
"Ansel, maksud kamu apa? Kenapa semua kartu Mommy kamu bekukan?" Bentak Nyonya Mina memarahi Ansel yang tengah menyuapi Lisha makan siang.
Ansel diam seribu bahasa, bingung akan melakukan dan berkata apa dengan kelakukan Mommy-nya yang sudah melampaui batas. Sedangkan Lisha mengalihkan pandangan, entah kenapa hatinya sakit setiap kali melihat wajah Nyonya Mina.
"Mommy benar-benar tidak habis pikir kepadamu, Ansel. Mommy tidak menyangka kamu lebih memihak kepada wanita murahan ini yang bahkan telah mengandung anak orang lain!" Mendengar perkataan Nyonya Mina, Lisha berusaha membendung air matanya agar tak kembali menangis.
"Berhenti bicara omong kosong, Mommy! Aku lebih tau siapa anakku dan siapa yang bukan anakku! Aku harap Mommy bisa berubah menjadi lebih baik, karena kalau tidak, aku akan membatasi semua pengeluaran Mommy," jelas Ansel membuat Nyonya Mina semakin murka.
"Mommy tidak akan percaya sebelum membuktikannya sendiri. Dan Mommy tidak takut sama sekali dengan ancamanmu, lagipula masih ada Eriska yang setiap bulan tidak pernah absen mengirimkan Mommy uang. Tidak seperti kamu yang lebih memilih wanita murahan itu daripada Mommy-nya sendiri!" Imbuhnya kembali memaki Lisha.
"Dan kamu harus satu hal Lisha—"
"Mommy hentikan!" Potong Ansel membentak.
"Apa jangan-jangan Lisha belum tau," ucap Nyonya Mina menatap Lisha dengan senyuman licik.
"Mommy hentikan, kondisi Lisha sedang tidak stabil!" Bentak Ansel mencegah Mommy-nya agar tak mengatakan hal yang belum seharusnya Lisha ketahui.
__ADS_1
"Mommy tidak peduli, Ansel. Bukankah kamu juga tidak peduli kepada Mommy. Lisha dengar baik-baik, ya. Adik kamu Cassey menghilang!"
"Mommy!" Teriak Ansel.
"A-apa?" Tanya Lisha dengan suara bergetar.
"Adik kamu menghilang dan kemungkinan diculik. Dan—"
"Lisha sayang," Ujar Ansel sambil menyentuh Lisha, namun dengan tenaga yang lemah Lisha tepis.
"Adik kamu Cassey menghilang dan Ibu kamu sudah meninggal dunia!" Ungkap Nyonya Mina membuat Lisha menggelengkan kepalanya karena tak dapat berkata-kata.
"Mommy benar-benar jahat," kata Ansel pada Sang Mommy.
"Kenapa? Apa salah Mommy? Mommy hanya mengatakan yang sebenarnya, mommy tidak berbohong, bukan? Dengar baik-baik, Lisha. Aku memang menipumu, tidak ada pendonor paru-paru yang cocok untuk Ibumu dan aku hanya menipumu dengan mengatakan akan membantu membiaya perawatan Ibumu. Tapi asal kamu tau, sakit Ibumu sudah terlalu parah. Walaupun mendapatkan donor baru, dia tidak akan dapat diselamatkan. Jadi, jangan menyalahkan aku karena hal itu, sesali saja kebodohanmu, hahaha ...." Tawa Nyonya Mina menggelegar, terlihat dia begitu senang melihat Lisha menderita.
Puas melihat Lisha bersedih, Nyonya Mina pun langsung keluar dari kamar, meninggalkan Lisha dan Ansel di dalam sana.
__ADS_1
"Tidak mungkin, itu tidak mungkin," gumam Lisha sambil menggenggam kuat rambutnya.
"Maafkan aku Lisha, aku mohon maafkan aku. Aku terlambat menyelamatkan Ibumu juga Adikmu. Aku mohon maafkan kesalahanku, aku berjanji akan menemukan Casey secepat mungkin. Aku berjanji kepadamu." Ansel duduk di pinggir ranjang. Lisha masih duduk, meringkuk dalam tangis. Menumpahkan segala kesedihan yang kini melanda dirinya.
"Kamu jahat, Ansel. Kamu jahat," ujar Lisha lemah.
"Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk menceritakannya kepadamu. Aku tidak menyangka Mommyku akan membongkar semuanya dalam kondisi sekarang ini. Aku mohon maafkan aku Lisha, aku mohon," mohon Ansel tak lagi berani menyentuh Lisha.
"Aku membencimu, Ansel. Aku membencimu."
.
.
.
Maafin dosa typonya, ya, guys. Nggk sempet revisi🙏🏻🤧 tulis publish, tulis publish. gitu aja terus, maafin ya🙏🏻🤧
__ADS_1