
"Ibu jangan tinggalin Casey, ya. Cukup Kak Lisha yang pergi ninggalin Casey, Ibu jangan. Kalau Ibu pergi, maka Casey juga akan pergi."
Lisha menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan kala mendengar ucapan pilu Sang Adik yang kini mengelap wajah Ibunya dengan perlahan.
Rentetan air mata tak dapat Lisha tahan, menyaksikan pemandangan Ibunya yang terbaring lemah tak sadarkan diri membuatnya begitu sedih, dan keadaan Casey yang tampak kusut dan tak terurus membuat hatinya teriris perih.
Di usia yang seharusnya dihabiskan untuk bermain dan bersekolah. Tapi, Casey malah terjebak dalam ruangan berwarna putih berbau obat. Menemani Sang Ibu yang keadaanya kini semakin memburuk, Lisha merasa sangat bersalah dengan apa yang kini Adiknya alami. Bagaimana mungkin Tuhan tega membiarkan gadis kecil itu hidup menderita begitu cepat.
"Tuhan, dia bahkan belum remaja. Kenapa kau memberikannya cobaan hidup yang seharusnya tidak dia jalani." Batin Lisha terisak.
Lisha terus memantau Ibunya dan juga Casey dari balik pintu ruangan rawat yang sedikit terbuka. Lisha sedikit maju saat Casey berjalan menuju jendela. Lisha menepuk dadanya berharap rasa sesaknya berkurang, dia benar-benar tak tega melihat Casey yang kini menatap keluar jendela dengan tatapan yang kosong. Entah apa yang gadis kecil itu pikirkan? Tapi, yang pasti raut wajahnya menggambarkann begitu banyak kesedihan serta begitu besar kelelahan.
"Hemp!" Lisha kaget karena ada seseorang yang menutup mulutnya dan menariknya menjauh dari kamar rawat Ibunya.
"Ngapain kamu di sini, ha? Kamu jangan coba-coba kabur, ya!" Bentak Nyonya Mina pada Lisha. Ternyata, yang menyeret Lisha adalah Nyonya Mina.
"Tidak, Nyonya. Saya tidak sedikit pun berniat kabur. Saya hanya melihat Ibu dan Adik saya dari jauh," jawab Lisha jujur.
"Apanya yang dari jauh, itu namanya dekat! Kalau sampai Adik kamu lihat gimana? Mau kamu, Adik kamu yang saya jual?" Ancam Nyonya Mina membuat Lisha membulatkan mata-nya sempurna.
__ADS_1
"Jangan, Nyonya. Saya mohon jangan sakiti Adik saya, dia masih kecil dan tidak mengerti apa-apa," mohon Lisha menyatukan kedua telapak tangannya.
"Kalau begitu ayo kembali ke kamar kamu!" Ajak Nyonya Mina kembali menyeret Lisha.
***
Braakk!
"Bagaimana mungkin bisa terjadi!" Bentak Ansel setelah sebelumnya menggebrak meja.
"Maaf, Tuan. Sebelumnya, pangeran Arab sudah menyetujui kalau lokasi itu akan kita ambil alih. Saya tidak tau kenapa beliau malah memberikannya kepada orang lain," jawab manejar gugup.
Sebuah lokasi yang letaknya sangat strategis, akan Ansel bangun hotel megah dan mewah kelas atas di sana. Dan Ansel menghabiskan banyak waktunya untuk mendapatkan lokasi itu, dan tidak disangka, pangeran Arab yang sebelumnya begitu dekat dengannya, tega memberikan lokasi itu kepada pihak lain.
"Vience Grup, Tuan."
"Garvin...." ujar Ansel mengepalkan tangannya.
Tidak masalah bila lokasi itu direbut oleh pihak lain yang lebih berkuasa darinya. Namun, Ansel tampak begitu murka saat mengetahui kalau Garvin-lah yang merebut lokasi itu darinya.
__ADS_1
"Ada masalah apa dia denganku?" Tanya Ansel heran. Sebelumnya, dia dan Garvin memang saling bersaing, namun persaingan secara sehat. Entah apa sebabnya hingga Garvin banyak berubah.
"Sepertinya Garvin tersinggung dengan kejadian siang kemarin, Tuan," ujar Asisten Deon.
"Dia bukan lawanku," ucap Ansel tersenyum smirik.
"Deon,"
"Iya, Tuan."
"Persiapkan keberangkatanku besok ke Arab," Titah Ansel.
"Nona Lisha bagaimana, Tuan? Bukankah dia masih dalam kondisi yang tidak sehat," saut Asisten Deon mengingatkan.
"Akan lebih baik bila aku membawanya. Bukankah setelah menikahinya, aku belum pernah membawanya berbulan madu. Aku yakin dia akan senang, dengan begitu juga dapat memberikan terapi untuk traumannya," ujar Ansel sambil membayangkan susana romantis bersama Lisha.
"Apakah Tuan mengalami mabuk per*wan?" Tanya Asisten Deon dalam hati.
"Apa artinya senyum-mu itu?" Tanya Ansel tak suka dengan ekspresi Asisten Deon.
__ADS_1
"Bukan apa-apa, Tuan. Hanya uratnya saja yang kencang. Kalau begitu saya akan segera mempersiapkan segela sesuatu kebutuhan Tuan selama di negara itu."
"Bagus," jawab Ansel kembali membayangkan susana romantis bersama Lisha, dia seakan melupakan emosinya tantang Garvin.