
"Apa!"
"Iya, Tuan. Saya juga baru saja mendapatkan informasinya," jawab Asisten Deon.
"Baiklah, kita batalkan saja. Biarkan Garvin yang menang."
"Tapi, Tuan. Tuan sudah mengeluarkan banyak waktu, tenaga, bahkan uang, untuk proyek besar ini. Kalau kita menyerah begitu saja, kita akan rugi besar, Tuan. Saya akan berusaha sekali lagi agar kita bisa bertemu dengan Pangeran Arab itu," saut Asisten Deon membuat Ansel tersenyum smirik.
"Tidak perlu. Kita lihat, siapa yang akan merugi banyak," ucap Ansel dengan wajah yang menyeramkan.
"Tuan—"
"Siapkan kapal, aku dan Lisha akan makan malam di kapal," Ansel memotong ucapan Asisten Deon dengan begitu semangatnya. Mengingat Lisha yang kini masih terlelap kelelahan di kamar, membuat emosinya memudar seketika.
"Sepertinya, Tuan sudah mengalami mabuk perawan stadium akhir. Bisa-bisanya Tuan masih santai ketika Kehilangan uang triliunan, dan masih sempat-sempatnya ajak Istri makan malam romantis," oceh Asisten Deon dalam hati.
"Baik, Tuan. Akan segera saya persiapkan."
__ADS_1
"Beguslah, sekarang kamu boleh pergi." Usir Ansel membuat Asisten Deon membungkukkan badanya sembilan puluh derajat. Lalu pamit untuk kembali ke kamar hotelnya sendiri.
Setelah kepergian Asisten Deon. Kini, Ansel berjalan masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Lisha masih bergelung dalam selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Ansel memamerkan senyuman bahagianya sambil memungut handuk mini Lisha yang berserakan di lantai. Setelahnya, Ansel duduk di pinggir ranjang.
Cukup lama Ansel memandangi wajah lelah Lisha yang terlelap. "Kedepannya, mungkin aku akan kembali bersikap dingin kepadamu. Tapi, aku mohon bertahanlah, sayang. Karena semua yang aku lakukan di masa mendatang, mau buruk ataupun baiknya, semua kulakukan agar kita bisa bersama. Aku mohon, bertahanlah, bertahanlah untuk ujian yang mungkin akan lebih sulit. Satu yang pasti. Saat ini, aku memang sangatlah mencintaimu." Ujar Ansel seraya membelai lembut rambut Lisha yang terurai panjang.
Tak lama kemudian, mata indah itu mulai mengerjab. Lisha terbangun namun tak menggerakkan tubuhnya sama sekali, rasanya sangat lelah hingga dia tidak mampu untuk beringsut sedikit saja.
"Sore juga, Ansel," jawab Lisha pelan di salam sana.
"Lelah, ya?" Ansel menurunkan selimut itu perlahan.
"Hu'um," jawab Lisha jujur.
"Tidak sakit dan perih, kan?" Tanya Ansel lagi.
__ADS_1
"Sedikit perih," jawab Lisha dengan matanya yang menyipit kala menyebutkan kata sedikit.
"Bisa berjalan?" Ansel terus bertanya seakan mewawancarai Lisha.
"Bisa, tapi perlahan," jawab Lisha lagi.
"Mau dibantu mandinya?" Tanya Ansel berharap Lisha menjawab iya.
"Tidak mau, nanti akan ada ronde berikutnya," Lisha memanjangkan muncungnya membuat Ansel merasa gemes.
"Baiklah, aku hanya akan membantu membawamu ke dalam kamar mandi. Setelahnya kamu sendiri," Ansel berdiri, menyingkirkan selimut tebal yang menutupi tubuh polos Lisha. Lisha yang malu, hanya dapat menutupi bagian sensitifnya dengan telapak tangan seadanya. Lagi dan lagi, insting kelelakian Ansel bangkit. Numum, dia terpaksa harus menahan, karena tak mungkin dia tega membuat kondisi Lisha semakin memburuk.
Menyingkirkan hawa nafsunya, Ansel mengangkat perlahan tubuh Lisha hingga tiba di kamar mandi. Ansel memasukkan Lisha ke dalam buthub dengan begitu berhati-hati seakan Lisha adalah sebuah benda yang gampang rapuh.
"Selanjutnya, aku bisa sendiri," ujar Lisha kala melihat Ansel yang terus menatapnya penuh harap.
"Sayang, sepertinya olahraga di dalam air tidak akan merasa lelah. Bagaimana kalau kita mencobanya?
__ADS_1