
Setelah kepergian Ansel, Bibi Lili pun datang dengan membawakan sarapan bergizi untuk Lisha.
"Nona belum mau bangun?" Tanya Bibi Lili meletakkan nampan di atas nakas.
"Bisa tolong bantu saya jalan ke kamar mandi, Bi?"
"Boleh, mari Nona saya bantu," jawab Bibi Lili langsung membantu Lisha hingga tiba di kamar mandi, tak hanya membantu Lisha jalan menuju kamar. Tapi, Bibi Lili juga membantu menyiapkan air hangat dan pakaian untuk Lisha. Setelah selesai mandi dan telah rapi dengan gaun cantik berwarna abu-abu, Lisha pun segera melahap sarapannya. Sedangkan Bibi Lili telah pergi karena pekerjaan lain yang menantinya.
"Enak banget hidup kamu, kerjanya cuma makan sama tidur bak seorang ratu," ketus Nyonya Mina membuat Lisha menghentikan makannya sebelum kenyang.
"Ada apa, Nyonya?" Tanya Lisha menundukkan wajahnya.
"Ayo ikut!" Nyonya Mina akan menarik tangan Lisha, namun berhasil Lisha tepis.
"Nyonya mau bawa saya ke mana? Ansel tidak mengizinkan saya keluar dari kamar, saya takut dia marah kalau tau saya melanggar," jelas Lisha menolak sopan.
__ADS_1
"Kamu berani membantahku? Rumah ini adalah rumahku dan aturan apa pun itu, aku yang tentukan. Ayo ikut!" Kali ini Lisha mengalah, Lisha berjalan dengan kesulitan saat Nyonya Mina menariknya paksa. Tiba di lantai dasar, Nyonya Mina membawa Lisha masuk ke dalam kamarnya.
"Nyonya saya mohon pelan-pelan, kepala saya pusing, Nyonya," keluh Lisha.
"Dasar wanita lemah!" Bentak Nyonya Mina mendorong Lisha hingga mendarat di gunungan pakaian yang begitu banyaknya.
"Aw!" Ringis Lisha kala merasa kram di perutnya.
"Jangan cengeng. Lebih baik, sekarang kamu setrika semua pakaian itu! Semuanya harus sudah rapi setelah aku pulang, kalau belum selesai, jangan harap kamu dapat makan siang!" Titahnya lalu meninggalkan Lisha seorang diri di kamarnya. Tak lupa Nyonya Mina berpesan kepada Bibi Lili untuk tidak memberikan Lisha makan siang.
"Kepalaku pusing sekali dan perutku juga sering sekali kram hari ini. Semoga tidak terjadi apa-apa pada calon bayiku, kita harus bertahan, ya, Sayang. Kita kuat dan kita pasti bisa. Tapi, lebih baik aku istirahat saja daripada terjadi sesuatu pada kandunganku. Lagipula, aku tidak akan mampu menyelesaikan setrikaan sebanyak ini. Ansel, andai kamu tidak meninggalkanku sendirian," Lisha memilih duduk di ranjang Nyonya Mina. Kepala yang terasa begitu berat, membuat Lisha tanpa sadar ketiduran di ranjang itu.
***
Sore harinya....
__ADS_1
"Aaaakhh!" Pekik Lisha kala kaget saat disiram dengan air.
"Bukannya menyelesaikan pekerjaanmu, tapi kamu malah enak-enak tidur di ranjangku. Dasar wanita hina pemalas tidak tau malu!"
"Aw! Sakit Nyonya," pekik Lisha sambil mengelus keningnya yang sedikit lecet karena terbentur gayung yang Nyonya Mina lemparkan kepadanya.
"Sekarang cepat pergi ke kamarmu! Ansel sebentar lagi akan pulang dan jangan lupa perbaiki penampilanmu. Awas saja kalau sampai kamu mengatakan sesuatu kepada Ansel!" Ancam Nyonya Mina mengusir Lisha keluar dari kamarnya.
Lisha pun berjalan terhuyung-huyung menuju kamarnya dengan berpegangan pada dinding agar tidak terjatuh. Begitu sampai, Lisha langsung masuk ke dalam kamar mandi dan berendam dengan air hangat.
Beberapa menit kemudian, kram perut serta pusing kembali menghampiri Lisha, Lisha ingin berdiri untuk keluar dari Buthub. Karena tak punya tenaga dia pun terpeleset dan masuk kembali ke dalam Buthub. Beruntung airnya masih penuh. Jadi, dirinya dan kandungannya dapat terselamatkan.
"Astaga, hampir saja," ucap Lisha lega karena dirinya masih baik-baik saja.
"Aw! Apakah kakiku terkilir? Bagaimana ini? Aku benar-benar tidak bisa berdiri."
__ADS_1