
"Ayo, aku mandikan."
Lisha tercengang mendengar ucapan Ansel. Dimandikan? Yang benar saja, membayangkannya saja Lisha sangat malu, apalagi kalau sampai adegan seperti itu benar-benar terjadi.
"Ta-tapi—"
"Denga luka di kening, lengan dan kakimu, akan sulit bagimu mandi sendiri," potong Ansel. "Lukamu tidak boleh terkana cipratan air," sambung Ansel mengingatkan.
Lisha terdiam, dia kehabisan ide untuk menjawab serta menolak. Lisha tak kaget saat Nyonya Mina meminta Ansel untuk membantunya mandi, karena Lisha mengira Ansel tidak akan mungkin melakukan hal itu, karena mustahil bagi Lisha.
Namun, apa yang terjadi saat ini benar-benar membuat Lisha kaget hingga menatap Ansel dengan membulatkan matanya sempurna, tak percaya.
"Tidak perlu malu," ujar Ansel tanpa aba-aba langsung menggendong tubuh Lisha ala bridal.
__ADS_1
Lisha tak dapat memikirkan hal lain lagi, tidak lagi ada alasan untuk menolak. Lisha terpaksa mengalungkan tangannya di leher Ansel karena takut terjatuh, Ansel berjalan pelan menuju kamar mandi dengan raut wajah yang berseri-seri.
Sedangkan Lisha memilih menundukkan wajahnya, malu kala menatap Ansel yang juga menatapnya intens
Tiba di kamar mandi, Ansel mendudukkan Lisha perlahan ke atas closet. Lalu berjalan menuju buthub dan memutar kran air biasa dan air panas bersamaan. Sembari menunggu buthub jumbo itu penuh. Ansel berjalan ke arah Lisha, berdiri di hadapan Lisha yang masih diam malu.
"Tuan mau apa!" Bentak Lisha kaget. Lisha menepis tangan Ansel yang tadinya ingin membantu melepaskan pakaiannya.
"Apa kamu mau mandi dengan menggunakan pakaian? Lisha, dengarkan aku baik-baik. Aku ini Suamimu, jadi tidak perlu merasa malu terhadapku. Aku berjanji akan menahan n*fsuku, aku tidak akan melakukan apa pun kepadamu. Hanya mandi, aku berjanji hanya akan memandikanmu," bujuk Ansel berusaha meyakinkan Lisha. Lagi pula, mana mungkin Ansel tega menyentuh Lisha, dengan keadaan Lisha yang seperti sekarang ini.
Malam itu, jelas dia sudah melihat semuanya. Walau Ansel mabuk dan berhalusinasi tinggi. Tapi, Ansel tetaplah Ansel. Seorang pria dengan IQ tertinggi. Dia dapat melakukan hal yang tak mungkin sekali pun.
Dan Lisha, tak mungkin dia meluapkan bagaiamana menderitanya Lisha karena ulah bejatnya malam itu. Cintanya kepada Lona memang belum tergantikan oleh Lisha. Namun, Ansel menyadari satu hal, Lisha juga tak kalah cantik, baik, serta polosnya dengan Lona. Beberapa kesamaan itu, membuat Ansel memutuskan untuk melupakan Lona dengan memberi ruang untuk mengukir nama Lisha
__ADS_1
di dalam lubuk hatinya.
Ansel berharap dapat melupakan Lona sepenuhnya, dengan kehadiran Lisha yang punya banyak kesamaan dengan Lona. Ansel yakin akan melupakan masa lalunya secepat mungkin.
Kini, Ansel membantu Lisha berdiri, memutari Liaha dan kini berada di belakang Lisha. Ansel menyingkirkan rambut panjang Lisha, lalu menurunkan resleting itu dengan begitu perlahan.
Ansel menelan salivanya bersusah payah. Meski cinta belum bersemi apalagi bermekaran, tapi dia tetaplah seorang lelaki normal yang mempunyai gairah tinggi. Dan Lisha mampu membuat sesuatu dibawah sana menegang hanya karena memandangi punggung mulus itu.
Begitu seluruh resleting terbuka sempurna, Ansel menurunkan dress itu dengan perlahan, hingga akhirnya tergelatak di lantai.
Ansel kembali menelan salivanya yang tercekat kala melihat tubuh polos Lisha yang hanya berbalutkan bra dan cd saja.
Ansel menelusuri pundak Lisha dengan jari-jari kekarnya, sedangkan Lisha merinding merasa geli, bahkan Lisha menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena hampir melepaskan suara erotis.
__ADS_1
Ansel menghentikan penelusurannya tepat di kancing bra Lisha, dia akan melepaskan kancing itu. "Tu-tuan....