Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 42


__ADS_3

"Tu-tuan," cegah Lisha.


"Baiklah, kedua kain itu tidak akan dilepaskan," jawab Ansel mengerti perasaan Lisha yang pasti akan sangat malu.


Ansel membawa Lisha ke dekat buthub, mematikan keran air kala buthub sudah terisi setengahnya. Ansel sengaja mengisinya tidak sampai penuh, agar Lisha tetap bisa berendam, tanpa mengenai kaki, lengan, juga keningnya.


Ansel menggendong Lisha, lalu memasukkan Lisha perlahan ke dalam buthub. Lisha yang malu akan menutup dadanya dengan kedua tangan, namun kedua tangannya langsung diangkat ke atas oleh Ansel. "Tanganmu luka, tidak boleh terciprat air sedikit pun."


Lagi-lagi Ansel menggunakan jurus itu Agar Lisha mau menurut kepadanya. Lisha memandang Ansel lama, ingin sekali dia bertanya tentang, apa yang membuat Ansel berubah kepadanya hanya dalam hitungan hari? Tidak mungkin hanya karena mengetahui bahwa dirinya masih suci, Bukan?


Lisha berpikir, baginya Ansel memang yang pertama, tapi tidak mungkin bagi Ansel Lisha juga yang pertama. Pria berkuasa seperti Ansel—tidak mungkin masih perjaka diusia matang, bukan? Tentu, sangat mustahil bila saja dirinya adalah perempuan pertama bagi Ansel.


Ansel menuangkan sabun cair aroma mawar ke spons, kemudian meremasnya hingga mengeluarkan banyak busa. Ansel menghentikan gerakan tangannya yang akan menggosok punggung Lisha, terlibat wajahnya kembali dibalut kesedihan teramat dalam. "Maaf, maaf karena telah menyakitimu sebelumnya. Aku benar-benar tidak sadar Lisha," ujar Ansel tiba-tiba membuat Lisha bingung..

__ADS_1


"Maaf, maaf untuk apa, Tuan?" Lisha bertanya bukan karena berakting, tapi memang dia sepolos itu hingga tak mengerti maksud dari kata maaf Ansel.


"Maaf karena sebelumnya aku sudah menyakitimu," ujar Ansel lagi sambil menatap nanar bekas kepemilikannya yang meninggalkan ungu Lebam di punggung juga leher Lisha.


Seketika Lisha mengerti apa yang Ansel maksud, setelah dia juga melihat ada bekas kemerahan di dua gundukkannya.


"Saya tidak mengingat apa pun tentang kejadian sebelum ini. Tapi, sepertinya Tuan sangat tulus meminta maaf, tidak mungkin saya tidak memaafkan Suami saya sendiri," saut Lisha.


"Bisakah mulai mandikan saya, saya mulai merasa dingin," bohong Lisha, jelas dia berendam dalam air hangat, bahkan dia mengeluarkan banyak keringat. Tidak mungkin bila dirinya kedinginan. Lisha mengatakan itu hanya karena tak nyaman dipeluk oleh Ansel dengan keadaannya yang seperti itu.


"Baiklah," jawab Ansel mulai menggosokkan punggung Lisha begitu perlahan.


Setelah menyabuni tubuh Lisha, Ansel mulai menyirami Lisha dengan air bersih. Setelahnya, Ansel segera membantu mengeluarkan Lisha dari dalam buthub, meraih jubah mandi dan melingkarkan jubah itu ke tubuh Lisha setelah sebelumnya telah melepaskan bra dan cd Lisha dengan bersusah payah menyingkirkan nafs*nya.

__ADS_1


Ansel kembali menggendong Lisha keluar dari kamar mandi. Lalu, Lisha dia dudukan di pinggir ranjang.


"Bisa memasang pakaian sendiri?"


"Bisa, Tuan. Saya akan memakai sendiri," jawab Lisha segera merebut piyama yang sudah Ansel ambilkan.


Sementara Lisha masang piyama dengan bersusah, Ansel memilih mengambil sebuah remot di atas nakas. Remot itu dia arahkan ke dinding yang terdapat tv, lalu segera menekan sebuah tombol berwarna hijau.


Lisha yang diam-diam memperhatikan Ansel tampak tercengang kala dinding itu berputar otomatis, Ansel berjalan ke ruangan kerja di sebelahnya. Sedangkan Lisha memasang bra kebalik saking kagetnya dengan apa yang kini dia lihat. "Seperti di film-film," batin Lisha menatap punggung Ansel yang kini semakin menjauh.


***


"Ahhh, sakiitt, pe-pelan-pelann, ahh," Des*h Lisha.

__ADS_1


__ADS_2