
"Tuan, eh, Ansel, apakah kita akan naik kapal pesiar itu?" Tanya Lisha ragu.
"Bukan hanya naik. Tapi, kita akan menginap di sana. Bukankah menghabiskan malam romantis di dalam kapal sangatlah menyenangkan?" Jawab Ansel tersenyum penuh arti.
Lisha meneguk Saliva. "Em, iya, Ta-tapi—"
"Apa yang kamu pikirkan, Hem?" Goda Ansel.
"Tidak ada," jawab Lisha cepat.
"Yasudah ayo kita masuk," ajak Ansel dengan melingkarkan tangannya di pinggang ramping Lisha.
Malam itu, Lisha tampil begitu cantik dengan gaun malam berwarna hitam berkilau. Gaun panjang yang menutupi seluruh tubuhnya, tapi tak mampu menyembunyikan lekuk tubuhnya yang ideal. Meski Ansel sudah memilih gaun yang agak longgar untuknya.
Rambutnya yang bergelombang digerai indah, ditambah dengan makeup tipis, semakin memperkuat sosok Lisha yang cantik alami.
Ansel membawa Lisha masuk ke dalam kapal pesiar. Sepi, jelas, karena kapal itu sengaja Ansel sewa agar hanya ada dirinya dan Lisha yang ada di dalam sana.
"Wah, desain kapal ini indah sekali," ujar Lisha yang semakin takjub kala berada di bagian dalam kapal pesiar.
"Bukankah lebih indah dirimu."
"Apa?"
"Tidak apa-apa. Duduklah," ujar Ansel menarik kursi untuk Lisha.
__ADS_1
"Terima kasih," jawab Lisha tersenyum manis.
Setelah Lisha duduk, Ansel mengambil sebuah handuk yang tersedia di atas meja. Lalu dia letakkan di atas pangkuan Lisha.
"Sekarang makanlah."
"Baik," jawab Lisha mulai mencoba memotong steak lezat dihadapannya.
"Makan yang ini saja," Ansel menukar piringnya dengan piring Lisha karena melihat Lisha yang kesusahan memotong steaknya.
"Terima kasih, Ansel," ucapLisha.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak sekali, aku suka," jawab Lisha jujur.
"Kenapa? Masih malu?" Lisha menganggukan kepalanya.
"Bukankah kamu ingin segera hamil?"
"I-iya,' jawab Lisha gugup.
"Berapa uang yang Mommy janjikan kepadamu?" Pertanyaan yang Ansel ajukan kali ini membuat Lisha mengingat adik serta Ibunya yang kini tengah berjuang melawan sakitnya.
"Emm," Lisha ragu apakah harus mengatakan kebenarannya kepada Ansel.
__ADS_1
"Katakan saja, aku berjanji akan membantumu."
Lisha mengangkat wajahnya menatap mata Ansel seakan mencari ketulusan di mata tajam itu. "Apakah dia tulus?" Batin Lisha ragu.
"Apa karena Ibu juga adikmu?" Tanya Ansel membuat Lisha membulatkan matanya sempurna.
"Maaf, karena baru mengetahui masalah yang kini kamu alami."
"Maaf juga karena aku terlambat menolong Ibu juga adikmu. Aku mohon maafkan aku Lisha, aku berjanji akan membawa adikmu kembali kepadamu," Sesal Ansel tapi hanya dalam hatinya.
Ansel berdiri, memutar setengah lingkaran menuju Lisha yang ada di seberangnya. Ansel tetap bediri, kemudian membawa Lisha masuk ke dalam pelukannya. Lisha terus terisak, entah kenapa dia merasa sangat terharu saat Ansel mengetahui alasan dia menerima tawaran Nyonya Mina.
"Tenanglah, jangan menangis lagi. Berjanjilah padaku untuk selalu berada di sisiku, dan aku akan membantumu," ucap Ansel berusaha membujuk Lisha.
"Aku ingin bertemu dan melihat Ibuku kembali sehat. Dan aku juga sangat merindukan Casey adikku, aku ingin bertemu denganya," pinta Lisha menangis pilu.
"Maafkan aku Lisha, aku terlambat," batin Ansel lagi.
Ansel hanya diam dan tidak mengiyakan permintaan sederhana Lisha. Lisha menengadah menatap Ansel dengan mata berkaca-kaca. "Apakah tidak bisa?" Tanya Lisha pada Ansel.
"Tentu saja bisa. Pulang dari bulan madu, aku akan membawamu untuk menemui Ibu juga adikmu. Tapi, kamu harus hamil anakku dulu .
Lisha mengangguk cepat.
"Dah juga berjanjilah padaku. Berjanjilah bahwa kamu akan selalu berada di sisiku apa pun yang terjadi."
__ADS_1
Maaf, hanya dengan mengandung anakku, kamu bisa tetap berada di sisiku.