Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 06


__ADS_3

"Kakak, Tolong, kak!" Teriak Casey membuat Lisha kaget dan langsung berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Ada apa, Casey?" Tanya Lisha panik.


"Ibu, Kak," jawab Casey sambil menunjuk ke atas ranjang di mana Ibunya terbaring.


"Ibu, Ibu tidur sayang. Kenapa kamu malah berteriak?" Tanya Lisha sambil berjongkok menggenggam kedua bahu Adiknya itu.


"Aku sudah bangunkan Ibu dari tadi, kak. Tapi ibu belum juga bangun, hiks," ujarnya dengan titik jernih mengalir dari kedua sudut matanya.


"Benarkah," jawab Lisha langsung menghampiri Ibunya. Lalu mencoba membangunkan sang ibu yang tak kunjung membuka matanya.


"Ibu, Lisha mohon bangunlah. Ya Tuhan bagaimana ini?" ucap Lisha khawatir.


"Ayo kita bawa Ibu ke rumah sakit, kak." Suat Casey.


"Tapi—" Lisha bingung harus bagaimana lagi. Adegan ketika dia dan ibunya di usir dari rumah sakit, masih tergambar jelas diingatannya. Apalagi saat ini, dia tidak memegang uang sepeser pun, apa yang bisa dia lakukan. Membawa Ibunya ke rumah sakit juga percuma bila akhirnya harus diusir.


"Kakak kenapa diam, Ibu pingsan, kak. Kita harus bawa ibu ke rumah sakit." Desak Casey terus menangis membuat Lisha semakin bingung.


Mendapati Ibunya pingsan, bukan cuma sekali dua kali terjadi. Tapi memang sudah sering kali terjadi. Namun, Setiap ibunya pingsan, sang ibu hanya akan bisa bangun ketika mendapatkan perawatan dari Dokter. Bila tidak, entahlah, tidak bisa Lisha bayangkan akan seperti apa jadinya.


"Kak ayo!" Ajak Casey mendesak. "Bagaimana kalau terjadi apa-apa kepada Ibu, hiks," tangis Casey benar-benar membuat Lisha juga tak dapat menahan air matanya yang sedari tadi berusaha dia tahan.


"Baiklah, Sayang. Kamu tenang dulu, ya. Kakak akan ke luar sebentar untuk mencari bantuan," Casey mengangguk cepat.


Lisha langsung ke luar berencana untuk menelpon Nyonya Mina, Lisha ingat bahwa Nyonya Mina memberikannya kartu nama lengkap dengan nomor telpon yang tertera di sana.


Tidak punya pilihan lain, Lisha akan meminta bantuan nyonya Mina lebih awal. Dia akan meminta bayaran lebih dulu untuk membiayai pengobatan sang ibu.


Begitu tiba di teras gubuknya, Lisha langsung mengelurkan ponsel kuno-nya, mengetikkan nomor, menyimpan, kemudian membuat panggilan ke nomor yang sudah dia simpan.


"Hallo ny. Mina, ini saya Lisha," ujar Lisha lugas.

__ADS_1


"Kau pasti membutuhkan uang bukan?" Tanyanya dengan segala kearoganan seorang Nyonya besar.


Tidak ada jawaban lain, selain "iya" yang dapat Lisha utarakan.


"Ck! Tadi saja diancam dulu baru mau. Kamu terlalu menjunjung tinggi harga dirimu. Padahal kamu tidak ada harganya sama sekali. Lihatlah, belum 24 jam berlalu, kamu sudah menelponku ingin meminta uang. Wanita rendahan ya rendahan saja, tidak usah sok jual mahal," ujarnya merendah Lisha habis-habisan.


Glek!


Lisha menelan saliva bersusah payah, dengan segala kemurahan hatinya, Lisha mencoba untuk membuang jauh rasa sakit di hati akan hinaan yang Nyonya Mina lontarkan untuk dirinya.


"Saya mohon Nyonya, tolong Ibu saya, ibu saya membutuhkan bantuan Nyonya. Bukankah saya juga sudah berjanji untuk menuruti semua keinginan Nyonya, jadi saya mohon tolong selamatkan Ibu saya," mohon Lisha terpaksa harus menelan semua hinaan dari Nyonya Mina. Namun, rentetan air matanya terus meluncur deras.


"Baiklah, tunggu saja sebentar lagi. Aku akan mengirimkan supir ke rumahmu dan membawa Ibumu ke rumah sakit."


"Baiklah, Nyonya. Terima kasih banyak. Aku berjanji akan menuruti semua yang Nyonya inginkan," jawab Lisha sambil menyeka air matanya yang mengalir.


Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam, terparkir di halaman rumah lisha. Seorang supir berwajah menyeramkan dengan pakaian serba hitam, turun dari mobil dengan terburu-buru.


"Tuan, ibu saya ada di dalam," sambut Lisha cepat.


Begitu memasuki rumah, supir itu langsung mengangkat tubuh lemah ibu Santi yang belum juga membuka matanya. Lisha juga membawa serta adiknya bersama.


Sepanjang perjalanan, hanya tangis Casey yang mengiringi perjalannan menuju rumah sakit. Dia terus berusaha membangunkan ibunya, walau sang ibu tak kunjung bangun. Sedangkan Lisha hanya terdiam dengan pikirannya yang begitu kalut. Pikirannya jauh menerawang ke depan, memikirkan nasibnya yang akan menjadi istri kedua dari seorang CEO berambut gondrong dengan raut wajah yang begitu dingin serta arogan.


"Ya Tuhan, tidakkah takdir yang kau gariskan ini terlalu kejam. Tapi, aku akan berusaha melewati semua ini, karena kau sudah percaya padaku. Aku tidak akan terlihat lemah di hadapanmu." Batin Lisha meyakinkan hatinya untuk kuat.


Setibanya di rumah sakit, Ibu Lisha yang bernama Santi, langsung dibawa ke ruang UGD untuk ditangani. Kini, Lisha duduk di kursi tunggu di sana, sambil memangku sang adik berusaha menenangkannya.


"Kamu ngantuk, Sayang?" Tanya Lisha mendapatkan anggukan dari sang adik.


"Yasudah kamu tidur, ya," ucap Lisha lembut.


"Ibu bagaimana, kak?" Tanyanya sambil mengusap matanya yang telah membengkak karena terus-terusan menangis.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, ibu pasti akan segera sadar setelah ditangani oleh Dokter. Ini rumah sakit besar, Sayang. Jadi ibu pasti akan baik-baik saja," bujuk Lisha.


Casey yang memang telah mengantuk berat, akhirnya berbaring tak di paha Lisha sebagai bantal, tak lama, gadis kecil itu pun akhirnya terlelap.


Tanpa Lisha sadari, dia pun juga ikut ketidurran di sana.


"Nona, bangunlah," seseorang mengguncang pelan pundak Lisha.


"Ah iya, maaf Suster. Saya ketiduran," jawab Lisha kaget.


"Tidak apa-apa Nona. Oh iya, Ibu nona sudah bangun, beliau menunggu nona di dalam." Ujar suster itu ramah.


"Ibu saya sudah bangun, suster?" Tanya Lisha bahagia.


"Iya Nona, beliau terus memanggil nama nona dan adik nona," saut suster.


"Baik, suster. Terima kasih banyak." Jawab Lisha tulus.


"Dek, ayo bangun dek. Ibu sudah sadar," ucap Lisha membangunkan adiknya perlahan.


"Ayo kita temui ibu, kak." Jawab Casey sambil mengusap kasar wajahnya.


"Iya, sayang. Ayo," ajak Lisha menuntun sang adik untuk masuk ke dalam kamar di mana sang ibu di rawat.


"Ibu!"


.


.


.


.

__ADS_1


Jika reader semua menyukai cerita ini, mohon dukungannya dengan memberikan like, komen, hadiah, dan juga vote, koin juga boleh, terima kasih banyak 🙏❤️❤️❤️


__ADS_2