Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 24


__ADS_3

"Sepertinya, hal yang Nyonya sebutkan tidak benar adanya. Setelah saya periksa, Nona Lisha masih aman, alias masih perawan. Dan itu artinya, semalam dia tidak tidur dengan lelaki lain." Jelas dr. Yuna


"Sykurlah kalau begitu. Bagaimana dia bisa lepas, ya?" saut Nyonya Mina heran.


"Mungkin ada orang yang menolongnya, Nyonya." Sambung dr. Yuna.


"Itu tidak mungkin, Yuna. Dia tidak punya siapa-siapa. Hanya Ibu yang sakit-sakitan, jadi tidak mungkin ada yang menolongnya," Nyonya Mina tampak ketakutan, seperti ada seseorang di masa lalu yang tidak dia harapkan kehadirannya.


"Ada apa Nyonya? Kenapa Nyonya terlihat tidak baik-baik saja?" Dokter Yuna tampak curiga pada raut wajah Nyonya Mina.


"Tidak, bukan apa-apa." Pungkas Nyonya Mina. "Lili, berikan dia makanan saat bangun nanti." Imbuhnya lalu keluar dari kamar tamu.


Tak lama setelah kepergian Nyonya Mina, dr. Yuna pun langsung pulang setelah melepaskan selang infus Lisha, dan juga sudah memastikan bahwa Lisha baik-baik saja.


"Bibik, apa yang terjadi kepadaku dan kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Lisha ketika bangun. Lisha mencoba untuk duduk dengan memegangi keningnya yang masih pusing.

__ADS_1


"Nona habis pingsan, tapi sudah diperiksa dan diobati oleh dr. Yuna. Sekarang makanlah dulu, setelahnya minum obat ini," ujar Bibik Lili sambil meletakkan dua butir obat di atas nakas.


"Baik, Bibik. Terima kasih." Jawab Lisha tulus.


"Nona dibolehkan istirahat untuk sementara waktu di kamar ini. Apa ada yang Nona butuhkan lagi?"


"Baik, Bibik. Sudah tidak ada lagi, Bibik. Saya hanya ingin ke kamar mandi. Tapi, saya bisa melakukannya sendiri." Jawab Lisha.


"Baguslah, kalau begitu saya permisi." Bibik Lili pun langsung keluar dari kamar, sedangkan Lisha turun dari ranjang dengan perlahan. Berpegangan pada dinding beton kamar, Lisha pun berhasil tiba di kamar mandi.


Tidak butuh waktu lama bagi Lisha untuk menghabiskan sepiring makanan itu. Begitu selesai, Lisha meraih beberapa butir obat yang Bibik Lili persiapkan, lalu Meminumnya bersamaan dengan sekali tegukan.


"Nyamannya, perutku sekarang sudah lebih mendingan. Sudah sore hari, aku harus segera mandi sebelum malam datang. Tapi pakaiakanku masih di kamar Pria itu, tidak mungkin aku pakai baju pembantu lagi. Lebih baik aku sana dulu, sepertinya dia juga belum pulang dari kantor." Gumam Lisha sambil berjalan keluar dari kamar, masuk ke dalam lift menuju ke lantai atas di mana kamar Ansel berada.


Ting!

__ADS_1


Lisha langsung keluar setelah lift terbuka. Lisha kembali berjalan menuju kamar Ansel. Membuka pintu perlahan, lalu segera masuk.


"Aaakh!" Teriak Lisha menutup mata dengan kedua telapak tangan karena kaget dengan keadaan Ansel yang melepaskan handuknya tepat saat dirinya masuk ke dalam kamar Ansel.


"Apa yang ingin kamu lakukan di sini?" Tanya Ansel yang kini sudah berada di depan Lisha masih dengan memakai handuk mini yang melingkar di pinggang kekarnya.


Lisha menurunkan kedua telapak tangannya. Lalu menatap Ansel ketakutan. "Sa-saya i-ingin mengambil pa-pakaian sa-ya." Jawab Lisha terbata.


"Cepat ambil!" Saut Ansel membuat Lisha berjalan cepat menuju lemarinya.


Lisha mengambil tas lusuhnya, lalu memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas. Begitu selesai Lisha kembali berjalan cepat untuk keluar dari kamar Ansel.


"Tunggu!" Cegat Ansel membuat jantung Lisha berdetak tak karuan. Meski begitu Lisha tetap berbalik badan dengan menundukkan wajahnya.


"Bra-mu terjatuh, ini."

__ADS_1


__ADS_2