Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
DIARY INEKE


__ADS_3

Setelah acara pertemuannya selesai, Cen memberanikan diri menyampaikan pesan pada Rain dari Aryan, jika keluarganya merindukan Ineke, dan mereka ingin datang, Cen yakin Rain akan merespon kali ini, melihat hubungannya dengan Ineke telah membaik.


Rencananya, besok sore mereka akan di jemput oleh heli-heli pribadi milik Rain.


Rain masuk ke kamar Ineke. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Makanan yang di siapkan untuk Ineke masih utuh di atas meja troli, Rain mengedarkan pandangan dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya remang-remang.


pintu kaca kamar menuju balkon terbuka, angin bahkan meniup kencang menggoyangkan tirai-tirai.


Rain melangkahkan kaki menuju Balkon. Ineke tertidur disana dengan posisi duduk, punggungnya bersandar pada dinding balkon. Kedua lututnya sejajar dengan dada, Ineke tengah merangkul sebuah buku catatan yang tebal.


Rain, berusaha mengambil buku itu pelan-pelan agar tak membangunkan Ineke. Lalu menggendong tubuh Ineke yang masih terasa panas dan ia baringkan di atas ranjang.


Rain mengecup kening Ineke. Menyelimutinya, lalu menutup pintu kaca.


Rain duduk di sofa kamar, membuka Buku catatan tebal yang di peluk Ineke tadi.


Pada sampul buku ada satu foto anak perempuan yang masih kecil, sangat cantik dan manis. Rain yakin itu foto Ineke semasa kecil. Sangat mirip, dalam foto itu Ineke tersenyum menampakkan deretan gigi nya yang tertata rapi.


Rain mulai membuka dan membaca.


...****************...


*DIARY INEKE*


8 Agustus


Sebentar lagi kami akan di wisuda, aku bersyukur, bisa mendapat pekerjaan di tempat yang sama dengan sahabatku Ayla, terimakasih Om Akbar!. karna sudah membiayai pendidikan ku sampai aku lulus.


27 Agustus


Hari bahagia, kami telah merayakan wisuda, menjadi seorang sarjana. Tapi sahabatku Ayla, ia tengah bersedih, karna Ayahnya sedang di rawat di rumah sakit.


Ada kak Aaron yang datang mengucapkan selamat, ia memberikan buket bunga dan kotak hadiah pada Ayla, mereka lalu pergi berdua.


Apakah aku cemburu? Iya, tapi dia sahabatku, lagi pula, kami berbeda keyakinan. Aku hanya bisa menyimpan rasa suka ini sebagai rasa kagum. Kak Aaron pria yang baik. Ku rasa, semua orang menyukainya.


..."Aaron? Siapa dia?"...


2 September


Om Akbar datang, ia berpamitan padaku, dia akan pindah bersama keluarganya untuk tinggal di Swiss.


Kadang aku merasa sayang padanya, sebagai sosok orang tua, kadang juga aku takut berada di dekatnya, kembali teringat cara dia menyentuh tubuhku malam itu. Membuatku merasa trauma.


..."Om Akbar? Menyentuh? Apa yang terjadi?"...


3 September


Aku tidak mengerti, kenapa Ayla menikah secara tiba-tiba, dengan pria yang tak di cintai nya, dengan pria yang tak di kenalnya, aku bisa memahami jika ia tidak bisa bersatu dengan Kak Aaron, tapi, kenapa dia harus menikah tiba-tiba?


5 Januari

__ADS_1


Aku memutuskan untuk meninggalkan kehidupan yang lama. Menghapus cerita lama. Aku akan menemani sahabatku Ayla kemana pun ia pergi, ia akhirnya gagal dengan pernikahannya, meski tak ada perceraian di antara mereka. Ayla memilih untuk menyerah, aku tidak memiliki siapa-siapa, dan Ayla pun sama. Kami pergi dari kota kesebuah desa dengan membawa luka menganga. Tapi ada setitik kebahagiaan kami, karna dalam 9 bulan kedepan, akan ada malaikat kecil yang hadir di tengah-tengah kami. Semoga semuanya lancar.


...----------------...


Rain terus membaca Catatan demi catatan itu tanpa rasa bosan maupun lelah, jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Rain masih terus membaca, hingga ada catatan yang begitu menarik perhatiannya. Dion.


...----------------...


25 April


*Pertemuan ku dengannya sangat aneh, melihat penampilannya yang datang kesebuah desa dengan wisata pegunungan. Ia malah mengenakan pakaian formal dan ber jas. Aku bahkan sempat mengira jika dia orang jahat. ha ha ha.


Namanya Dion, entah bagaimana aku bisa tiba-tiba mencintainya, ia selalu bertingkah lucu membuatku selalu ingin tertawa. Dia juga baik. Dan tampan. Ayla terus saja menggoda ku untuk dekat dengannya*.


3 Juni


Dion menyatakan perasaannya. Ia bahkan menciumku secara tiba-tiba. Jelas aku kaget, tapi aku menikmatinya, itu adalah ciuman Ku yang pertama. Dan dia adalah pria pertama yang menjalin hubungan asmara denganku, awalnya aku ragu. Tapi aku semakin yakin saat ia bisa menerima keadaanku yang tak sempurna. Ia tak mempedulikan diriku yang bukanlah seorang gadis perawan. Dan kami akan menikah. I Love You Dion.


...----------------...


Rain semakin penasaran. Ia merasa sedikit tidak dapat memahami dalam beberapa titik catatan. Tapi ia terus fokus membaca goresan goresan tinta hitam itu.


...----------------...


15 Juni


Kematian adalah sebenar-benarnya kehilangan. Rindu yang tak terhapuskan adalah merindukan dia yang tak akan pernah lagi datang.


Hari itu, duniaku serasa berhenti berputar. Angin segar yang berhembus itu terasa begitu sesak di dada.


Hari-hari telah berlalu sejak kepergian mu, namun aku tak mampu meredam laraku.


..."Kau sangat mencintai Dion, ke?"...


23 Desember


Tuhan kembali mempertemukan ku dengan pria bertato itu, aku merasa canggung dengan tatapan matanya. Itu seperti sesuatu yang menusuk di dada.


Rain, dia adalah orang yang buruk, aku merasa takut hanya dengan melihatnya, aku merasa jika dia terus mendekat padaku, aku merasa risih. Dia memang tampan, tapi lebih terlihat mengerikan.


..."Apa? Aku mengerikan? Dion saja kau anggap lucu, sedangkan aku? FUC*K"...


Rain mengumpat kesal dengan coretan Ineke yang menulis catatan tentang dirinya.


25 Desember


*Kenapa semua menjadi kacau? Aku bahkan merasa takut melihat Aryan yang berdebat dengan Ayla di kamar. Ini adalah pertama kalinya aku melihat mereka bertengkar, dan itu karna diriku?


Kenapa pria bertato itu harus mengatakan perasaannya padaku? Ini semua gara-gara dia. Liburan kami harus berantakan karna ulahnya*.


..."Aku? Aku yang salah? Apa kau begitu tidak menyukai ku, ke?"...

__ADS_1


Rain menelan salivanya kasar, ia mulai tidak suka membaca setiap paragraf buku ini. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi, Ineke masih terlelap, dan Rain juga tidak peduli dengan sinar matahari yang mulai terlihat menerangi dataran di luar sana.


*26 Desembe**r*


Ayla dan Aryan terus bertengkar karna aku, aku merasa tidak nyaman lagi untuk tetap tinggal di rumah ini, aku harus segera pergi, Ayla tidak membiarkanku keluar rumah jika aku tidak menikah.


Aku hanya punya satu cara sekarang, menerima Rain untuk menjadi suamiku, dengan begitu aku bisa terlepas dari bayang-bayang keluarga Ayla, setelah itu, akan aku pikirkan nanti bagaimana selanjutnya.


..."Jadi, kau menikahiku karna ini ke?"...


Tersungging senyum sinis di bibir Rain, wajar saja jika dia merasa kecewa.


29 Desember


*Rain datang ke rumah, Setelah aku meminta bantuan seseorang untuk menyampaikan pesan. Aku akan mengatakan di depan semua orang, jika aku akan menikah dengannya.


Aku terkejut, saat ia hendak pulang, ia memberikanku sebuah hadiah kecil, kalung itu yang pernah kulihat waktu di Seoul. Hatiku senang menerimanya. Itu adalah hadiah pertama ku dari seseorang. Aku akan selalu menyimpannya. Terimakasih. Tuan Rain*.


Rain mulai tersenyum membaca bait-bait catatan ini.


31 Desember


*Rain kembali datang kerumah, dia bilang, Aryan yang mengundangnya, itu artinya, Aryan sudah mulai menerimanya. Baguslah.


Detik-detik pergantian tahun, aku memanjatkan doa pada Allah, semoga keputusanku sudah benar, semoga Tuan Rain hanya merasa tertarik padaku, dan setelah bosan, ia akan meninggalkanku, dan membiarkan aku pergi, dengan begitu aku tidak akan begitu merasa bersalah padanya*.


..."Bahkan dalam mimpimu pun. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, ke.!"...


7 Januari


Aku telah sah menjadi istrinya. Ia adalah suamiku sekarang, sesuai permintaanku, Rain membawaku pulang ke rumahnya, Ah, tidak, ini bukan seperti rumah, tapi ini seperti istanah, oh, tidak juga, ini seperti surga, tapi tidak, ini seperti penjara, seperti tempat isolasi, tidak ada kehidupan normal disini. Ini tempat yang indah. Tapi seperti neraka. Darah dan nyawa tidak berharga. Dunia apa yang sedang ku masuki ini? Aku selalu merasa takut setiap detiknya. Sepertinya ada sedikit penyesalan akan keputusan yang ku ambil. Tapi, sudahlah.!


..."Kau?"...


Rain bangkit dari duduknya, ia merasa emosi membaca Diary Ineke pada Bab ini. Ineke masih pulas tidur diranjangnya.


...----------------...


Rain berubah, ia menjauhiku, ia menghindari ku, aku berusaha menemuinya tapi tidak bisa. Aku berusaha mendekatinya tetap tidak bisa.


Apa dia kecewa? Setelah mendapati diriku yang bukan seorang virgin? Aku yang salah. Tidak memberitahunya terlebih dulu, jika aku adalah wanita yang ternoda.


Jika dia memang tidak menerimaku, dan ingin meninggalkanku? Aku akan menerimanya, tapi tolong berikan penjelasan.! Aku tidak tahan di diamkan.


...----------------...


Aku mulai merindukanmu Rain, aku merasa tersiksa di tempat ini sendiri. Ayla, Arend? Aku merindukan kalian.


Masih teringat jelas bagaimana tatapan Rain malam itu, ia mencekikku. Membuatku merasa begitu takut? Tapi, Aku rasa justru aku mulai mencintainya. Apa yang harus aku lakukan tuhan?


...----------------...

__ADS_1


Rain merasa menyesal memperlakukan Ineke dengan kasar waktu itu, emosi menguasainya.


Ineke menggeliatkan tubuhnya. Rain panik. Ia buru-buru menyimpan buku Ineke di dalam nakas. Lalu ia membaringkan tubuhnya sendiri di sofa. Bersedekap, dan memejamkan mata. Menghantarkannya pada tidurnya yang pura-pura.


__ADS_2