
Malam Darurat Arend dan Zico
Arend telah selesai membuat api. Ia mengeluarkan makanan yang tersisa di dalam Ranselnya. Ia memberikannya pada Zico.
..."Makanlah."...
..."Kamu?"...
..."Nanti saja, di tas masih ada.!"...
Arend kembali melihat kaki Zico, sekarang bengkaknya terlihat semakin parah, ia kembali mengolesi minyak di kaki Zico.
..."Bagaimana rasanya sekarang?"...
..."Masih sakit."...
..."Apa tubuhmu terasa panas? Atau kedinginan?"...
Zico menggeleng.
..."Arend, kamu sebenarnya sangat menyayangiku kan?"...
Arend mensedekapkan tangannya dan memejamkan mata. Ia membaringkan tubuhnya di dekat api. Zico masih duduk berselonjor kaki.
..."Arend, kamu juga sebenarnya suka kan sama papah?"...
Cetakan kulkas masih tak bergeming.
..."Aku tidak tahu, kenapa aku bisa merasa begitu sayang padamu Arend. Aku tidak pernah merasa kalau kau membenciku, atau tidak menyukaiku."...
..."Arend, kita adalah sepasang saudara yang hebat. Iya kan?...
..."Arend. Arend.!"...
Zico mencoba membangunkan Arend yang hanya berpura-pura tidur di sampingnya. Zico masih menggoyang-goyangkan badan Arend.
..."Arend, kau beneran sudah tidur? Kau pasti sangat lelah karna menggendongku dan membawa dua tas ransel sekaligus tadi. Kau sangat hebat Arend. Kau kuat. Aku ingin bisa seperti mu."...
Arend mendengar semua perkataan-perkataan Zico, tapi ia enggan untuk menjawabnya, seperti biasa. Cetakan Kulkas.
..."Arend, aku melihat ada orang."...
Seketika Arend bangun.
..."Dimana?"...
..."Itu, disana!"...
Zico menunjuk ke arah tepi jurang. Arend tak melihat ada siapapun disana. Ia kembali memejamkan mata dan membukanya. Tetap sama. Tidak ada siapapun disana.
..."Iya, biarkan saja, mungkin itu tempatnya. Ayo kita masuk tenda, apinya sudah meredup, dan semakin dingin."...
..."Kenapa kita tidak memanggil dan meminta pertolongan darinya?"...
..."Sudahlah, kita berdoa saja kepada Allah agar segera di selamatkan. Sekarang tidurlah."...
Zico sudah terlelap. Arend masih gelisah. Tapi ia mencoba untuk memejamkan matanya, hingga mereka melewati malam Darurat itu dengan tenang.
...****************...
__ADS_1
Arend bangun sangat pagi sekali, Zico masih tidur dalam tenda.
Arend mengumpulkan batu dan batang kayu yang ada, ia mencoba merangkai batu dan kayu itu menjadi nama nya.
Zico berteriak memanggil dari arah dalam.
..."Arend"...
..."Iya ada apa?"...
Arend segera datang.
..."Mau pipis."...
Arend membantu Zico bangun, Zico semakin tidak tahan dengan sakit yang di rasakan di kakinya. Arend menyuruh Zico naik ke punggungnya.
Zico terlihat semakin pucat, dan berkeringat dingin. Dia terus merintih kesakitan.
Arend akhirnya mengangkat Kaki Zico yang sakit lebih tinggi dengan tumpuan dua tas ransel. Itu bertujuan agar aliran darahnya kembali membaik.
Setelah Zico terlihat lebih tenang dan tidak lagi merintih. Arend kembali memberikan Roti kemasan dari ranselnya untuk Zico. Arend melihat Air persediaan mereka tinggal sedikit, mungkin tidak sampai 200 ml. Itu membuat Arend sedikit cemas.
..."Makanlah."...
..."Kamu?"...
..."Sudah tadi."...
...****************...
Sekitar jam 7 pagi terdengar suara beberapa helikopter dari arah luar. Aryan keluar dan bicara lewat ponselnya.
..."Terimakasih Kapten, mereka sudah tiba."...
Penyisiran demi penyisiran di lakukan. Jalur darat terbagi menjadi 10 kelompok dengan satu tim kelompok beranggotakan 10 orang.
Baik dari BASARNAS, TNI, POLRI dan badan lainya.
Heli heli mulai penyisiran lewat udara.
Sekitar Pukul 11, karna matahari juga sudah siang. Arend mendengar suara helikopter mendekat. Ia lantas berdiri. dan benar saja dari kejauhan nampak sebuah heli AU MA-17.
Arend segera mencari baju di ranselnya yang berwarna mencolok. Ia Ter ingat ada bendera merah putih, Arend lantas mengibar-ngibarkan Sang Saka itu. Zico sudah merasa sangat senang. Dia sampai menangis.
Hanya dalam hitungan detik heli itu mendekat. Dan Arend masih terus mengibarkan benderanya.
Kapten Pilot menghubungi Tim nya, 2 helikopter lain datang mendekat.
..."Waaah, keren!"...
Arend tersenyum tulus melihat ekspresi Zico yang bahagia.
Seorang tentara mencoba turun dari heli menggunakan tangga evakuasi.
Akhirnya Arend dan zico satu persatu berhasil di evakuasi dengan selamat menggunakan heli.
Kabar cepat sampai pada Tim SAR darat, dan Ranger yang berada di pos registrasi.
Ayla dan Ineke menangis bersamaan. Mereka saling berpelukan. Begitu pula dengan Ranger lain yang bersorak, serta seluruh anggota Tim SAR.
__ADS_1
Air mata Aryan tumpah meski mulutnya terkunci rapat. Dion juga terlihat menangis.
Tapi bagi Dion, tatapan Aryan masih sama mengerikannya.
...****************...
Pilot memberi kabar pada Kapten jika salah seorang korban mengalami patah tulang di kakinya, akan berbahaya jika semakin banyak pergerakan.
Atas saran Pilot, Arend dan Zico di terbangkan ke kota. Karna heli tidak bisa mendarat di desa itu. Aryan dan Ayla setuju.
Kini, Ayla, Aryan, Ineke, dan Dion berangkat langsung ke kota.
Sebelumnya, Aryan sangat berterimakasih kepada semua TIM. Sebagai rasa terimakasihnya ia memberikan imbalan dengan nominal yang sangat besar.
'Jika ini tentang Bisnis. Saat ini Aryan mengalami kerugian besar'
...****************...
Setibanya di rumah sakit, Arend dan Aryan langsung mendapatkan perawatan.
Arend terlihat sehat, hanya beberapa luka kecil seperti goresan, atau memar karna otot pegal dan aliran darahnya yang kurang lancar.
Sedangkan Zico, dia masih belum sadar, Dokter sengaja memberikannya obat bius dengan dosis tinggi untuk mengurangi rasa sakit. Dan supaya tenaga Zico cepat pulih.
Kaki Zico mengalami patah tulang, tapi tidak sampai harus melakukan operasi. Cukup dengan pengobatan dan istirahat total.
...****************...
Setelah berbicara pada Dokter, Aryan masuk ke ruangan dimana kedua putranya di rawat.
Ayla sebenarnya terlihat takut. Begitu juga Ineke, apalagi Dion.
Ayla langsung berdiri pasang badan. Dia tidak akan rela jika sampai Aryan memarahi apalagi memukul putranya Arend.
Ia menghalangi jalan Aryan dan membentangkan tangannya agar Aryan tidak mendekat.
..."Kalau kau ingin marah, marah saja padaku. Aku, aku yang tidak bisa mendidiknya dengan benar. Kalau kau ingin memukul, Pukul saja aku, aku, aku akan menerimanya."...
Ayla sudah memejamkan mata begitu takut.
'Apakah nanti pukulannya akan sangat sakit.'
Aryan meraih tubuh Ayla kedalam pelukannya, ia mengecup kening Ayla begitu lama dan dalam.
..."Kamu adalah Ibu terhebat di dunia."...
Aryan lalu mengecup seluruh area wajah Ayla. Dion dan Ineke hanya menonton tak berani berkomentar.
..."Kamu melahirkan anak yang luar biasa, Ayla."...
Kini Aryan mendekati Arend. Tangannya yang sebelah masih tetap menggandeng tangan Ayla.
Aryan ingin mencium kening putranya. Namun Arend menarik selimut menutup seluruh tubuhnya hingga ke kepala.
..."Aku mau istirahat, aku ngantuk. Bisakah kalian keluar dan membiarkanku tidur?"...
Ineke menahan tawanya. Dion tak berani melakukannya. Ia tahu jika Bos nya masih dalam mode marah besar padanya. Dan dia pasti akan mendapatkan hukumannya sebentar lagi.
Mendapat penolakan, Aryan hanya bisa mengelus bagian rambut Arend yang masih terlihat.
__ADS_1
..."Papah bangga padamu Arend, Dion. Ikut saya keluar."...
...'Habislah riwayatku.'...