Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 68


__ADS_3

"Istri saya kenapa, Dokter?" Tanya Ansel khawatir. Lisha yang telah sadarkan diri pun juga sangat menantikan jawaban Sang Dokter.


"Selamat, Tuan. Selamat karena Istri Tuan tengah mengandung," jawab Dokter dengan tersenyum bahagia. Berbeda dengan Ansel dan Lisha yang tampak terdiam dengan perasaan yang begitu ketar-ketir.


Lisha memang tak mengerti arti bahasa yang dokter itu katakan. Namun, dari ekspresi Sang Dokter, Lisha pun menyadari tentang apa yang selama ini dia curigai adalah benar. Ya, selama ini memang Lisha sudah mencurigai bahwa dirinya tengah berbadan dua. Tapi, sikap dingin dan ketidakpedulian Ansel, membuat Lisha selalu mengurungkan niatnya untuk mengatakan keluhanya kepada Ansel.


"Berapa bulan, Dokter?" Tanya Ansel tetap menatap Lisha.


"Perkiraan saya baru satu bulan satu minggu, Tuan," jawab Dokter cepat.

__ADS_1


Ansel mengepalkan tangannya, sedangkan Lisha kembali menjatuhkan air mata. Dokter itu tampak kebingungan kala melihat ekspresi pasangan itu. Dia pun izin pamit secepat mungkin setelah memberikan resep obat kepada Ansel.


Kini, hanya ada Ansel dan Lisha yang berada di dalam kamar. Ansel menyadarkan diri dari lamunanya, sedangkan Lisha terdiam tapi dengan air mata yang terus mengucur kian deras.


Ansel menghela napas, Lisha melihat itu. Ansel berjalan dan duduk di samping Lisha yang terbaring lemah.


"Anak aku, apa kamu lupa aku adalah Suamimu dan kamu adalah Istriku," tegas Ansel membuat Lisha dapat merasakan hatinya berdenyut nyeri.


"Satu bulan satu minggu, Ansel. Aku ingat kapan itu terjadi. Dan setelah kejadian itu kamu tidak pernah lagi menyentuhku!" Teriak Lisha dengan menggenggam kuat kedua rambutnya sambil menggelengkan kepala, seakan menolak takdir buruk yang kembali menimpanya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan Lisha? Berhenti menyakiti diri sendiri, ingat ada kehidupan lain yang juga akan menderita bila kamu begini!" Bentak Ansel berusaha melepaskan tangan Lisha dari rambutnya.


Dengan tenaganya yang kuat, akhirnya Ansel berhasil melepaskan tangan Lisha yang menggenggam rambutnya. Ansel merasa begitu sedih melihat bongkahan rambut di tangan Lisha.


"Kamu laki-laki, Ansel. Kamu tidak akan pernah mengerti betapa aku merasa begitu hina! Satu pria saja sudah cukup membuat hatiku sangat sakit, dan bertambah lagi satu pria asing lainnya. Kamu tidak akan mengerti bagaimana sakit, sedih, kecewa, dan ketidak-ikhlasan yang aku rasakan. Kamu tidak akan pernah mengerti, Ansel!" Jerit Lisha bangkit dan akan turun dari ranjang. Tapi gagal, karena Ansel lebih cepat darinya.


"Aku mengerti Lisha, aku mengerti betapa menderitanya kamu selama ini." Ucap Ansel lembut sambil memeluk erat Lisha.


"Sekarang dengarkan aku baik-baik. Aku tidak peduli bila ada pria lain yang menyentuhmu, karena bagiku, akulah pria pertama yang lebih dulu menyentuhmu. Aku juga tidak peduli mau anak itu adalah anakku atau bukan. Yang aku pedulikan saat ini hanyalah dirimu dan juga kandunganmu. Karena selama kamu masih menjadi istriku dan selalu berada di sisiku, maka aku akan menerima kamu apa adanya, aku akan menerima dengan senang hati bayi yang kamu kandung. Karena aku sangat yakin kalau dia adalah anakku, dan aku akan menantikannya. Dan satu lagi yang harus kamu tau, Lisha. Mulai saat ini, jangan pernah lagi meragukan aku, karena aku sangat mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2