
Perlahan Lisha bangkit, meraih tas lusuhnya, lalu mengambil pakaian tidur yang sederhana. Dengan cepat Lisha memasang pakainnya sebelum pria gondrong alias Ansel keluar dari kamarnya.
Lisha mengurungkan niatnya untuk menggoda Ansel yang kini menjadi Suami kontraknya. Mendengar kalimat yang keluar dari mulut pria gondrong itu, membuat Lisha menyadari satu hal, bahwa Ansel tidak menyukainya.
Lona, Lisha ingat nama itu, pria itu hampir memperkosa Lisha karena mengira bahwa dirinya adalah Lona. Lona mungkin adalah wanita yang Ansel cintai.
Siapa Lona? Lisha menebak kalau Lona adalah istri pertama pria gondrong itu. Tapi seperti tidak mungkin, Lisha benar-benar tidak mengerti. Bila Ansel mencintai istri pertamanya, lalu kenapa tidak suruh saja istri pertamanya mengandung anaknya. Kenapa harus dia yang menjadi korban?
Lisha memijit pelan keningnya yang berdenyut, memikirkan misteri itu membuat kepalanya pusing. Daripada memikirkan hal yang tidak pasti, lebih baik dia memikirkan dirinya sendiri, bagaiamana caranya agar dia segera hamil dan operasi Sang Ibu akan segera dilakukan. Itulah yang paling penting saat ini.
Lisha mengambil selimut dan satu bantal di atas ranjang. kemudian dia bawa ke atas sofa. Untuk malam ini, Lisha memilih beristirahat, menggoda Ansel sang pria gondrong, bukanlah hal yang mudah Lisha lakukan. Besok akan Lisha pikirkan bagaimana caranya menaklukkan hati pria gondrong seperti Ansel.
Kriet!
Pintu kamar mandi terbuka, Lisha memejamkan matanya rapat-rapat
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki itu semakin menjauh, Lisha membuka sebelah matanya. Dia melihat Ansel yang berjalan menuju lemari dengan handuk kecil melingkar di pinggangnya. Lisha menelan salivanya bersusah payah kala memerah saat melihat tubuh kekar Ansel yang setengah telanj*ng.
"Hemp!" Hampir saja Lisha berteriak kala kaget saat Ansel menyingkirkan handuk di tubuhnya. Untung saja Lisha dapat menahan teriakannya hingga tidak terdengar oleh Ansel.
__ADS_1
Tap!
Tap!
Suara langkah kaki itu semakin mendekat. Lisha merapatkan matanya, mengeratkan genggaman tangannya. Lalu kembali meneguk saliva kala wajahnya kejatuhan air yang mungkin saja berasal dari rambut Ansel.
"Cik! Berpura-pura tidur setelah puas menonton tubuhku," decak Ansel tepat di telinga Lisha. Lisha segera terbangun karena kaget sekaligus geli akibat suara baritone Ansel yang berdengung di telinganya.
"Tu-tuan, sa-saya ti-tidak—"
"Tidak apa?" Tanya Ansel mendekatkan wajahnya membuat Lisha mundur hingga mentok di kepala sofa.
"Ti-tidak me-melihat tubuh, Tuan. Sa-saya langsung menutup mata saat—"
"Berani berbohong padaku," jawab Ansel semakin mendekat dengan kedua tangannya dia letakkan di kepala ranjang guna manahan tubuhnya agar tidak menindih Lisha.
"Sa-saya—"
"Sayang sekali, padahal baju tadi sangat cocok untuk wanita mur*han sepertimu," potong Ansel membuat satu tetes buliran bening keluar dari salah satu sudut mata Lisha.
Lisha merutuki dirinya yang begitu lemah. Dia tidak ingin menjadi wanita lemah seperti pemeran wanita di sinetron-sinetron atau di novel-novel. Lisha ingin menjadi wanita yang kuat, yang tidak gampang ditindas.
Tapi apa daya, untuk menjawab pertanyaan Ansel saja dia tak sanggup karena takut. Bagaimana mungkin dirinya mampu untuk menjadi wanita yang kuat.
__ADS_1
Apalagi mendengar kata wanita mur*han yang terus Ansel juluki untuknya.
Sungguh hati Lisha hancur, dia masih menjunjung tinggi harga dirinya walau telah dia jual dengan harga murah. Tidak, tentu saja tidak murah. Baginya ini adalah harga pas bila disandingkan dengan nyawa Ibunya.
Bila hanya untuk mendapatkan uang, tentu saja Lisha akan menolak pernikahan kontrak yang hanya bertanda tangan di atas kertas, tanpa ada gaun pengantin, pesta apalagi pengucapan janji suci yang wajib dilakukan ketika menikah.
Tapi, Lisha melakukan semua ini untuk kesembuhan Ibunya tercinta, tentu saja Lisha sanggup melakukan apa pun. Termasuk menjual harga dirinya.Biarlah dia menjadi wanita mur*han, yang penting dia dapat terus bersama dengan Ibunya dalam waktu yang lama.
"Kamu menginginkan seorang anak dariku agar segera mendapatkan uang, bukan? Ayo lakukan sekarang, aku ingin melihat bagaimana caramu menggoda pria lain sebelum aku," ujar Ansel melepaskan dagu Lisha dari genggaman tangannya.
Ansel memonyongkan bibirnya bersiap mendapatkan ciuman dari Lisha. Lisha menyeka perlahan air matanya, mengehala napas, lalu menempelkan bibirnya ke bibir sensual milik Ansel.
.
.
.
.
Ansel Stewart
__ADS_1
Lisha