Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
KEJUTAN & KEMARAHAN


__ADS_3

Senja mulai menghilang, berpamitan membawa sang Surya untuk pulang. Semilir angin sepoi yang sejuk mengiringi sore yang damai.


Ayla dan Aryan tengah di rumah setelah kesibukannya tadi di rumah Pak Kiyai Umar. Mereka habis membersihkan diri dan menunaikan shalat asar.


Ayla menggulung rambutnya ke atas. Memakai dress muslim panjang. Ia mempersiapkan menu makanan di dapur untuk makan malam keluarganya. Sederhana saja. Hanya nasi putih, sambel, dan telor dadar.


Aryan merengkuh tubuh istrinya dari belakang yang tengah menata makanan yang sudah siap di atas meja. Dengan nakal Aryan mulai menghirup aroma leher Ayla yang mengg_-a*irahkan.


Ayla bergerak lembut karna sensasi geli yang ia rasakan. Aryan terus melanjutkan aksinya mera_-*ngsang Ayla.


"Maaas!". Lirih Ayla pelan.


"Ayo, Ay.!"Ajak Aryan.


"Mass? Mereka akan segera pulang.?". Ayla menghadap Aryan mencoba menghentikan aksi nakal sang suami.


Senyum Ayla sangat manis. Membuat Aryan tidak bisa menahan untuk tidak menikmatinya.


Aryan mendekatkan wajahnya, ia menautkan bibirnya pada bibir Ayla tiba-tiba. Tangan kirinya dengan kuat merengkuh pinggang Ayla. Dan tangan kanannya mengelus wajah Ayla.


Ayla pun hanyut dalam permainan sang suami. Ia bahkan memejamkan mata dan terdengar mend_-*esah.


..."Emmphh"...


Aryan meneruskan kenakalannya. Ia mengeksplor bagian dalam bibir Ayla, semakin dalam. menyesap, dan membel_-itkan lidah.


"Aku sangat merindukanmu, Ay." Suara Aryan terdengar sangat berat karna menahan naf_-*su nya yang tengah tinggi.


Tangan Aryan yang semula mengelus wajah Ayla berpindah ke area bawah. Ia menge_-lus dan menggesek bagian itu dengan sangat lembut dan tenang.


Ayla kembali mende_-*sah. Pikirannya sudah Diatas awang-awang.


"Aaaahhh.!" Ayla mele_-*nguh.


Aryan mulai menjelajahi leher Ayla, meninggalkan tanda merah di sana. Rambut Ayla terurai dari gulungan.


Saat semuanya tiba-tiba terhenti karna suara Zico yang berteriak mengucapkan salam masuk kedalam rumah.


..."Assalamualaikum,,, Mamah.! Kami pulang.!"...


Sontak saja Ayla dan Aryan menghentikan aksi mereka. Dengan cepat Ayla mencoba merapikan diri.


"Aaahh". Aryan berdecah kesal. Ia merasa sudah di ujung dan kepalang tanggung.


..."Mah, kita udah dapet jagungnya.!"...


Ayla tersenyum mendengar Zico yang berseru antusias, berhenti menghampiri mereka.


..."Iya, kamu bersihkan diri dulu. Udah mau Maghrib ini. Yang lain mana?"...


..."Masih di luar mah."...


Zico berhambur kedalam kamar. Ia lantas berlari ke belakang menuju kamar mandi. Arend terlihat masuk kedalam rumah. Melewati Ayla dan Aryan yang tengah berada di meja makan.

__ADS_1


..."Assalamualaikum, Mah."...


..."Wa'alaikum salam,"...


Arend menyalim tangan Ayla dan Aryan dengan khidmat. Lalu ia pun sama halnya seperti Zico. Masuk kedalam kamar dan ke belakang untuk membersihkan badan di kamar mandi.


Ayla melangkah, ia hendak menemui Ineke yang masih di luar. Mungkin membersihkan jagung dari kulitnya.


..."Ay, pakai kerudung dulu. Ada Tuan Rain."...


Ayla melebarkan senyum melihat Aryan. Lalu mengangguk. Aryan memukul kursi pelan setelah Ayla masuk kamar. Ia masih kesal karna libidonya yang tak tersalurkan.


Di halaman luar depan rumah sudah ada Ineke, Rain, Aaron dan putri nya yang cantik yang ikut mampir setelah di minta Ineke.


Ineke menggelar karpet besar di halaman rerumputan yang sudah di bersihkan itu. Aaron membantunya. Rain melihatnya kesal. Ineke masih marah padanya tapi dia malah bersikap ramah pada pria lain. 'Dan itu, apa? Senyumnya? Kenapa harus di lebarkan semanis itu?'


...****************...


Putri Aaron duduk di atas karpet yang sudah di siapkan. Ineke membuka karung, mengeluarkan jagung dari sana. Dan Aaron masih setia membantu. Rain mematung duduk di anak tangga teras depan rumah. Ekspresinya menunjukkan jika ia sedang kesal.


Aryan keluar duluan. Ia melihat Rain yang tengah duduk di anak tangga, sedang di halaman Ineke tengah mengupas jagung bersama seseorang, seorang pria. 'Siapa dia?' Bukankah para Bodyguard sudah pada pulang?.'


Aryan duduk di sebelah Rain. Untuk sesaat ia melihat wajah Rain lekat. 'Dia sedang kesal.'


"Khem.?" Aryan berdehem pelan. Rain menoleh kearahnya, saking fokusnya melihat Ineke. Ia sampai tak menyadari jika Aryan sudah duduk disana.


..."Kau disini sendirian? Dan istrimu ada disana dengan seorang pria? Ha ha."...


Suara Aryan terdengar seperti ejekan.


Aryan tersenyum senang mendengar ucapan Rain. Bukankah itu lucu?


..."Ha ha ha ha." Aryan tertawa pelan....


..."Tapi siapa dia, Tuan Rain?"...


Rain hanya menggeleng. Ia tak mengingat lagi namanya.


Ayla keluar dari rumah. Ia melihat para suami yang duduk-duduk di anak tangga. Ia tersenyum dan melewati mereka.


..."Kok malah pada diem disini, bukannya bantuin Ineke?"...


Ayla turun dari tangga teras, melangkah menuju halaman dimana Ineke tengah duduk di atas karpet mengupas jagung bersama Aaron.


..."Banyak benget, Ke. Jagungnya."...


Ayla berseloroh tenang. Ia belum menyadari adanya Aaron disana yang memang hanya nampak punggungnya karna duduk berhadapan dengan Ineke.


Ineke bangun begitupun Aaron. Ineke melebarkan senyumnya dan Ayla mendekat sampai di depan mereka. Aaron membalikkan badan dan tersenyum cerah.


Seketika senyum Ayla menghilang. Tatapan matanya membulat, namun terlihat jelas ada keharuan. Mata Ayla berbinar dan berkaca-kaca.


Seseorang yang pernah sangat di cintai nya dulu yang terpaksa berpisah karna perbedaan keyakinan agama. Hari ini kembali di pertemukan saat semuanya sudah berbeda.

__ADS_1


..."Kak Aaron?"...


Aryan yang tengah duduk bersama Rain pun sontak berdiri. Ia membulatkan mata. Rahangnya mengeras tiba-tiba. Terlihat jelas kilat emosi di matanya. Rain sampai kaget dan ikut berdiri.


"Aaron?." Lirih Aryan dengan nada kesal.


..."Kau mengenalnya, Tuan Aryan?."...


Aryan mengangguk tegas dan deru nafasnya berubah tiba-tiba.


..."Apa kabar Ayla?"...


'Suara itu? Masih sama seperti dulu. Bahkan tatapan mata dan senyum itu? Oh tuhan? Bagaimana engkau memahat makhluk semanis dia.?'


Ayla mengangguk kan kepala beberapa kali.


..."Baik."...


Aryan melangkah mendekat. Ia menarik lengan Ayla hingga kini tubuh Ayla berada di belakang tubuhnya.


..."Apa yang kau lakukan disini?"...


Emosi Aryan yang memuncak tiba-tiba membuatnya marah dan mencengkeram kerah jaket Aaron dengan kedua tangannya.


..."Papah.?"...


Putri Aaron berdiri memeluk tubuh papahnya. Jelas saja ia merasa takut. Berada di tempat baru dengan orang-orang baru dan Ayahnya diperlakukan dengan tidak baik.


Aryan melihat kearah anak perempuan yang cantik itu. Ia merasa bersalah. Aryan lantas melepas cengkraman tangannya. Ayla dan Ineke hanya diam karna kaget. Rain masih memperhatikan mereka dari tangga teras.


"Papah?". Kembali Putri Aaron berlirih memanggil Aaron dan memeluk tubuhnya.


..."It's okay honey. Dia Uncle Aryan. Sahabat lama Papah."...


Aryan membulatkan mata mendengar ucapan Aaron. 'Sahabat apanya?' Tapi Aryan tak bisa berbuat banyak. Karna Aaron tengah bersama seorang anak gadis kecil saat ini.


Ayla meraih tangan Aryan lembut, Aryan melihat kearahnya, terlihat ekspresi wajah Ayla memelas. Dan Ayla menggeleng pelan.


'Sudahlah, lagi pula itu masa lalu. Dan dia juga sudah menikah. Bahkan kini dia datang dengan putri kecilnya.'


..."Tuan Aryan?"...


Ineke bicara pelan. Ia tidak berpikir sejauh ini. Ineke hanya merasa senang karna bertemu dengan orang lama yang pernah dekat. Aryan memalingkan muka, tapi amarahnya mulai reda.


..."Apa kabar, Aryan?"...


Aaron mengulurkan tangan. Aryan melihatnya, lalu melihat putrinya yang juga melihat kearahnya. Jelas terlihat di manik Putri Aaron jika kini ia tengah merasa ketakutan.


Aryan pun memilih untuk menerima uluran tangan Aaron.


"Baik." Aaron tersenyum mendengar jawaban Aryan. Dan terlebih dia juga menerima jabat tangannya.


Beda halnya dengan Rain yang masih mengerutkan kening memperhatikan semakin dalam dengan adegan yang terjadi di halaman.

__ADS_1


...'Siapa dia? Apa hubungan mereka?'...


...****************...


__ADS_2