
..."Bahkan Permata pun harus mengalami pengasahan dan pemolesan dari gesekan sebelum akhirnya ia bisa di bentuk dengan indah. Begitupun manusia. Yang harus menerima banyak cobaan dan permasalahan hingga ia mampu menunjukkan kualitas dirinya."...
...****************...
Arend dan Zico berangkat sekolah. Sepanjang perjalanan, Arend hanya diam. Ia terus memikirkan maksud dari kalimat yang Cen sampaikan semalam. Arend sangat khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada aunty nya.
Zico sibuk memainkan ponsel. Tak ada bunyi game dari sana. Zico memakai earphone menyandarkan diri pada pintu mobil.
Mobil berhenti, Zico langsung mematikan ponselnya. Dan menyimpannya dalam saku celana.
Salah seorang Bodyguard membuka pintu untuk Zico. Sedangkan Arend keluar dengan mandiri.
..."Terimakasih, Pak."...
Para Bodyguard membungkukkan badan pada Arend yang berterimakasih. Sedangkan Zico sudah melangkah lebih dulu.
...****************...
Aryan masih di rumah, ia belum berangkat ke kantor. Terjadi perdebatan antara dia dengan Ayla.
..."Hapus, Ay."...
..."Enggak usah, Mas. Biarin aja ih, ini tuh buat kenang-kenangan."...
..."Ayla, Malu aku tuh?"...
Aryan berusaha merebut ponsel Ayla dari tangannya. Tapi Aryan tak berani bertindak keras takut mengasari istrinya.
Aryan malu dengan gambar yang di ambil Ayla saat ia berpelukan di atas ranjang dengan mesra bersama Rain.
Sedangkan Ayla hanya ngakak terus melihatnya.
..."Udah, Mas sekarang siap-siap, berangkat kerja. Udah siang ini.?"...
Ayla menyeret Aryan ke ruang ganti, Aryan mengikuti dengan malas.
...****************...
Ineke baru bangun, ia membuka mata, Rain tak ada di sampingnya. Ia langsung bangun dan duduk.
Entah mengapa hati Ineke cepat gelisah. Ia takut Rain meninggalkannya.
Matanya mengedarkan pandangan. Ditemukannya sosok tercinta itu tengah berdiri sambil merokok di balkon kamar.
Ineke lekas turun dari ranjang, menghampirinya. Ineke memeluk Rain dari belakang.
..."Rain!"...
Suara Ineke terdengar manja. Rain berbalik memeluk Ineke dari posisi depan.
..."Good morning."...
__ADS_1
..."Morning."...
Rain mengecup lembut bibir Ineke.
..."Aku harus pergi, ada pekerjaan yang harus aku lakukan."...
Ineke melepas pelukannya. Ia terlihat tidak bersemangat. Rain mematikan rokoknya. Lalu melempar putungnya ke bawah ke sembarang arah. Kini giliran Rain yang memeluk Ineke dari belakang, sambil mengecup leher Ineke. Sesekali kecupan itu mendarat di pipi dan di kepala Ineke.
..."Aku pulang nanti malam."...
Ineke hanya diam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Rain memang pria yang sibuk. Tapi ia merasa kesepian tanpa Rain. Tak ada yang bisa ia lakukan disini. Bahkan dulu saat tinggal di desa, ia tak pernah sebosan ini.
..."Atau kau mau ikut?"...
..."Boleh?"...
..."Emmm? Kalau kau mau."...
Ineke mengembangkan senyumnya. Tapi akhirnya ia memilih tidak. Hanya dengan mengajaknya ikut serta Ineke sudah merasa baikan.
..."Tidak, aku di rumah saja, cepatlah pulang. Jaga diri baik-baik."...
Ineke membalikkan badan. Menyandarkan kepalanya pada dada bidang Rain.
..."Cen akan menemanimu. Aku pergi dengan Bian. Bianca juga ada di rumah sebelah. Atau, kau bisa meminta Cen mengajak mu keliling pulau. Ada hutan kecil di belakang sana. Masih asri. Tapi harus selalu dalam penjagaan. Dan jangan jauh-jauh."...
Ineke mengangkat tangan Rain. Menghujaninya dengan kecupan berkali-kali. Rain membalas mengecup pucuk kepala Ineke.
Menu sarapan tersaji rapi di atas meja. Ineke memulai sarapannya seorang diri.
..."Kau mau pergi ke suatu tempat?"...
Cen datang, ia terlihat lebih santai dengan pakaian kasual nya.
..."Sarapan dulu gih."...
Cen duduk dan membuat roti selai. Lalu melahapnya.
Ineke dan Cen benar pergi ke hutan yang berada di tengah pulau. Lumayan jauh dari rumah. Bahkan melewati pagar besi khusus sebagai pembatas. Karna masih ada hewan berbahaya seperti ular.
Ineke dan Cen semakin dekat. Layaknya seorang teman. Mereka berbicara banyak hal. Ternyata Cen orang yang asyik setelah sudah saling kenal. Jauh dari tampilan awalnya yang mode Silent, kaku bak kulkas 2 pintu.
...****************...
*Di Tempat Lain
..."Aku tahu kamu masih mencintaiku, Rain. Aku melihat itu di matamu."...
..."Hentikan Cassandra, kembalilah kerumahmu, aku sudah bukan Rain yang sama."...
..."Tidak, Rain. Aku sudah menantimu lama. Bahkan aku menentang Ayahku yang di penjara demi bisa bersama lagi sama kamu. Apa kamu se jahat itu Rain? Apa kamu benar bisa melupakan hari kita yang lalu?"...
__ADS_1
..."Seperti yang kau katakan, hari itu telah berlalu."...
Rain melangkah hendak pergi.
..."Tunggu, Rain."...
Cassandra meraih tangan Rain. Melangkah di depan Rain.
..."Lihatlah, kamu sendiri yang mengukir ini. Bagaimana kau bisa memintaku untuk pergi.?"...
Cassandra membuka kemejanya. Ia kini hanya mengenakan d*lam@n bagian atas berwarna merah, di dadanya yang seksi terdapat sebuah tatto yang terukir nama Rain. Rain lah yang Menato namanya sendiri di dada Cassandra waktu itu.
..."Pakai bajumu Cassandra."...
Sejujurnya di hati Rain sejak tadi sudah berdetak hebat. Ia masih merasakan hal-hal yang sama seperti dulu. Cassandra cintanya yang harus terpisah karna keterpaksaan. Bukan karna keinginan.
Dalam posisi ini. Cassandra juga sama menderitanya. Ia harus kehilangan Rain, orang yang sangat dicintainya. Kedua belah pihak keluarga yang tiba-tiba bertentangan. Membuat Cassandra serasa menggila.
Cassandra berontak. Ia mengambil pisau kecil kesayangannya yang ada di balik celana kulitnya. Meski itu hanya pisau kecil. Namun itu sangat tajam. Bahkan pernah Cassandra gunakan untuk membunuh orang dengan menyayatkannya pada leher orang itu. Rain ingat jelas kejadian itu.
..."Cassy, apa yang kamu lakukan?"...
..."Cassy? Kau masih memanggilku dengan panggilan sayang itu, Rain."...
..."Cassy, berikan pisaunya. Jangan main-main."...
..."Kau menyuruhku pergi kan Rain? Hapus namamu dari dadaku Rain."...
Cassandra menantang, ia memberikan pisau itu ke tangan Rain. Rain hanya diam. lalu melempar pisau itu ke bawah.
Wajah Rain jelas terlihat berbeda. Otak dan batinnya tengah bertengkar hebat saat ini.
Otaknya mengatakan jangan, memperingatkannya tentang seorang istri yang menunggunya dengan setia di rumah. Namun hatinya merasa nyaman, ia merasa bahagia di pertemukan kembali oleh cinta lamanya yang menghilang.
Cassandra mendekat, Rain hanya diam mematung. Cassandra menempelkan tubuhnya pada tubuh Rain. Aroma yang sama. Cassandra menghirup aroma Rain dalam. Ingatan-ingatan masa lalu berkumpul menjadi sebuah dorongan.
Cassandra mulai mengecup leher Rain. Rain terpejam tanpa bimbingan. Cassandra menyesap. Meninggalkan tanda disana. Rain hanya diam menikmati momen lama yang kembali dia rasakan.
..."Cassy?"...
Rain berusaha mendorong tubuh Cassandra, namun suaranya justru terdengar lirih di telinga Cassandra. Tenaga Rain secara tiba-tiba menghilang.
Tangan Cassandra yang sudah bermain lihai dibawah sana. Menghantarkan Rain pada kenaikan libidonya yang tiba-tiba.
Ddrrrttt ddrrtttt ddrrtt
Dering ponsel menyelamatkannya. Rain mendorong tubuh Cassandra kuat agar mundur dari dirinya. Ia meraih ponsel yang ada di atas meja.
...*My Love My Life...
...Calling,,,...
__ADS_1
Ineke menelpon.