
Siang berganti malam, malam berganti pagi, hari demi hari berlalu berganti dengan hari-hari yang baru.
Cuaca pun berubah, memasuki Musim penghujan. Hujan mengguyur dari malam hingga pagi menjelang.
Arend dan Zico bersiap akan berangkat sekolah. Mereka terlambat, tidak sempat jika sarapan di rumah.
Ayla menyiapkan bekal mereka di bantu Sila. Arend keluar bersama Zico menuruni anak tangga setengah berlari. Menghampiri sang mamah tercinta yang tengah berkutat di meja makan mengemas bekal mereka.
..."Mah, kami berangkat dulu."...
Zico mengecup pipi Ayla dan Aryan yang tengah duduk menghabiskan sarapannya. Arend menyalami tangan kedua orang tuanya dengan khidmat.
..."Aunty mana? Kami sudah hampir telat?"...
Zico bertanya keberadaan Ineke. Setiap hari saat akan berangkat sekolah, Arend dan Zico tak pernah absen untuk berpamitan pada seluruh anggota keluarga, termasuk aunty Ineke.
..."Ineke dimana Sila?"...
..."Tadi, saya lihat dia di bangku halaman belakang Nyonya."...
Arend dan Zico berhambur menemui Ineke di belakang.
..."Aunty, kita mau berangkat.!"...
Ineke tengah berdiri melamun melihat bangku kosong yang menjadi kenangan itu, tubuhnya bersandar pada dinding, rambut nya yang halus lurus dan panjang bergerak mengikuti tiupan angin di pagi yang dingin.
Ia langsung tersadar dari lamunannya ketika mendengar Zico berteriak.
..."Kalian sudah siap?"...
..."Iya, kami sudah terlambat."...
Zico mengecup pipinya dan Arend menyalami tangannya.
Ineke mengedarkan pandangannya ke langit.
..."Masih gerimis ini, kalian hati-hati ya?"...
..."Siap aunty, Asaalaamu'alaikum!"...
Arend dan Zico berangkat sekolah di antar supir dan dua Bodyguard.
Aryan bangkit dari duduknya. Mengelap mulut. Melangkah menuju dapur dimana Ayla tengah berdiri memasukkan buah-buahan segar yang sudah di kupas ke dalam kotak sebagai camilan sehat suaminya nanti.
..."Aku berangkat Sayangku.!"...
Aryan merangkul pinggang Ayla dari belakang, lalu mengecup pipi dan lehernya. Membuat Ayla merasakan sensasi geli pada tubuhnya.
..."Mas Aryan."...
Mereka berdua tertawa cekikikan.
..."Ddrrrekkk"...
Ineke tidak sengaja menabrak kursi karna kaget melihat tingkah Aryan dan Ayla. Aryan dan Ayla sontak menoleh ke belakang. Menghentikan aksi mereka.
Ineke berdiri mematung dengan mukanya yang terlihat bingung.
__ADS_1
..."Em, Sorry. Aku gak sengaja."...
Ineke melangkah cepat meninggalkan Ayla dan Aryan yang kini merasa tidak enak. Ayla dan Aryan saling bertatapan, merasa kasihan dan bersalah bersamaan.
Aryan berlalu ke kantor.
Ineke berada di kamarnya. Berdiri menghadap jendela, menyandarkan tubuhnya pada dinding. Melihat air hujan yang terus berjatuhan membasahi halaman luar.
Air matanya memang tak lagi nampak berjatuhan. Tapi hatinya. Masih sama, sakit itu, luka itu. Kehilangan, melepas kepergian orang yang kita sayang. Yang sudah kita rencanakan sebagai masa depan. Dan nyatanya, HILANG.
Setelah mengetuk pintu kamar ineke tidak mendapat jawaban. Ayla memberanikan diri untuk masuk. Ia membawakan Ineke senampan makanan. Ineke belum sarapan.
Ayla melihat Ineke yang lagi-lagi melamun disana.
..."Aunty, sarapan dulu sini. Ini udah aku bawain makanan sehat dan enak buat aunty, ada nasi, ikan goreng, sambel, sup, buah, bahkan susu coklat. Ha ha ha ha!"...
Ayla berusaha sebisa mungkin untuk membangun kembali keceriaan Ineke yang telah sirna.
Ineke menoleh ke arah sahabatnya, dan memberikannya seutas senyum yang berat.
..."Terimakasih."...
Ayla membalasnya dengan senyum secerah mungkin.
Ineke menerima nampan itu. Lalu ia duduk di atas ranjang, mulai memasukkan makanan itu sesuap demi sesuap kedalam mulutnya. Namun akhirnya air mata itu tumpah juga.
Dada terasa begitu sesak. Ineke kembali menangis karna hatinya yang merasa sakit.
Ayla memeluknya, mengelus punggungnya. Membelai wajah Ineke dengan tatapan sendu penuh kasih.
..."Sudah, sudah. Dia akan sedih jika melihatmu seperti ini."...
Bagaimana cara memperbaiki semua ini? Bagaimana cara menyembuhkan lukanya?
Ineke memang tak setegar Ayla. Bahkan ia sudah pernah mengatakannya,
...'*Jiika sesuatu yang buruk terjadi, aku tidak akan bisa untuk setabah dirimu Ayla*.'...
...****************...
Jam istirahat di sekolah. Arend dan Zico tengah berada di tangga yang menuju ke lapangan sekolah. Mereka tengah menyantap bekal sarapannya.
..."Aku lapar sekali, rasanya otak ku tidak mau bekerja tadi. Besok aku harus bangun lebih pagi."...
Arend jengah mendengar kalimat Zico yang sama hampir setiap harinya. Bahkan ia pun kembali tidur tadi setelah subuh karna malam yang mereka habiskan bermain game mengurangi jam tidur mereka.
..."Arend, apa aunty sekarang sudah tidak sedih lagi? Aku sudah tidak pernah melihatnya menangis. Aku senang jika dia sudah tidak bersedih lagi."...
Arend hanya diam. Ia mengingat aunty nya yang terus melamun dan suka menyendiri. Ia yakin jika sedih dan sakit aunty nya itu masih ada. Dan belum berkurang.
..."Arend. jangan diam saja.!"...
..."Sebentar lagi libur panjang kan? Setelah Ujian dan menyambut tahun baru. Bagaimana kalau kita meminta Papah sama Mamah untuk mengajak aunty liburan. Ke tempat yang baru, yang jauh, yang bisa membuatnya kembali tertawa."...
..."Liburan? Aku setuju, kita juga belum pernah liburan bersama. Ter akhir liburan ku adalah di desa. Aku merindukan itu."...
..."Korea."...
__ADS_1
..."Korea?"...
..."Heemmm eemmm!"...
Arend mengangguk.
..."Kenapa harus ke Korea.?"...
..."Aunty sangat suka dengan artis-artis dan drama dari negara itu. Kita akan menemukan aunty kembali pada kebahagiaannya."...
..."Korea?"...
Zico masih tampak berpikir tak mengerti, tapi Arend senyumnya justru mengembang. Seolah ide brilian telah hadir di isi kepalanya.
...****************...
..."Korea? Kenapa harus kesana Arend? Papah sangat sibuk sekarang. Kita liburan di dalam negri saja. Bagaimana kalau ke Bali?"...
Aryan kurang setuju dengan ide itu. Arend lantas menyenggol Zico yang tengah bermain game dengan sikutnya.
..."Aaaahhh, aku mau ke Korea Pah. Titik. Mamah juga setuju kan?"...
Kini Zico mencari dukungan dari mamahnya.
..."Korea?"...
Ayla pun tampak berpikir, ia sendiri tidak tahu apa bagusnya dari negara itu, karna dia bukan penggemar Boy Band maupun Drakor.
..."Aaaahhh, Mamah, itu negara para Oppa Oppa.!"...
Arend mendekati mamanya, menyentuh bahunya dan mengerlingkan matanya, dengan lebih menekankan intonasi di kata Oppa-Oppa.
Seketika Ayla Ter ingat Ineke waktu di desa dulu setiap malam yang suka nonton drama Korea sampai nangis bombai.
..."Ooh, oohh iya Aryan, Korea. Aku juga sangat ingin kesana?"...
..."Haduh? Kalian ini kenapa?"...
..."Tiga lawan satu, kita ke Korea. Yeaaaayyy!"...
Ayla, Arend dan Zico saling bergandengan tangan sambil berputar loncat-loncat karna merasa senang. Arend hanya bisa melihatnya dengan jengah. Memegangi kepalanya memberi sedikit pijitan yang tiba-tiba terasa pusing.
...****************...
Ayla tengah berada di kamar Ineke. Ia membantu Ineke mengemasi barang ke dalam koper.
..."Kenapa kita harus ke Korea sih Ay?"...
Ineke merasa aneh, tiba-tiba mereka semua akan pergi liburan ke Korea, menyambut tahun baru disana.
..."Eeehhmmm? Karna negara itu indah."...
Ayla menjawab asal karna ia pun tak tahu kenapa Arend mengajak mereka liburan ke negara itu sebenarnya.
..."Ayla. Ayla."...
Terdengar Aryan yang berteriak memanggil mencari keberadaan Istrinya. Dan akhirnya Aryan sampai di kamar Ineke.
__ADS_1
..."Ada apa mas?"...
..."Aku tidak bisa ikut pergi dengan kalian."...