
"Silahkan Nona, ada beberapa lingerie di dalam lemari. Nona bisa gunakan—"
"Saya mengerti, Tuan Deon." Potong Lisha langsung menutup pintu kamar.
"Lingerie lagi, entah Tuan Ansel akan tergoda atau tidak. Tentu saja tidak sama seperti sebelumnya. Tapi kali ini aku harus berjuang demi kesembuhan Ibu." Gumam Lisha yang kini duduk di atas kursi meja rias. Lisha memandangi pantulan tubuh seksinya yang kembali berbalut lingerie transparan berwarna hitam pilihannya.
Dengan perlahan Lisha menyisir rambutnya. Kemudian berdiri dan duduk di pinggir ranjang. "Ibu, Tolong maafin Lisha. Lisha melakukan dosa besar ini atas keinginan Lisha sendiri. Maaf karena Lisha telah merusak harga diri Lisha sendiri. Harga diri yang sedari dulu selalu ibu jaga, maaf karena Lisha sudah menjadi anak yang tidak baik untuk Ibu. Lisha mohon maafkan Lisha." Lisha terus berusaha meyakinkan hatinya akan pilihan, pilihan yang telah dia putuskan seorang diri.
"Lona, Lona kamu di sini?" Ansel masuk tiba-tiba, Lisha yang kaget seketika berdiri. Lisha tampak linglung, namun sesaat kemudian, Lisha sadar akan tujuannya. Lisha menghampiri Ansel yang berjalan terhuyung-huyung ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu kembali Lona? Akhirnya kamu kembali, aku tau itu. Kamu pasti akan kembali kepadaku karena kamu sangat mencintaiku, sama seperti aku yang sangat mencintaimu." Ujar Ansel langsung memeluk Lisha dengan begitu eratnya.
"Siapa wanita yang bernama Lona itu? Sepertinya Tuan Ansel sangat mencintai wanita itu. Bahkan hanya wanita itu yang Ansel ingat ketika mabuk sekali pun," Batin Lisha.
Ansel melepaskan Lisha dari pelukannya, kemudian memegang kedua bahu Lisha tak kalah eratnya.
"Ayo Lisha semangat, kamu pasti bisa. Ini kesempatan emas bagimu. Tidak perlu susah payah untuk menggodanya." Batin Lisha kemudian membelai perlahan wajah Ansel.
"Aku mencintaimu, Ansel." Saut Lisha langsung dibalas senyuman kebahagiaan dari Ansel.
__ADS_1
"Aku tau itu, terima kasih sudah kembali kepadaku. Apa berpakaian seperti ini untuk menyambutku?" Tanya Ansel kembali terhuyung-huyung. Melihat itu, Lisha segera membawa Ansel untuk duduk di pinggir ranjang.
"Kamu sangat cantik dan seksi," Lisha menatap bola mata Ansel yang kini dipenuhi hawa n*fsu yang membuncah.
"Iya, aku memakai pakaian ini untuk menyambutmu. Maka, sambutlah aku dengan pembuktian cintamu kepadaku. Aku menginginkan seorang Putra darimu. Seorang Putra dari darah dagingmu, buah cinta kita berdua." Lisha berucap dengan setetes air mata yang lolos tanpa seizinnya. Dia melanjutkan akting menjadi Lona demi mencapai tujuannya.
"Itu bukan saja keinginanmu, tapi juga keinginanku, karena aku lebih mencintaimu." Sambung Ansel memegang erat kedua pundak Lisha, kemudian menjatuhkan Lisha perlahan ke atas kasur. Salah satu tangannya membelai rambut, kening, kedua mata, lalu bibir sensual milik Lisha dengan penuh cinta.
"Tuhan, kamu boleh menghukumku atas dosa ini. Aku ikhlas ...." batin Lisha memejamkan matanya kala wajah Ansel semakin mendekati wajahnya.
__ADS_1