
"Bra-mu terjatuh, ini." Lisha mengangkat wajahnya menatap kaget bra-nya yang kini ada di tangan Ansel yang mengulurkan. Dengan gerakan yang cepat, Lisha merebut bra-nya di tangan Ansel. Lalu berlari keluar dari kamar karena malu.
"Ada apa dengannya?" Tanya Ansel sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.
Lisha menutup pintu kamar dengan kuat saat tiba di kamarnya, tepatnya di kamar pembantu.
"Ah, itu tadi sangat memalukan," jerit Lisha tertahan. "Aku juga melihat ularnya yang besar, astaga apa yang aku pikirkan. Lebih baik aku mandi sekarang." Lisha berjalan menuju kamar mandinya yang sumpek. Mandi dengan cepat, setelah menyudahi mandinya dan juga telah berpakaian, Lisha segera keluar dari kamarnya.
Lisha berjalan menuju dapur, kebetulan kamarnya tak jauh dari dapur. Melihat para pelayan yang sedang manata makam malam, Lisha pun berinisiatif membantu.
Tak lama kemudian, Ansel datang dan menyusul Nyonya Mina dibelakangnya. Ibu dan anak itu kompak duduk di kursinya masing-masing.
"Kalian semua boleh pergi dan makan malam di dapur, biarkan Lisha yang mengerjakan semuanya di sini." Usir Nyonya Mina kepada beberapa pelayannya. Setelah para pelayan pergi, Nyonya Mina meminta Lisha menyiapkan makanan untuk Ansel. Lisha patuh dan melakukannya dengan baik.
__ADS_1
"Siapkan juga untukku," titah nyonya Mina lagi dan Lisha kembali patuh.
Nyonya Mina dan Ansel makan dengan lahap tanpa menawari Lisha yang juga tampak kembali merasa lapar.
"Nanti Eriska akan datang, kamu temui dia, katanya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan kepadamu." Ujar Nyonya Mina membuka suara.
"Kapan?" Tanya Ansel santai.
"Dia sudah di jalan, mungkin sebentar lagi akan sampai." Jawab Nyonya Mina sambil mengunyah makanannya.
Begitu menyelesaikan makan, Ibu dan anak itu langsung pergi menuju ruang tamu. Sedangkan Lisha diperbolehkan makan malam dengan makanan sisa yang ada di meja. Lisha pun makan dengan sup yang tidak disentuh sama sekali oleh Nyonya Mina maupun Ansel. Merasa kenyang, Lisha langsung membersihkan meja. Dan membawa piring kotor ke dapur, Lisha mencuci piring itu sebelum di suruh oleh Bibik Lili.
"Piringnya biar saya yang selesaikan, Nona diminta untuk menemui Nona Eriska di ruang tamu." Kata Bibik Lili membuat Lisha bingung. Ada perlu apa Istri pertama Ansel ingin menemuinya?
__ADS_1
Karena penasaran, Lisha pun akhirnya memutuskan untuk datang ke ruang tamu di mana Eriska berada. Lisha berjalan cepat, dipenuhi pikiran yang entah ke mana.
Begitu sampai di ruang tamu, Lisha berdiri di sisi kiri Nyonya Mina. Di samping Nyonya Mina ada seorang wanita cantik berpakaian minim dan ketat.
"Jadi kamu gadis yang bernama Lisha, berapa usiamu?" Tanya Eriska tampak ramah.
"Usia saya 21 tahun, Nona." Jawab Lisha pelan.
"Bagus, jadi kamu benar-benar siap bukan, untuk mengandung anak dari Suami saya, Ansel. Ingat, setelah kamu berhasil melahirkan seorang putra untuk saya, maka kamu harus langsung pergi dan meninggalkan anak itu untuk saya dan Ansel rawat. Berdasarkan surat perjanjian yang sudah kamu tanda tangani, kamu harus melakukan itu." Ujar Eriska mengingatkan Lisha.
"Iya, Nona. Saya setuju akan hal itu." Jawab Lisha dengan berat hati.
"Bagus. Sekarang kamu pakai gaun malam ini." Lisha mengerutkan alisnya kala melihat sebuah paper bag yang Eriska ulurkan kepadanya.
__ADS_1
"Ini adalah gaun malam untukmu. Malam ini, kamu harus ikut aku dan Ansel untuk menghadiri sebuah acara. Pelayan, tolong dandani dia yang cantik." Titah Eriska pada beberapa pelayan yang berdiri di sana.