Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 43


__ADS_3

Begitu Ansel kembali dari ruangan kerja dengan membawa kotak p3k, Lisha telah selesai mamasangkan pakainnya.


"Tuan—"


"Perbannya harus diganti, agar tidak infeksi," jawab Ansel.


"Tapi, Tuan—"


"Tapi apa?"


"Emm, dibagian lutut sangat perih karena dipaksa berjalan. Saya rasa perban itu menyatu dengan lukan saya, sepertinya perih bila perbannya di buka," jelas Lisha berharap Ansel mengurungkan niat untuk mengganti perban di kedua lututnya.


"Aku akan melakukannya pelan-pelan, aku jamin tidak akan sakit. Lukanya akan semakin parah bila tidak diganti perbannya," jawab Ansel keukeuh membujuk Lisha.


"Baiklah, tapi pelan-pelan saja," gumam Lisha akhirnya mengalah.


Lisha memejamkan matanya rapat bersiap menerima perih—kala Ansel mulai membuka lilitan perban itu.

__ADS_1


"Ahhh, sakiitt, pe-pelan-pelann, ahh," Des*h Lisha mulai merasa perih saat Ansel menarik perban yang telah menyatu dengan luka Lisha yang masih basah.


"Sabar, ya, sakitnya tidak akan lama," jawab Ansel menenangkan Lisha.


"Aw! Ahh, perih sekali," Lisha kembali meracau tak jelas.


"Sudah selesai," ucap Ansel membuat Lisha bernapas lega. "Mulai sekarang kamu tidak bolah banyak bergerak, lukannya cukup parah," sambung Ansel lagi.


"Baik, Tuan. Ah, perih sekali, perasaan saat terjauh tidak seperih ini," ucap Lisha tanpa sadar.


"Apa? Lebih perih dibandingkan saat terjatuh?" Tanya Ansel curiga, sedangkan Lisha mengutuk dirinya dalam hati karena kecoplosan. "Lisha, apa kamu sudah mulai mengingat sesuatu?"


"Lain kali berhati-hati saat berjalan, jangan terburu-buru," ujar Ansel mengingatkan. Lisha kembali memejamkan matanya rapat kala Ansel membersihkan darah di lukanya. Dingin, ngilu, juga perih Lisha rasakan.


"Aw!" Ringis Lisha saat obat merah menyatu dengan lukannya.


Lisha baru bisa bernapas lega, ketika Ansel tinggal membalut lukanya dengan perban. Begitu selesai, Ansel berdiri lalu duduk di samping Lisha. Mengambil lengan Lisha, tepatnya dibagian sikut lisha yang juga terluka. Ansel memulai ritual yang sama seperti yang dia lakukan pada lutut Lisha.

__ADS_1


Kala ini, Lisha hanya memejamkan matanya rapat tanpa Meringis kesakitan, karena luka di sikutnya tidak terlalu parah seperti di kaki juga keningnya.


"Sudah selesai, yang dikening bagaimana? Aku panggil dr. Yuna, ya?"


"Tidak perlu, Tuan. Kata dr. Yuna, luka di bagian kening baru bisa dibuka setelah tiga hari," jelas Lisha yang masih mengingat perkataan dr. Yuna.


"Baiklah kalau begitu, sekarang saatnya kita makan malam," ajak Ansel langsung menggendong Lisha perlahan. Lisha pasrah karena memang lututnya akan terasa ngilu bila digerakkan.


"Ansel Lisha, akhirnya kalian datang juga. Kenapa lama, sayang? Mommy jadi nggak nunggu lagi karena udah lapar banget," sambut Nyonya Mina saat Ansel mendudukkan Lisha perlahan ke atas kursi di sampingnya.


Dua orang pelayan sigap menyiapkan serta mengambilkan makanan untuk Ansel juga Lisha.


"Makan saja duluan, Mommy. Tadi aku sedang mengganti perban di luka Lisha," jawab Ansel sambil menunjuk makanan yang dia inginkan.


"Begitu. Oh iya, besok kamu dan Lisha jangan berangkat ke bandara barengan. Eriska mengatakan dia yang akan mengantarkanmu ke bandara, katanya, akhir-akhir ini Pamannya mulai mencurigai pernikahanmu dan Eriska, setidaknya kalian harus tunjukkan ke media kalau pernikahanmu dan Eriska baik-baik saja," jelas Nyonya Mina detail, Paman yang dimaksud adalah Paman dari Eriska sendiri yaitu Paman Nikol yang diketahui sangat ingin mengambil alih Gyn Grup dari Eriska.


"Baiklah," jawab Ansel singkat.

__ADS_1


"Mommy senang akhirnya kamu mau menerima Lisha, berusahalah buatkan Cucu laki-laki secepatnya untuk Mommy."


__ADS_2