Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
RENCANA MENDAKI GUNUNG


__ADS_3

Dion dan Ineke telah sampai di rumah. Ayla terlihat memangkas rumput di halaman depan rumahnya.


Arend dan Zico tengah membuat api di halaman yang sedang di pangkas rumputnya oleh Ayla.


Mereka akan membakar Belut hasil tangkapan hari ini.


Aryan terlihat duduk di tangga depan teras rumah barunya, sambil merokok, pandangannya tidak pernah lepas dari Ayla.


Suasana di pedesaan di bawah lereng gunung itu sangat sejuk, terasa sangat damai, orang-orang yang lewat berlalu lalang saling bertegur sapa.


Ineke memberi salam, Ayla menjawab, lalu langsung melesat masuk kedalam hendak mandi.


..."Tuan!"...


..."Kau baru sampai Dion."...


..."Iya tuan, tadi ban motor nona Ineke kempes, saya menemaninya tambal ban."...


Aryan menampakkan senyum nya tanpa sepenuhnya mendengar yang di katakan Dion.


..."Tuan."...


..."Tuan Aryan.!"...


..."Hah?"...


..."Tuan terlihat sangat bahagia? Ada apa tuan?"...


..."Hidup ini sangat indah Dion, kita harus menjalaninya dengan selalu berbahagia."...


Lalu Aryan mematikan rokoknya, berdiri meninggalkan Dion, dia menghampiri Arend dan Zico yang sedang membakar Belut.


Ayla masih disana, masih ada sedikit lagi rumput yang belum selesai di pangkas.


..."Hidup ini sangat indah? Oh Tuan Aryan.! Baru beberapa hari yang lalu kau pernah bilang jika hidupmu tidak ber arti. Huh."...


..."Arend, Dion, apa belutnya sudah matang?"...


..."Belum pah, masih di bakar sama Arend."...


Ayla sempat melihat ke arah Aryan, lalu berpura-pura kembali mengerjakan pekerjaannya, ia bingung bagaimana harus bersikap, suami yang menganggapnya sebagai Istri Partner Ranjang itu kini menjadi tetangga baru nya.


..."Anak-anak, mau di buatkan sambel apa untuk belutnya?"...


..."Sambel? Sambel apa Arend?"...


..."Kecap saja aunty."...


..."Oh, ok, aunty siapkan dulu di dalam, nanti kalau sudah siap, aunty bawa keluar."...


Ayla berdiri, pekerjaannya sudah selesai. Ia melihat ke arah Aryan sebentar, dan Aryan masih menatapnya, lalu ia masuk kerumah.


Aryan selalu berusaha mendekati Arend putranya. Ia mencoba membantu Arend memanggang belut, tapi asap dari pembakaran itu sepertinya mengganggu, ia batuk-batuk, matanya berair karna perih.


..."Tinggalkan itu, kau tidak akan tahan."...


Mendengar Arend berbicara begitu pedas, Aryan merasa tertantang.


...'Anak ini selalu merasa paling bisa.'...


..."Tidak, aku bisa melakukannya."...


Aryan menarik kaos bagian bawah, menjadikannya penutup muka. itu sedikit membantu, tapi ia tidak dapat melihat belut yang sedang di panggang, tidak di balik dan tidak menyadari kalau belutnya telah matang, dan kini hampir gosong.


Zico hampir tertawa lepas melihatnya. Kini bukan dirinya saja yang frustasi menghadapi Arend.

__ADS_1


Ineke keluar bersama Ayla yang membawa bumbu, nasi, air dan tikar.


Ineke tertawa terbahak melihat tingkah Aryan. sampai sambal yang di pegangnya hampir jatuh.


..."Ineke.! Diam."...


Aryan membuka penutup mukanya. Kaos itu masih setengah di atas bagian perutnya, tidak menutup kebawah dengan sempurna.


Ayla tidak nyaman melihatnya, apa lagi ada Ineke. Meskipun Ineke tidak berpikir macam-macam. tetap saja Ayla merasa itu tidak nyaman untuk di pandang.


..."Mas, Kaos mu."...


..."Apa Ayla?"...


..."Itu, perutmu terbuka."...


Aryan membenahinya hingga benar.


Ineke kembali terbahak setelah menata semua bahan di atas tikar.


Aryan baru menyadari jika belut yang di panggangnya itu telah gosong menjadi arang.


Zico mengikuti Ineke yang terus tertawa. Arend hanya melihatnya dengan malas.


Kini semua sudah siap. belut panggang, sambel kecap, nasi putih yang hangat, serta teh hangat.


..."Eh, Dion mana? Aunty, tolong panggilan Dion ya?"...


..."Kenapa harus aku?"...


Semua melihat ke arah Ineke dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


..."Aiiissshhhh, iya iya."...


Adab di kampung memang menyenangkan.


Mereka makan bersama di sore menjelang petang. Saat Maghrib berkumandang, mereka telah selesai dengan acara makan sederhananya.


...****************...


..."Besok papa harus pergi dulu, sudah 2 hari papah meninggalkan kantor, pekerjaan tidak bisa jika terus di handle cuma lewat ponsel. Dion akan menemanimu di rumah."...


Zico mengangguk.


..."Kapan sekolah akan masuk Dion?"...


..."dua hari lagi, Bos."...


..."Apa semuanya sudah siap?"...


..."Sudah Bos, semua sudah beres, tapi, saya gagal meyakinkan tuan muda Arend untuk saya daftarkan atas nama wali nama anda Bos."...


..."Tidak apa-apa, jangan terlalu memaksa, biarkan semua mengalir apa adanya."...


..."Apa kamu sudah mendapatkan tanah yang ku butuhkan?"...


..."Maaf bos, besok kepala desa baru ada waktu untuk mengantar saya mencari tanah itu."...


Aryan mengangguk. Malam ini, mereka bertiga tidur di lantai ruang tengah depan tv.


...****************...


...'Mas, kamu sedang apa? Aku sangat senang bisa kembali bertemu denganmu mas, tapi bagaimana caranya, agar aku bisa memulainya, agar aku tidak terlihat begitu mudah bagimu.?'...


*S**emakin besar Cinta seseorang di tunjuk kan, Maka orang yang di cintai akan semakin seenaknya. Itu rumusnya.*

__ADS_1


Satu paragraf yang pernah Ayla baca di sebuah novel kesukaannya.


...****************...


Ayam jago berkokok saling bersahutan. Embun pagi terlihat berkilau dengan siraman sinar sang Surya. Udara yang sangat sejuk dan segar.


Terdengar keributan di rumah Ayla sepagi ini.


..."Tidak, Mama tidak izinin."...


..."Arend tidak sedang meminta izin, tapi Arend sedang memberi tahu."...


..."Arend"...


Zico datang tanpa memberi salam.


..."Ada apa Tante? Kenapa ribut sekali?"...


..."Arend mau mendaki gunung, Tante gak izinin. Pokok nya TIDAK."...


..."Mendaki? Zico ikut Arend? Di gunung itu sangat menyenangkan dan seru. Aku akan menyuruh Dion untuk mempersiapkan semua kebutuhan, tunggu aku ya.!"...


..."Zico!"...


Zico berlari kerumahnya menemui Dion agar segera menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan bagi seorang pendaki. Untung saja semua peralatan Zico saat camping masih di bawa.


..."Sudahlah ay, hari libur mereka tinggal 2 hari, setelah itu mereka akan di sibukkan dengan belajar, biarkan saja mereka mendaki sekarang."...


Zico kembali kerumah Arend setelah memberi perintah pada Dion. Arend masih mengemas barangnya satu persatu.


..."Kapan kita akan berangkat Arend?"...


..."Sebentar lagi."...


..."Zico, kamu harus izin dulu sama papah mu."...


..."Aku sudah berusaha menghubunginya, tapi tidak di angkat, tidak masalah, nanti biar Dion yang kasih tahu."...


..."Memangnya papah kemana Zico?"...


..."Papah ada urusan pekerjaan Tante, dia pergi Setelah subuh tadi."...


Ada perasaan sedih di hati Ayla, kenapa Aryan pergi tanpa memberi kabar padanya? Atau sekedar berpamitan dengannya.


..."Jadi, kamu disini sama Dion?"...


..."Iya aunty."...


Arend sudah selesai dengan persiapannya, dia mengangkat ransel dan memakainya di punggung.


..."Tunggu Arend, aku akan panggil Dion dulu."...


..."Tidak boleh, dia tidak boleh ikut, sangat mengganggu pemandangan."...


..."Oh, ok, aku tidak akan mengajaknya, Tapi tunggu dulu, aku akan mengambil barang ku."...


Arend bersalaman pada Ineke, dan saat di depan Ayla, Uluran tangannya tidak mendapat sambutan, Arend pun tidak kehabisan akal. Dengan cepat Arend mencium pipi mamanya.


..."Sudah, restu mama sudah Arend dapatkan."...


Lalu Arend melangkah keluar rumah.


..."Anak itu!"...


..."So sweet.!"...

__ADS_1


__ADS_2