Lisha hampir kehabisan napas. Pria itu melepaskan Lisha dengan kemudian memegang kedua bahu Lisha, dia tersenyum smirik membuat Lisha menundukkan wajahnya malu.


"Wanita Murahan," ujarnya dengan suara baritone yang sama seperti di malam itu.


Meski begitu, rasanya tetap saja sakit. Kata itu mampu menggores hatinya, meninggalkan luka yang terasa begitu perih hingga meneteskan buliran bening yang tidak dapat Lisha bendung.


"Tangisan buaya seorang wanita murahan. Berapa uang yang ibuku berikan kepadamu? Kamu kira aku suka barang bekas. Kamu kira kamu dapat menggodaku dengan berpakaian seperti ini!? Ingat, jangan kira setelah menikah kontrak denganku maka kamu akan dapat dengan mudah untuk menggodaku. Jangan harap!" Bentak pria itu lalu mendorong kasar tubuh lemah Lisha keluar dari kamar mandi. Lisha kembali terhuyung, dan kini dia benar-benar jatuh ke lantai dingin dengan ringisan wajah kala rasa sakit dia rasakan pada bokongnya yang terhentak.

__ADS_1


Braak!


Suara pintu kamar mandi yang di tutup kencang.


"Kenapa semua jadi begini? Di saat aku menginginkan dan membutuhkan dirinya, kenapa malah dia yang sekarang menolakku? Bukankah berbuat dosa biasanya mudah, lalu kenapa sekarang begitu susah. Apakah ini caramu agar aku tidak berbuat dosa, Tuhan? Kalau begitu, tolong berikan aku petunjuk untuk menyelamatkan nyawa Ibuku," ucap Lisha dalam hatinya—dengan tangisannya yang terdengar begitu pilu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2