
Cinta datang pada siapa saja tanpa bisa di duga. Hati tak bisa memilih kepada siapa dia akan mencintai. Perasaan adalah anugrah dari Tuhan yang di berikan pada manusia. Suka dan duka itu keduanya beriringan tanpa bisa di pisahkan.
Ayla yang menuai buah dari kesabarannya, dan Aryan yang sudah mendapatkan ganjarannya. Kedua nya menjadikan itu sebagai pelajaran. Karna hidup itu berjalan sesuai kehendaknya, bukan karna rencana kita.
Ineke dan Rain yang berasal dari dua dunia yang berbeda, seperti Padi di sawah dan ikan di lautan, yang akhirnya bertemu di atas piring yang sama. Itulah kuasa Tuhan yang harus di yakini hambanya.
Bersyukur saat bahagia, bersabar saat terkena musibah.
Kehidupan Arend dan Zico yang terlihat sempurna tak luput dari derita masa kecilnya tanpa orang tua yang lengkap. Atau justru anak-anak panti itu yang tak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, sama sekali. Dan hidup tetap harus berjalan.
...****************...
..."Rain!"...
..."Eeehhmm!"...
Rain menghentikan aksi nakalnya, ia kini melihat manik Ineke sang Istri. Senyumnya sangat tulus dan manis.
Rain membelai wajah Ineke. Merapikan anak rambut yang jatuh di wajah Ineke. Mereka hanya diam satu sama lain.
Rain mendekatkan wajahnya, menautkan bibirnya pada bibir Ineke. Terasa lembut, manis dan kenyal. Ia terus mengeksplore bibir itu dengan pelan dan penuh perasaan. Tiba-tiba pintu di ketuk.
..."Tok tok.."...
..."Rain, ada yang datang.?"...
..."Apa dia mau cari mati?"...
Rain mendengus kesal.
Ineke bangkit, ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Cen berdiri di depan pintu, ia membungkuk.
..."Ada apa?"...
..."Mereka sudah tiba."...
..."Siapa?"...
Ineke merasa bingung. Cen hanya diam. Rain bangun dengan malas. Badannya terasa pegal semua. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
..."Tunjukkan mereka kamarnya. Aku akan membersihkan diri dulu. Setelah itu bertemu di ruang tengah."...
..."Baik, Tuan!"...
Cen membungkukkan badan dan berlalu. Ineke menutup pintu menghampiri Suaminya.
..."Ada apa? Siapa yang datang?"...
Rain meraih tubuh Ineke. Tangannya melingkar sempurna di pinggang Ineke yang ramping. Ia lalu menciumi leher Ineke. Ineke merasa terpancing dan memejamkan mata.
..."Sabar, jangan sekarang, ada kejutan untuk mu."...
Rain berbisik di telinga Ineke. Membuat Ineke membulatkan matanya. Ia sebenarnya merasa malu, hanya di perlakukan seperti itu sudah ingin terbang. Rain tersenyum lebar melihat wajah Ineke yang berekspresi seperti itu, sangat menggemaskan.
Ineke melempar bantal dengan kasar ke arah Rain yang mulai berjalan menuju kamar mandi. Rain hanya tertawa mendapat serangan itu.
..."Siapa yang datang?"...
Ineke penasaran. Ia sebenarnya ingin segera turun. Tapi ia takut jika mereka yang datang adalah teman-teman Suaminya. Seperti semalam. Ah, mengerikan.
Ineke berjalan ke arah Balkon kamar, ini memang menjadi tempat favoritnya. Suasana sore. Dengan hamparan laut luas. Pasir putih udara sejuk yang tenang dengan seruan ombak yang berkejaran.
Ineke menarik nafas dalam, melihat sang Surya yang semakin rendah tenggelam ke arah barat. Beberapa saat lagi menghantarkannya pada senja.
__ADS_1
Ineke menangkap sosok yang seperti tak asing baginya. Seorang anak laki-laki remaja yang tampan, dan gagah, tengah berjalan di pinggir pantai, memakai Celana pendek berwarna dark krem dan kaos polos berwarna putih.
..."Arend?"...
Ineke mengucek matanya, bahkan memejamkan lalu membukanya lagi.
..."Iya itu Arend.!"...
Ineke melupakan Rain yang masih berada di dalam kamar mandi. Ia berlari menuruni anak tangga menuju luar rumah.
Semua pasang mata yang melihatnya tidak sempat menyapa tapi malah menatapnya dengan rasa bingung, karna Ineke yang berlari begitu kencang, beberapa Bodyguard yang melihatnya langsung mengikutinya dengan berlari.
..."Arend!"...
Ineke berteriak sekencangnya. Arend membalikkan badan, dan Ineke langsung memeluknya hingga tubuh mereka berdua jatuh ke tanah pasir yang lembut.
..."Aaauuw? Aunty?"...
Mereka berdua tertawa layaknya anak-anak.
..."Sorry, sorry,!"...
Ineke bangun dan duduk sambil tertawa, Arend pun sama halnya. Para Bodyguard yang mengejar ikut berhenti disertai nafas mereka yang tersengal.
..."Ini kejutan! Aunty merindukanmu, sangat!"...
Mereka kembali berpelukan. Erat, lalu melepasnya.
..."Dimana yang lainya.?"...
..."Di kamar.!"...
..."Kami disini Aunty!"...
Zico berlari, di belakangnya nampak Ayla yang tersenyum bergandeng tangan dengan Aryan. Mendekat ke arah mereka.
Zico memeluk Ineke antusias. Ineke membalasnya dengan hangat, lalu Ineke menciumi wajah Zico berkali-kali, ia tak melakukan itu pada Arend meskipun ingin, karna Arend tidak menyukainya.
..."Ay?"...
..."Ke?"...
Ineke bangkit, berdiri menyambut Ayla dengan pelukan hangat, dua orang sahabat yang kini terpaksa harus terpisah. Mereka larut dalam haru, menangis melepas rindu.
..."Aku sangat merindukan kalian.!"...
..."Kami juga."...
Suara Ineke dan Ayla terdengar bergetar.
..."Apa kabar?"...
Aryan menyalami tangan Ineke.
..."Baik Aryan."...
Ineke membalas jabat tangan itu.
..."Doooorr!"...
Terdengar suara tembakan yang tiba-tiba, mengagetkan mereka semua, bahkan para Bodyguard itu pun sama halnya.
Semua menoleh ke arah sumber suara. Rain berdiri gagah di atas balkon sambil memegang senjata. Bahkan ia masih mengenakan Baju Handuk mandinya.
..."Orang itu sepertinya gila, aunty.!"...
__ADS_1
Arend bersuara.
..."Kurasa juga begitu Arend. Dia terkadang memang kurang waras."...
..."Maaf Nona, mari kembali masuk ke dalam. Tuan Rain memanggil."...
Salah seorang Bodyguard berkata sambil membungkukkan badan.
..."Kurang Ajar, dia tidak tahu siapa aku?"...
..."Sssuut, kamu tidak berani pegang senjata."...
Zico menahan tawa mendengar obrolan Papah dan Mamahnya
..."Ayo.!"...
Ineke menggandeng kedua tangan ponakannya. Ayla dan Aryan mengikuti dari belakang.
Mereka ngobrol panjang lebar. Sampai di ruang tengah. Cen ada di sana. Arend menemuinya, mereka bicara berdua. Zico kali ini ikut.
Ineke kembali ke kamar untuk menemui suaminya.
..."Kau melupakan ku saat mereka datang!"...
Rain merasa cemburu. Ia bahkan sangat kesal mendapati Ineke yang sudah berada di luar sana meninggalkan dirinya sendiri di kamar.
Ineke tidak menjawab, tapi terlihat jelas ia pun jengkel dengan sikap suaminya.
Ineke mengambilkan pakaian ganti, sebuah kemeja dan celana. Lalu memberikannya pada Rain.
..."Apa?"...
..."Pakaianmu?"...
Wajah Rain terlihat semakin kesal.
..."Kenapa kau hanya memberikannya? Kenapa tidak kau pakaikan?"...
..."Hah?"...
Ineke terkejut mendengar penuturan Rain.
..."Sudah sana masuk, cepat pakai Jagan manja.!"...
Ineke mendorong tubuh Rain masuk ke dalam ruang ganti. Ineke tersenyum dengan sikap suaminya.
..."Apa benar, dia seorang Bos Mafia?"...
Ineke tergelak. Syukurlah jika semua menjadi lebih baik sekarang.
Mereka melewati sore di pulau Rain yang indah dengan bahagia. Dengan ide Zico, mereka bermain Bola Voly di luar dekat pantai.
..."Itu pasti seru. Boleh aku bergabung?"...
Entah dari mana datangnya, Bian dan Bianca sudah ada disana. Ineke benar-benar tidak menyukai orang ini. Suasananya terasa berubah saat Bian ikut serta di tengah-tengah mereka.
Akhirnya semua setuju, mereka akan di bagi menjadi kedua Tim, Tim A dan Tim B.
Masing-masing orang mengambil satu kertas yang sudah di gulung untuk menentukan ia masuk ke tim Yang mana.
Di Tim A ada Ayla, Aryan, Arend dan Cen. Di Tim B ada Ineke, Rain, Zico dan Bian.
Bianca melihat dari samping lapangan yang di buat dadakan oleh para Bodyguard. Koin di lempar. Tim A yang akan memulai Servis.
..."Priiiiiittt!"...
__ADS_1
Peluit di bunyikan oleh Bodyguard yang menjadi Wasit.