
"Ibu!" Teriak Casey sambil berlari.
"Sayang, maaf ibu merepotkan kalian lagi. Seharusnya tidak perlu bawa ibu ke rumah sakit." Ucap Ibu Santi lemah.
"Tidak apa-apa Ibu, ada orang Kaya yang—"
"Bos dari kantor tempat Lisha bekerja yang membantu membawa ibu ke rumah sakit. Jadi ibu tidak perlu khawatir, semua biaya pengobatan ibu akan dia jamin selama Lisha masih bekerja di kantornya." Poting Lisha menutup mulut sang adik. Kemudian berbohong kepada sang ibu.
"Benarkah sayang? Bos-mu sangat baik, kamu beruntung bekerja dengannya," saut ibu Santi dengan senyuman senang membuat Lisha merasa begitu bersalah.
"Maafin Lisha, Bu. Lisha nggk tega harus berkata jujur kepada ibu. Biarkan Lisha berbohong demi kebaikan dan kesehatan ibu. Sekali lagi mohon maafkan Lisha, Bu." Batin Lisha berucap pilu.
"Kakak, aku lapar," keluh Casey sambil memeluk perutnya.
"Iya sayang, kalau gitu kamu jagain ibu, ya. Kakak akan ke luar untuk membeli makanan."
Lisha ke luar dari rumah sakit, berjalan cepat menyebarangi jalan raya, menuju restoran besar di seberang sana.
"Ada yang bisa dibantu, Nona." Sambut seorang pelayan. Penampilan Lisha yang lumayan modis dengan dress pemberian Nyonya Mina membuatnya di sambut dengan baik.
__ADS_1
"Saya ingin membeli beberapa makanan, bisakah dibungkus?" Tanya Lisha ramah.
"Tentu, makanan apa yang nona inginkan?" Tanya pelayan itu lagi.
"Apa saja yang penting bisa dimakan," jawab Lisha cepat.
"Baiklah, silahkan duduk dulu dan tunggu sebentar," ucap pelayan lalu pergi meninggalkan Lisha yang kini duduk di sebuah kursi yang tersedia di sana.
Tak lama kemudian, seorang pelayan memberikan pesanan Lisha, dan Lisha langsung membayar dengan kartu ATM yang juga nyonya Mina berikan kepadanya.
Begitu mendapatkan makanan yang dia ingunkan, Lisha segera membawanya ke rumah sakit. Dan lagi-lagi sang adik begitu antusias menggunya di depan pintu ruang rawat sang ibu.
Lisha membawa makanan masuk, menyajikannya untuk sang adik. Sedangkan ibunya, ada makanan khusus yang disiapkan oleh rumah sakit.
"Ayo, kak. Kakak makan juga. Ini makanan terenak yang pernah Casey makan selama ini," seru Casey.
"Iya sayang, kamu makan saja ya. Setelah menyuapi ibu, kakak juga akan makan," jawab Lisha kembali menyuapi ibunya.
"Dari mana kamu dapat uang untuk membeli makanan mahal itu, nak?" Tanya sang ibu mulai curiga.
__ADS_1
"Karena kerjaku bagus, aku mendapatkan bonus dari bos. Jadi, aku bisa membeli sedikit makanan ini." Jawab Lisha lagi-lagi berbohong.
"Dosa Lisha semakin bertumpuk. Mohon maafkan Lisha, ibu." Batin Lisha.
"Jangan terlalu boros, nak. Kita tidak tau seperti apa hidup kita kedepannya. Kamu tau ibu sakit-sakit begini, mungkin umur ibu tidak akan bertahan lama. Ibu akan pergi dengan tenang bila kehidupan kamu dan adikmu terjamin." Jawab ibu Santi lemah.
"Ibu jangan bicara seperti itu. Lisha yakin ibu pasti akan sembuh. Apa pun akan Lisha lakukan demi kesembuhan ibu," jawab Lisha lugas.
"Tidak, nak. Jangan. Itu tidak benar. Lakukan semampu yang bisa kamu lakukan. Jangan pernah berbuat dosa demi ibu. Ibu tidak akan bahagia, nak. Tapi, ibu yakin padamu. Kamu putri ibu yang begitu tau mana hal yang salah dan mana yang benar, ibu percaya kamu tidak akan berbuat dosa. Maafkan ibu yang hanya bisa menyusahkanmu." Tutur ibu Santi sambil menggenggam tangan Lisha sang putri.
.
.
.
.
Jika reader semua menyukai cerita ini, mohon dukungannya dengan memberikan like, komen, hadiah, dan juga vote, koin juga boleh, terima kasih banyak 🙏❤️❤️❤️
__ADS_1