Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 28


__ADS_3

Tak berselang lama, Lisha merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya. Bibir kenyal Ansel mencium bibir atas dan bawah milik Lisha dengan begitu lembutnya, membuat gelenyar aneh Lisha rasakan hingga mampu menghangatkan hatinya.


Lisha membuka mulutnya pasrah, kala lidah Ansel masuk dan mengabsen satu-persatu deretan gigi ratanya. Setetes buliran bening kembali lolos dari kedua sudut mata Lisha.


"Aku ikhlas, aku ikhlas, aku ikhlas dan aku siap." Kalimat itu terus Lisha tuturkan di dalam hati. Rasa bersalah, tak rela, dan takut akan dosa membuat Lisha merasa sangat tertekan.



Ketika Lisha terus berperang dengan hati dan pikirannya yang tak sepilihan. Ansel mulai turun menuju leher jenjang Lisha dan memberikan tanda kepemilikan di sana.


Di tempat yang sama, dengan pria yang sama pula, Lisha kembali merasakan geli dan nikmat yang juga pernah dia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


Lisha hanya dapat mengigit bibirnya sambil memejamkan mata, guna menahan diri agar tidak melepaskan suara erotis yang bisa membuat dirinya sendiri semakin malu.


Dapat Lisha rasakan salah satu tangan Ansel mulai menurunkan lingerie transparan yang tadi dia kenakan. Dan hanya dengan sekali tarikan pada tali yang melingkar di bagian dada. Lingerie itu pun terlepas dengan begitu mudahnya. Meninggalkan bra dan juga CD yang kini melekat di daerah sensitif Lisha.


Lisha membuka mata, dapat dia lihat hawa n*fsu yang berkilat di kedua bola mata Ansel semakin membesar. Ansel memandangi lama bagian tubuh Lisha dari atas hingga ke bawah, lalu ke atas lagi, dan bola matanya berhenti tepat di wajah Lisha. Ansel tersenyum gemas melihat kedua pipi Lisha kini sudah Semerah tomat.


"Kamu siap, Sayang?" Tanya Ansel lembut bahkan sangat lembut, hingga Lisha hampir tak percaya, bahwa pria yang kini ada di atas tubuhnya, juga pria yang sama—yang kala itu hampir merengut kesuciannya secara paksa.


Tatapan mata penuh cinta Ansel panahkan tepat di hati Lisha, memberikan rasa hangat yang tiba-tiba lewat menusuk hatinya. Sayangnya, panah itu salah sasaran. Ansel salah mengenali wanitanya. Dia merasa sedang bercumbu bersama Lona, wanita yang dicinta. Namun nyatanya, wanita yang berada di bawah tubuhnya adalah Lisha. Gadis malang yang akan dia setubuhi, kemudian dia campakkan dengan begitu hina-nya.


Sungguh tragis nasib Lisha. Setelah ini, entah Ansel dapat mengingatnya atau tidak? Lisha pasrah, yang penting dia bisa mendapatkan sp*rma yang sebentar lagi akan Ansel tanamkan di rahimnya. Lisha terus berdoa dalam hati, berharap dia cepat diberikan keturunan. Walau hanya sepersekian persen saja.

__ADS_1


Lisha sadar, melakukan sekali dan langsung berhasil, mungkin hanya akan ada di dalam cerita fiksi yang sering lisha baca. Namun, tak salah dirinya mencoba, berusaha demi menyelamatkan nyawa Ibunya.


"Kenapa menangis, Sayang?" Tanya Ansel sambil menyeka perlahan rentetan air mata Lisha yang mengalir deras.


"A-aku tidak sabar. Bisakah kita segera melakukannya, aku sangat menginginkan seorang Putra darimu." Jawab Lisha mengiba.


"Tentu saja, tentu saja aku juga sangat menginginkan Putra dan Putri yang lahir dari rahimmu, yang berasal dari bibitku, Lona sayang."


"Aku siap, aku rela, aku ikhlas, Ansel. A-aku mencintaimu." Ucap Lisha tampak begitu tulus.


"Mungkinkah aku mencintainya. Aku mengutuk diriku sendiri karena mencintai pria kejam berambut gondrong ini. Kenapa mencintai begitu menyakitkan, Tuhan ....?"

__ADS_1


__ADS_2