
Bis yang di kendarai Zico dan teman-teman satu sekolah nya telah tiba di tempat tujuan.
Di sebuah desa yang tepat berada di lereng gunung. Mereka mendapatkan instruksi dan waktu istirahat selama 15 menit sebelum akan melanjutkan perjalanan menuju Shelter 1 tempat mendirikan nya camp.
Tapi sebelum sampai Shelter 1, mereka akan melewati pos 1 terlebih dulu.
Zico melihat sekeliling yang ramai dengan anak-anak se usianya dari sekolah lain yang juga akan melakukan kegiatan yang serupa dengannya.
Selain itu juga nampak orang-orang dewasa baik pria maupun wanita yang sudah pasti akan melakukan pendakian gunung. Terlihat dari penampilan mereka.
...----------------...
..."Baik, kita akan segera melakukan perjalanan kita mengenal dan mencintai alam, sebelum kita melanjutkan, mari kita berdoa terlebih dulu agar perjalanan yang akan kita lakukan, lancar dan mendapat perlindungan dari yang kuasa, berdoa, mulai"...
Pak Dimas memimpin doa, Seluruh peserta menundukkan kepala.
Tim dari sekolah Zico mendapat urutan pertama untuk melakukan perjalanan, di susul dengan tim dari sekolah Arend, lalu tim tim sekolah lain.
Perjalanan di lakukan dengan santai dan tenang, selama perjalanan para pembina memberikan penjelasan tentang tempat, apa-apa yang di temui, tumbuhan, hewan, batu, atau apapun yang bisa menambah pengetahuan mereka tentang alam.
Para Ranger sigap memperhatikan mereka, melakukan pengawasan dan penjagaan agar semua tetap aman.
Perjalanan sampai Shelter 1 yang jika di lakukan oleh pendaki hanya membutuhkan waktu kurang dari 1 jam, mereka baru bisa mencapainya setelah perjalanan selama 1 jam, baru di pos 1. Dan masih akan melanjutkannya ke Shelter 1 nantinya.
Pemimpin pembina memberikan waktu 15 menit untuk kembali beristirahat, sebelum nantinya akan melanjutkan perjalanan. Di pos 1 terdapat sebuah warung kecil yang menjual minuman, Snack dan mie instan.
Zico ber istirahat dengan teman temanya dengan memakan camilan Snack, terdengar riuh ceria dari keramaian mereka.
Tiba-tiba datang seorang anak pria berbadan tambun dengan kelima kawannya yang menghampiri Zico dan teman temannya.
..."Hei, kamu anak orang kota!."...
Seorang anak berbadan tambun pada Zico menunjukkan jari telunjuk nya pada Zico.
..."Bukan bos, dia bukan orang kota, dia orang bule."...
..."Bukan, mungkin dia anak penjajah.!"...
Terlihat sekali kalau mereka anak-anak bandel yang ingin cari masalah dengan Zico lalu membully nya.
Si tambun dan beberapa kawannya tertawa terbahak-bahak.
..."Ngapain ikutan kegiatan berbahaya seperti ini, ini hanya bisa di lakukan oleh anak-anak pria sejati seperti kami. Lihat dirimu, anak pria kenapa kulitnya putih seperti tepung?"...
Kembali terdengar gelak tawa dari kawan-kawannya si tambun.
Melihat harga dirinya di injak injak, Zico bergegas bangkit dari duduknya ingin memberikan perlawanan pada si tambun, tapi jelas saja, hanya dengan sekali dorong Zico tersungkur ke tanah.
__ADS_1
Kebetulan memang tempat mereka beristirahat ini jauh dari jangkauan para pembina dan Ranger.
Teman-temannya Zico nyalinya menciut, mereka tidak berani membantu Zico menghadapi anak tambun dan kawan-kawanya itu.
Tiba-tiba si tambun teriak kesakitan.
..."Aaaccchhhhh,"...
Sebuah kerikil mengenai pipinya seperti di lemparkan oleh seseorang.
..."Kenapa bos?"...
..."Ada yang melempari ku batu, keras sekali, pipiku sakit sekali."...
..."Aaahhhh,"...
Kini kawan si tambun lainnya yang mendapat serangan lemparan krikil itu.
..."Hei, siapa itu, keluar kalau berani. jangan sembunyi."...
Teriak Si Tambun menantang, tapi lagi lagi, ia mendapat serangan di bagian punggungnya dengan kerikil yang lebih besar, dan Si Tambun meringis kesakitan.
..."Bos, jangan-jangan, itu adalah serangan dari penjaga gunung? Bos ingat dengan cerita-cerita dari para pendaki, bahwa selama di gunung kita tidak boleh berbuat nakal."...
..."Iya Bos,, sudah Bos, kita cabut sekarang." ...
Zico dan teman-temannya saling pandang merasa bingung, penjaga gunung? apa maksudnya?
Tidak lama setelah itu muncul Arend dari balik semak-semak dengan mempermainkan ketapel nya memutar-mutarnya di udara, berjalan melewati Zico di depannya.
Zico sempat terdiam namun akhirnya ia cepat sadar.
..."Tunggu, kamu yang melakukan itu kan? Kamu yang menolongku kan?"...
Teriak Zico berlari mengikuti langkah Arend.
..."Apa yang kamu katakan? Aku tidak melakukan apa-apa."...
..."Tidak, aku yakin itu kami yang melakukannya, kamu yang menyerang mereka, memberikan tembakan pada mereka dengan alat canggih mu ini."...
Zico menunjuk ketapel Arend.
..."ketapel."...
..."Iya, aku pernah melihatnya di internet."...
Balas Zico antusias. yang di balas decihan dari Arend.
__ADS_1
..."Cih, sudah, pergilah sana, jangan mengikuti ku, cepat gabung sama tim sekolahmu, jangan berpencar, kamu bisa di anggap hilang nanti, kita akan segera melanjutkan perjalanan."...
..."Okay, tapi sebelumnya, perkenalkan, namaku Zico, Zico El Aryan."...
Zico mengulurkan tangan.
Arend menghentikan langkahnya yang terus di ikuti oleh Zico, sebenarnya ia tidak tertarik dengan ajakan Zico untuk berkenalan, tapi mendengar nama Aryan di belakang namanya, ia menatap dalam Zico untuk sementara waktu.
Namanya sendiri adalah Arendra putra Aryan, yang menurut penuturan Ayla sang mama, Aryan adalah nama ayahnya, yang ia tahu dari warga ayahnya adalah seorang TNI yang telah gugur.
..."Namamu Aryan?"...
..."Iya, eh tidak, panggilan ku Zico Aryan itu nama belakang, itu nama ayahku."...
setelah berpikir sebentar, Arend merasa tidak ada salahnya untuk menjabat tangan Zico menerima permintaan pertemanan dari nya.
..."Namaku Arend."...
..."Arend siapa? Aku akan mengingatnya dengan baik."...
Enggan menjawab pertanyaan Zico, Arend berlalu melanjutkan langkahnya menuju ke tim sekolah nya.
..."Baiklah, kalau kamu tidak mau memberitahuku, tapi, bolehkan aku meminta nomor whatsap mu?"...
..."Aku tidak bermain HP."...
..."Oh,"...
Zico mengangguk.
..."Tapi, mulai sekarang, kita berarti teman kan?"...
Arend tak menjawab dan hanya terus melangkah ke depan.
..."Arend, kita teman kan?"...
..."hufffftt, iya. Sudahlah, sana pergi, temui tim mu."...
Tidak ada kata kebetulan, semua yang terjadi adalah suatu takdir yang telah di atur dan di garis kan oleh yang maha kuasa kepada hamba hambanya.
Setelah melakukan perjalanan hampir setengah jam. Mereka sampai pada Shelter 1. Tempat mereka akan melakukan kegiatan mengenal dan mencintai alam. Mendirikan tenda, yaitu camping.
Anak-anak sangat kagum dengan keindahan tempat ini.
Dataran luas dengan hamparan rumput hijau, sebuah danau yang airnya begitu jernih, dan di seberang danau nampak dua bukit, yang terlihat menempel sempurna dengan langit, (namanya juga dilihat dari arah jauh) dengan langit cerah, namun hawa yang sejuk, awan awan putih terlihat tebal, di itari hutan melingkar yang terlihat dekat namun sebenarnya jauh, karna hamparan dataran ini sangat luas. Jika di gambarkan keindahannya bak lukisan alam yang sangat indah.
Para peserta camp di bimbing untuk segera mendirikan Tenda, dengan instruksi dari para pembina, dan kerja sama tim. satu tenda untuk 4 anak.
__ADS_1
Dan, Zico dengan sengaja berinisiatif meminta pada teman-temannya untuk mendirikan tenda dekat tenda Arend, yang berada di dataran lebih tinggi dan agak jauh dari danau. Dari tempat awalnya yang seharusnya mendirikan tenda di dekat danau. Dengan alasan takut jika malam akan ada hewan buas yang datang ke danau untuk mencari minum.