Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
TERIMAKASIH SUDAH MENJADI KELUARGAKU.


__ADS_3

Suasana tegang semakin terasa. Cen masih menatap Arend. Arend yang menggeleng padanya seakan memberi instruksi untuk 'Jangan melakukan sesuatu, Cen.'


Entah bagaimana, Ineke tiba-tiba meraih map yang di pegang oleh Cen.


"Ke?" Cen kaget.


Dengan gerakan cepat Ineke membuka Map itu. Ia bahkan hampir merobek sampul nya ketika hendak membukanya. Ineke membaca satu kalimat dengan huruf kapital di bagian atas. Ia hanya diam tanpa mengatakan apa pun. Tapi air matanya menjelaskan betapa hancur hatinya saat ini.


Melihat Ineke yang diam tak bergeming, dengan tatapan matanya yang kosong. Ayla mengambil alih lembaran kertas itu. Cen memalingkan muka meraup mukanya kasar. Ada penyesalan dihatinya.


'Saling cinta, tapi sama-sama tidak mau saling mengerti, hanya mau di mengerti.'


Ayla membungkam mulutnya sendiri membaca Isi surat itu. Ineke berdiri pelan, ia mulai berjalan mengarah ke kamarnya, karna tubuhnya yang sangat lemah. Ineke bahkan hampir jatuh kelantai. Untungnya Arend selalu sigap berada di sampingnya. Arend membantu membopong Ineke sampai di kamar.


Jangan tanya bagaiamana perasaan Ineke saat ini, sakit yang tak bisa di jelaskan. Hancur yang tak bisa di gambarkan. Suami yang sangat di cintai nya telah menandatangani surat Divorce disaat ia tengah hamil. Selesai sudah.


Ayla membuatkan Cen kopi. Mereka masih duduk di kursi-kursi Kayu di ruang tamu. Cen menyesap kopi yang di suguhkan.


"Sebenarnya Ineke sakit apa?"


Ayla hanya diam dan menatap ke arah Arend yang terlihat jelas dari sorot matanya ia sedang marah terhadap Cen.


"Menurutmu apa Cen? Ketika Sel telur bertemu dengan sel ******. Lalu terbentuk menjadi zigot. Dan itu yang kini ada dalam tubuh aunty."


Cen hanya mengernyitkan dahi. Ia hanyalah pria yang putus sekolah. Bidang ke ahliannya adalah bela diri dan persenjataan api. Mana paham dengan kalimat biologi yang Arend sampaikan.


"Penyakit apa itu Arend?"


Zico pun malah terlihat antusias ikut mendengarkan dan menatap ke arah Arend menunggu jawaban.


Ayla jadi malah heran dengan pertanyaan tambahan dari Cen.


"Uuffhhh." Arend mengusap wajahnya kasar.


"Ineke tengah hamil, Cen. Dia mengandung."


Cen menatap Ayla tajam mendengar ucapan Ayla. Jantungnya berdetak tidak normal tiba-tiba. Ia masih membulatkan mata tanpa berkedip.


"Dalam agama Islam. Perceraian tidak boleh terjadi saat Sang istri tengah mengandung. Itu hukumnya tidak sah."


Cen mendengarkan dengan baik setiap penuturan Ayla.


"Tidak akan ada perceraian selama 9 bulan kedepan. Kau kembalilah. Sampaikan kabar ini pada Tuan Rain. Entah dia akan menganggap ini kabar bahagia. Atau sebaliknya."


Cen hanya diam. Nafasnya menjadi berat tiba-tiba. Ia memandang kosong pada meja di depannya.


"Lantas kenapa Ineke bisa sakit?"


Cen mencari tahu apa yang tak ia mengerti.


"Itu hal wajar yang terjadi karna tubuh mengalami perubahan hormon. Kau sudah lihat sendiri bagaimana kondisi Ineke saat ini, Dia berjuang untuk dirinya dan hidup calon bayinya. Di mengalami masa sulit. Dan kau malah datang membawa lembaran kertas ini? Bawa itu kembali. Dan kau bisa membawanya lagi kemari setelah Bayinya lahir."


Ayla sudah tidak sanggup lagi, ia lantas bangkit dan meninggalkan mereka, air matanya sudah membanjir. Ia menemui Ineke yang berbaring di atas ranjang menghadap tembok.


Tidak ada Isak tangis yang terdengar darinya. Matanya kosong menatap dinding putih yang terasa dingin itu. Air matanya terus mengalir membasahi bantal. Namun tak ada suara yang keluar darinya.


Ayla menyelimuti tubuh Ineke yang terasa dingin. Ia mengelus lembut rambutnya. Ayla semakin merasa bersalah dan menyesal karna mendukung hubungan mereka pada awalnya.


Cen keluar dari rumah di antar Zico. Bahkan Arend pun bersikap tak ramah lagi padanya. Arend langsung melangkah ke halaman belakang setelah Ayla masuk ke kamar.


"Hati-hati, Cen."


Zico melambaikan tangan. Cen mengangguk. Ia membawa kembali map itu.


Cen mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, namun dalam hati dan pikirannya sedang berkecamuk.


'Ini kabar baik, kan? Iya. Ini kabar yang luar biasa. Akan hadir Rain junior yang bisa menyelamatkan hubungan mereka.'


Cen tak lagi sabar, ia menancap gas mobilnya. Setelah hampir satu setengah jam. Cen menghentikan mobilnya di sebuah kios Warung nasi pecel lele yang berada di pinggiran jalan raya tidak jauh dari jalan utama yang kiri kanannya membentang hamparan luas sawah yang indah. Namun saat ini Susana gelap gulita karna sudah malam.


Seorang pria berjas hitam dengan tubuh proporsional berdiri menghadap hamparan sawah yang luas. Ia menikmati sebatang rokok yang terselip di jari-jemarinya.


"Tuan, Rain. Saya sudah datang."


Rain berbalik. Ia membuang Rokok yang tadi dinikmatinya ke sembarang arah.


Wajah Rain terlihat sendu. Bahkan matanya terlihat jelas ia habis menangis.


Ia mengulurkan tangan meminta berkas yang di pegang Cen. Cen memberikannya.


"Bagaimana kabarnya, Cen?"


Hal pertama yang sangat ingin Rain ketahui adalah bagaimana keadaan Istrinya selama berpisah dengannya.


"Buruk Tuan, akan sangat baik jika anda menemuinya sekarang."


Rain berhenti membuka map. Ia menatap lekat mata Cen.


"Apa maksudmu, Cen?"


"Nona Ineke sedang sakit parah, Tuan."


Cen sengaja belum memberi tahu Rain tentang kehamilan istrinya. Ia ingin melihat reaksi Rain saat mendengar keadaan Ineke sebelum mengetahui kabar calon bayinya.


Rain membuka map sambil bertanya.

__ADS_1


"Sakit apa dia, Cen?"


Belum sempat Cen menjawab. Rain membulatkan mata melihat Lembaran kertas itu masih belum ada tanda tangan Ineke.


"Dia tidak menandatanganinya, Cen?"


Cen menggeleng pelan. Rain menangis tapi juga tersenyum.


"Apa itu artinya dia masih mencintaiku?" Suara Rain terdengar serak karna ia tengah menangis.


Cen mengangguk.


"Temuilah dia saat ini, Tuan. Kau bisa menjadi obat terbaik untuknya."


Rain menangis dan tertawa secara bersamaan. Ia bahkan langsung memeluk Cen dengan erat.


"Terimakasih Cen." Senyumnya melebar.


Rain dan Cen kembali masuk mobil putar arah kembali menuju desa. Senyum Rain terus mengembang. 'I Miss You, Ke. I Miss You, Really'


"Cen, cepat lah."


Cen menancap gas dengan kecepatan tinggi. Rain sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Ineke. Rain merasa sangat bahagia masih mempunyai kesempatan untuk bersama kembali dengan sang pujaan hati. Tanpa ia ketahui jika meski Ineke tidak membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu. Namun hati Ineke telah hancur sehancur-hancurnya.


...'Cepatlah Rain, jangan sampai terlambat.'...


...****************...


Ayla tengah bertelepon dengan Aryan. Aryan bilang jika kini ia tengah dalam perjalanan menuju desa. Mungkin pagi atau menjelang siang akan sampai.


Zico dan Arend sudah terlelap. Ayla mengetuk pintu Ineke setelah bertelepon dengan Aryan. Tidak ada jawaban. 'Mungkin dia sudah tidur. Baiklah, biarkan dia beristirahat dengan tenang, sudah cukup penderitaan yang dia alami hari ini.'


Ayla pun masuk ke kamarnya sendiri. Ia membaringkan tubuh, berdoa dan terlelap.


Suasana desa sudah lengang. Hawa yang sangat dingin serasa menusuk tulang, Terdengar suara-suara binatang malam khas pedesaan.


Setelah hampir melaju selama Satu jam lebih, mobil yang dikendarai Rain dan Cen telah sampai memasuki halaman rumah Ayla.


Kedua pria gagah itu membuka pintu mobil dan keluar secara bersamaan.


"Dingin sekali, Tuan Rain."


"Memang seperti ini suasananya disini, Cen. Tapi Ineke sangat menyukainya."


Cen mengetuk pintu rumah Ayla. Beberapa kali, lagi dan lagi. Arend yang datang membuka pintu.


"Kau?"


Rain hanya diam, begitu pula Cen. Arend membuka pintu lebar memberi jalan masuk pada Rain dan Cen.


Rain dan Cen masuk, Arend menutup pintu kembali.


Ayla baru bangun setelah mendengar suara pintu di buka dan melihat arend berdiri. Ayla mengenakan dress muslim panjang namun lupa memakai kerudung.


"Mah, pakai kerudung dulu."


Ayla pun melihat penampilannya dan ia kembali ke kamar.


"Aunty sudah tidur. Lebih baik kita bangunkan besok pagi saja."


Rain dan Cen hanya diam. Tapi Rain sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Ineke. Rindunya hampir membunuhnya setiap saat.


Ayla datang.


"Anda datang, Tuan Rain? Dan secepat ini?"


"Sebenarnya saya datang bersama Tuan Rain sejak awal, Nyonya Ayla. Tapi Tua Rain tidak berani untuk datang."


Rain mendelik menatap tajam ke arah Cen yang berbicara.


"Kalian duduklah dulu, biar aku bangun kan Ineke."


"Tunggu Mah, Aunty sedang tidur, biarkan dia istirahat."


Rain bangkit dari duduknya.


"Aku sangat merindukannya. Tolonglah, pertemukan aku dengannya sekarang juga."


Rain bahkan mengepalkan kedua tangannya saat ini, hilang sudah ego dan harga dirinya yang kemarin begitu tinggi. Ia melemah ketika berurusan dengan hati.


"Aunty belum makan apa pun dari pagi, Arend. Bahkan kemarin-kemarin pun makannya tidak pernah baik. Mungkin jika Tuan Rain yang membujuk, ia akan memakan sesuatu. Biar mamah bangunkan aunty."


Ayla pun melangkah. Ia mulai mengetuk pelan pintu kamar Ineke. Dan memanggil namanya.


"Ke?"


"Tok,,,, tok,,,,,


Ayla berkali-kali mengetuk dan memanggil, namun tak ada jawaban. Bahkan Zico sampai bangun karna mendengar suara Ayla yang berisik.


Arend, Rain dan Cen pun mendekat.


"Apa sudah biasanya Nona Ineke begitu sulit dibangunkan?"


Cen bertanya pada Ayla. Ayla menggeleng sebagai jawaban.

__ADS_1


"Aunty sedang sakit, Mah. Apa mungkin?"


Terdengar kecemasan dari suara dan raut muka Arend.


Rain membulatkan mata. Langsung menabrakkan dirinya ke arah pintu dengan keras. Rain berusaha mendobrak pintu.


Di bantu dengan Cen, Rain terus menendang pintu kamar Ineke bersamaan dengan Cen.


Butuh usaha keras dan berkali-kali hingga pintu itu terbuka.


Mereka semua memasuki kamar Ineke.


Ineke masih mengenakan mukena nya sejak jamaah Isya' bersama Ayla tadi. Ia terbaring di atas ranjangnya. Wajahnya terlihat sangat cantik, manis dan ayu.


Semua orang membulatkan mata melihat keadaan Ineke saat ini. Dunia terasa berhenti berputar.


"Ke?"


"Ke?"


"Aunty?"


"Aunty?"


Teriakan mereka tak lagi di dengar oleh sepasang telinga Ineke yang tengah damai dalam tidurnya.


Mereka mendekat. Rain memeluk tubuh Ineke yang lemas tak berdaya.


..."Tidaaaaaaakkkkkk."...


Tangis Rain pecah. Wajah Ineke jatuh di lengan kiri Rain.


"Aunty?"


Arend pun menangis dan memeluknya dari arah punggungnya, sedangkan Ayla dan Zico memeluk Ineke di bagian kakinya.


Cen hanya berdiri mematung dengan air matanya yang terus menetes.


..."Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhh"...


Rain hanya bisa berteriak sekeras-kerasnya.


Darah segar membasahi kasur, Ineke memotong sendiri nadi tangannya.


...'Bukankah sudah ku katakan jika aku tak sekuat itu?'...


"Jangan menguji kesabaran seseorang, apa lagi bermain-main dengan hatinya. Karna kita tidak pernah tahu seberapa kuat mentalnya. Orang akan mengatakan dia berlebihan. Tapi bagaimana dia bisa mengerti? Sedangkan ia sendiri tak sedang berdiri di atas pijakan yang sama. Dengan daya tubuh yang Sama."


...****************...


**Kadang hitam, seperti malam yang sunyi


Kadang putih, seperti sinar mentari.


Kadang semu, seperti malam kelabu.


Kadang tenang, mengalir seperti air.


Jalannya pasti berliku.


Bercabang, kadang buntu.


Kucoba semua semampuku.


Hanya doa yang membantu*.


[Sara Wijayanto. ~ Hidup]


...****************...


"Kau tahu Ay? Kau adalah sahabat terbaik yang aku punya. Kau bahkan lebih dari itu. Kau adalah satu-satunya keluargaku. Terimakasih Ay. Telah hadir dalam hidupku." Ineke.


Ayla tersenyum.


" Jika aku yang mengalami nasib seperti mu ini, aku tidak akan mampu menanggungnya, Ay. Aku pasti akan mengakhiri hidupku sendiri. Kau sangat kuat Ayla. Kau sangat hebat." Ineke.


Suara Ineke selalu terdengar riang dan renyah dulu.


"Aunty. Terimakasih karna sudah menjadi Aunty-Ku." Arend.


"Uuuhh,,, harusnya Aunty yang berterimakasih. Terimakasih karna sudah menjadi Keponakan Aunty." Ineke.


"Terimakasih karna sudah menjadi keluarga kita, Ke." Ayla.


Ayla, Arend dan Ineke sedang duduk di garis petakan sawah orang, menunggu kail Arend bergerak mendapatkan belut.


...****************...


...~THE END~...


Novel yang menceritakan kisah Arend dan kisah Zico sudah terbit. Judul Love and Life.


Author minta maaf πŸ™πŸ™πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ˜­πŸ˜­πŸ€§πŸ€§πŸ’”πŸ’”


Nanti akan ada kisah Remaja Arend, dan Zico Di Novel yang lain. πŸ™πŸ™πŸ˜”πŸ˜­πŸ’”

__ADS_1


Maaf...... πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜­πŸ˜­πŸ€§πŸ€§πŸ€§πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Untuk menemani waktu santai. Silahkan baca Novel saya The Love Of Nara. Genre 21++. πŸ™


__ADS_2