
Begitu tiba disebuah klinik Dr. Yuna, Nyonya Mina melirik ke kiri dan juga kanan. Setelah memastikan tidak ada siapa pun yang melihat, barulah dia memerintahkan dua orang pengawalnya untuk membawa masuk Lisha yang mulutnya masih dilakban.
"Bawa dia masuk!"
Lisha yang kembali merasakan kram di perutnya hanya dapat menangis tanpa suara. Kini, Lisha lebih memilih diam, menurut serta pasrah, setelah menyadari perutnya kram karena kelelahan akibat erus berontak. Hal itu membuat Lisha merasa begitu bersalah pada calon bayinya.
"Ansel, aku mohon selamatkan aku dan calon bayi kita. Aku mohon datanglah dan selamatkan kami," mohon Lisha dalam hati sambil melangkah terpaksa.
"Di mana dr. Yuna?" Tanya Nyonya Mina terburu-buru.
"Dokter Yuna sudah siap, Nyonya. Mari ikut saya," ajak Suster itu.
Nyonya Mina pun mengekor di belakang Suster, sedangkan Lisha diseret oleh dua orang pengawal bertubuh kekar itu hingga memasuki sebuah ruangan kecil berukuran empat kali empat meter dengan banyaknya alat-alat medis yang tertata dengan rapi.
"Lakukan sekarang dengan cepat, Yuna. Sebelum Ansel tahu dan pulang," titahnya tergesa-gesa.
__ADS_1
"Ya Tuhan, apa yang mau mereka lakukan kepadaku dan juga calon bayiku? Aku mohon lindungilah kami berdua, ya Tuhan. Ansel aku mohon datanglah," batin Lisha memohon dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Tolong baringkan Nona Lisha ke atas ranjang di sana," tunjuk dr. Yuna.
Kedua pengawal itu pun langsung mengangkat Lisha naik ke atas ranjang. Setelahnya, masing-masing mereka memegang kedua tangan Lisha, membuat Lisha tak dapat bergerak maupun berteriak sama sekali. Sedangkan sakit di perutnya semakin lama semakin parah.
Tak lama berselang, dr. Yuna mendekat membuat Lisha semakin takut. Lisha melihat sendiri bagaimana dr. Yuna meletakkan sebuah alat runcing yang siap digunakan entah untuk apa, tapi yang pasti Lisha mempunyai firasat yang buruk.
"Nyonya, tolong lepaskan dulu lakban di mulut Nona Lisha," pinta dr. Yuna sebelum memulai aksinya.
Lisha hanya mampu membulatkan matanya sempurna guna mengekspresikan keterkejutannya saat ini. Sekarang Lisha mengerti apa yang akan dr. Yuna lakukan kepadanya.
Nyonya Mina tidak percaya kepadanya, dia tidak percaya anak yang Lisha kandung saat ini adalah cucunya. Dan dia ingin melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah yang Lisha kandung adalah anak Ansel atau bukan.
Tes DNA itu dilakukan dengan cara mengambil cairan amnion atau air ketuban melalui prosedur dengan chorionic villus sampling yang akan mengambil sampel jaringan plasenta.
__ADS_1
Dan Lisha jelas tau jenis tes tersebut memiliki risiko tinggi karena bisa saja dirinya akan mengalami keguguran.
"Tidak! Dokter Yuna saya mohon jangan lakukan, saya mohon hentikan. Nyonya, Nyonya tolong saya Nyonya, saya sedang mengandung Cucu Nyonya, saya mohon percayalah," jerit Lisha terus berontak saat dokter Lisha mulai mendekat dengan sebuah alat khusus di tangannya.
Lisha berusaha menerjang-nerjang agar dr Yuna menjauh. Namun, dengan cepat Nyonya Mina menahan kedua kaki Lisha hingga Lisha benar tidak lagi dapat berontak. Lisha menangis serta berteriak sekencang-kencangnya.
Sebelum menyingkap gaun Lisha, dr. Yuna meminta dua orang pengawal untuk mengalihkan pandangan ke arah lain. Keduanya kompak melihat ke samping mereka masing-masing. Setelah aman, berulah dr. Yuna menyingkap gaun Lisha.
Dia mulai membuka penutup jarum kecil khusus yang akan segera dia tusukkan ke dinding perut Lisha.
"Tidak, dr. Yuna saya mohon jangan," Lisha menangis sejadi-jadinya, tapi tak dihiraukan oleh dr. Yuna dia terus melakukan tugasnya dengan serius dan penuh konsentrasi.
"Tenanglah Nona, tarik napas agar tidak terlalu sakit. Saya akan melakukannya dengan cepat." Ucap dr. Yuna langsung menusukan jarum itu ke perut Lisha.
"Arrrgh!"
__ADS_1