Istri Kedua CEO Gondrong

Istri Kedua CEO Gondrong
Bab 61


__ADS_3

"Tapi saya hanya ingin duduk di kursi taman depan," jawab Lisha dengan raut wajah ibanya.


"Maaf, Nona. Tuan Ansel melarang Nona untuk ke luar dari resort. Bila Nona ingin duduk di sana, tunggulah sampai Tuan Ansel pulang dan dia sendiri yang akan menemani Nona bersantai," cegat pengawal membuat Lisha lagi dan lagi harus mengalah.


Sebulan sudah keduanya tinggal di resort dan sebulan pula Lisha dikurung tak lagi diperbolehkan ke luar oleh Ansel. Bahkan, Lisha di larang keluar walau hanya duduk di taman depan atau duduk di samping kolam renang belakang.


Pergerakan Lisha benar-benar Ansel batasi, hingga Lisha merasa hanya kebosanan yang menemaninya. Lisha mundur perlahan, kembali masuk ke dalam kamar. Tanpa siapa pun ketahui, dirinya menangis terisak di dalam kamar.


Lisha terus memikirkan apa kesalahan yang telah dia perbuat hingga Ansel berubah dan bersikap dingin kepadanya. Lisha tidak pernah mengerti apa isi hati Ansel sebenarnya.

__ADS_1


"Seharusnya aku tidak boleh banyak berharap pada perhatiannya, dan seharusnya aku menahan hati ini agar tidak menerima dengan begitu bahagia saat dia memberikan cinta yang palsu. Aku harusnya mengunci hati dan tak membiarkan nama Ansel terlukis. Aku seharusnya tidak membiarkan diriku mencintainya. Kalau aku tidak melakukan itu, aku pasti tidak akan terluka sedalam ini. Kenapa kamu melakukan ini kepadaku Ansel? Kamu sungguh bajingan, kamu bajingan!" Gumam Lisha menangis pilu.


Wanita mana yang tidak sedih bila diberikan harapan palus, janji yang palsu, ketulusan yang palus, bahkan cinta yang juga palsu. Lisha kecewa hingga merasa ada beban yang begitu berat menghimpit dadanya dan rasa sesak tak dapat ditahan. Kelelahan terus menangis, akhirnya Lisha pun terlelap dengan mata yang bengkak akibat tak berhenti menangis.


Sore harinya, barulah Lisha terbangun dari tidur panjangnya. Lisha memutar tubuhnya ke kiri serta ke kanan hingga menimbulkan suara gertakan seperti patahan tulang. Kemudian, Lisha mencoba bangkit, tapi entah kenapa dia merasa semakin hari berat badannya semakin bertambah, padahal dirinya hanya makan sedikit.


Sambil meregangkan ototnya yang kaku, Lisha berjalan hingga masuk ke dalam kamar mandi. Ini saatnya dia harus mandi sebelum malam tiba.


Lisha merasakan terlebih dahulu suhu air di buthub, meresa pas, Lisha masukan sabun cair aroma mawar terlebih dahulu. Kemudian berulah Lisha masuk ke dalam buthub dan berendam cukup lama hingga air kembali dingin dan dia juga merasa segar. Puas berendam, akhirnya Lisha pun melanjutkan mandinya.

__ADS_1


Lisha yang telah selesai membersihkan seluruh tubuhnya dengan spon dan sabun, langsung keluar dari buthub dan mulai membilas tubuhnya dengan menggunakan shower. Merasa telah bersih maksimal, Lisha meraih jubah mandi guna mengakhiri ritual mandinya.


Keluar dari kamar mandi, Lisha membuka lemari, mengambil piyama tapi urung dia lakukan. Malu-malu dengan pipih yang tiba-tiba memerah, Lisha lebih memilih mengambil sebuah lingerie transparan berwarna merah menyala, warna yang disukai oleh Ansel.


Lisha meneguk saliva, entah kenapa akhri-akhir ini gairah s*ksnya meningkat. Sudah sebulan Ansel tidak menyentuhnya sama sekali, membuatnya merindukan sentuhan-sentuhan itu.


Namun, Lisha kembali berpikir tentang alasan apa hingga Ansel tak lagi ingin menyentuh dirinya. Pikiran-pikiran negatif kini mulai menghampiri Lisha dan membuatnya meletkakkan kembali lingerie transparan itu ke tempat semula, dan Lisha lebih memilih mengambil piyama biasa berwarna putih. Lisha memakainya sambil menghela nafas.


Lisha berjalan menuju jendela. Lisha ingin duduk di balkon, tapi sepertinya itu juga dilarang oleh Ansel. Lisha berdiri di jendela dengan pikiran jauh menerawang ke depan. Memikirkan Ibu dan adiknya Casey, membuat Lisha meneteskan air mata rindu.

__ADS_1


"Ibu, Dek Casey, bukankah kita belum pernah bahagia selama ini? Sampai kapan Tuhan akan terus memberi jarak pada kita? Ibu, Cesey, Lisha rindu."


__ADS_2