Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
CONGRATULATION


__ADS_3

Rain melajukan mobilnya dengan kencang, Berkali-kali tangannya memukul kemudi sebagai luapan emosinya. Air matanya deras mengalir. Berbagai rasa bercampur aduk begitu keruh di dalam hati dan pikirannya.


Belum selesai dengan rasa sakit hati karna cemburunya dengan Aaron. Kini Rain di Landa rasa penyesalan yang amat mendalam. Dan itu sama sakitnya.


Ia tak bisa mengontrol emosinya yang naik tiba-tiba, dan orang yang dicintainya justru menjadi korban karna amarahnya itu.


Rain menginjak rem mendadak. Ia tengah sampai di jalan utama keluar-masuk desa. Dengan hamparan sawah dan pemandangan alam kiri-kanannya. Suasana diluar sangat gelap. Tak ada satupun kendaraan lain yang melintas.


Rain menangis dan berteriak sangat keras di dalam mobil. Menjambak kasar rambutnya sendiri. Dan terus memukul kemudi. Rain telah merasakan sakit begitu dalam hingga dasar lubuk hatinya.


"Aku benci melihat senyum-Mu yang kau berikan untuk Aaron, Ke? Kenapa kau tidak mengerti?"


Rain masih terus menangis. Sesakit itukah rasa cemburu? Terlintas dalam benaknya jika ia akan mengakhiri semuanya. Rain merasa jika Ineke di sampingnya, ia selalu menyakitinya. Dan pada akhirnya Rain menyesali perbuatannya itu.


"Apakah aku harus merelakanmu untuk pergi dari hidupku, Ke? Sejak awal seharusnya aku tidak pernah hadir dalam hidupmu."


Tapi Rain juga takut ia akan lebih sakit lagi nantinya jika harus berpisah dengan Ineke. Rain di Landa frustasi.


Sudah sejauh ini, Keluarga Ayla juga tidak mungkin akan bisa memaafkannya dengan mudah. Semua telah hancur. Kepercayaan, keharmonisan. Semuanya akan sangat sulit untuk di perbaiki kembali.


"Apa setelah kau bertemu lagi dengan-Nya, kau kembali mencintainya, Ke? Apa kau tidak akan memaafkan ku dan menerima ku kembali?"


Rain bingung harus bagaimana, ia ingin sekali kembali kerumah Ayla, tapi takut jika ia tidak akan diterima. Dan, Ineke? Mungkin saja saat ini ia tengah berada di pelukan Aaron untuk menenangkannya.?


Se-Over Thinking itu orang yang diliputi rasa cemburu dan kebingungan.


"Tidak, aku tidak akan sanggup jika sampai aku melihat Ineke di dalam pelukan pria itu. Aku bisa saja langsung membunuh mereka berdua. Aku akan pergi, aku akan pulang, jika Ineke memang mencintaiku, dia pasti akan mengejarku. Dan setelah itu, akan aku kurung dia selamanya di pulau."


Rain sudah bulat dan yakin dengan keputusannya. Ia menyalakan mesin, menancap gas lalu menghubungi Cen.


..."Cen!."...


...****************...


Aaron dan Putrinya Mikaila telah berpamitan. Ia merasa semakin tidak enak jika lebih lama lagi tinggal disini. Mereka saling bersalaman. Bahkan Aryan pun sudah melunak padanya karna Aaron tidak menunjukkan sama sekali jika ia masih menyimpan rasa pada Ayla. 'Biarlah itu menjadi masa lalu.'


Zico yang tidak mengetahui hal buruk sedang terjadi dengan centilnya sedikit menggoda Mikaila si gadis cantik.


Zico malu-malu pada awalnya untuk meminta nomor Mikaila. Tapi setelah Mikaila memberikannya, ia jadi lebih pede dan berani.


Arend menatap nanar ke arah halaman luar di mana bekas tempat membakar jagung tadi. Terlintas kembali bayangan sore tadi saat membakar jagung ia sudah merasa menyukai Tuan Rain, dan juga mulai akrab dengannya. Ia menyesal telah memukul punggung Rain dengan keras. Dan kini aunty nya hanya mengurung diri di kamar.


Mikaila melihat ke arah Arend berada, ia tertarik dengan Arend yang bersikap dingin dan seperti tidak peduli. Mikaila mendekatinya. Ia ingin berpamitan langsung. Zico hanya mengamati.

__ADS_1


"Hai, Arend. Aku dan papah akan pergi."


Suara lembut Mikaila menyadarkan Arend dari lamunannya.


Ia tersenyum dan menghadap Mikaila.


"Hati-hati."


Arend mengulurkan tangan, Mikaila menyambut uluran tangan itu sebagai perpisahan.


Sebuah Mobil sewaan yang di sewa dari para Ranger di pos administrasi mengantar kepulangan Aaron dan Mikaila untuk kembali ke kota.


Kini suasana terasa hening tiba-tiba. Ada satu sosok yang sedang menderita di balik ruang kamar yang pasti tengah meringkuk menangisi kepergian sang suami.


Aryan meminta izin Ayla ke rumah Pak Kiyai Umar, sekedar *Melek-an* kata orang Jawa. Zico ikut dengannya.


Arend dan Ayla duduk berdua di anak tangga depan teras. Mereka berdua merasakan hal yang sama, sedih karna kesedihan Aunty nya.


"Arend yang salah, Mah? Karna telah memukul Tuan Rain, sehingga ia pergi."


Arend membuka percakapan, ia menyalahkan dirinya sendiri. Dan terdengar penyesalan dari suaranya.


"Tidak, Arend. Kamu tidak salah, kamu hanya ingin melindungi aunty. Mamah lah yang bersalah, karna mendorong hubungan mereka dulu."


Ayla menjatuhkan tubuhnya di bahu Arend. Ia seakan telah kehilangan kekuatannya.


...****************...


"Aku akan segera datang setelah ada waktu."


"Eehhmm emmm." Ayla mengangguk dan tersenyum manis. Aryan mengecup kening istrinya. Arend dan Zico menyalimi tangan Papahnya.


"Jaga mama dan Aunty baik-baik."


Aryan pun pergi.


...****************...


Pukul 8 pagi, Ineke masih belum juga keluar kamar sejak semalam. Ia bahkan melewatkan kewajiban-kewajibannya sebagai muslim yang baik.


Ayla tengah memasak bubur sumsum dengan pandan, Baunya sangat sedap menggoda. Bahkan Zico sudah setia menungguinya di dapur tak sabar ingin memakan bubur bikinan mamahnya itu. Arend tengah menyisik bambu-bambu di teras halaman belakang, sepertinya ia akan membuat layang-layang.


Tiba-tiba Ineke keluar dari kamar dengan terburu-buru. Ia memegang mulut dan perutnya seperti tengah menahan sesuatu.

__ADS_1


Ayla dan Zico melihatnya bingung karna Ineke setengah berlari menuju halaman belakang.


"Uuwwleekkk uuwllekk uwlleekk"


Ineke muntah berkali-kali, tapi tak ada apa-apa yang keluar dari mulutnya, hanya cairan kuning yang pasti sangat pahit di rasa.


Arend lekas berhambur mendekati Aunty nya, begitu pun Ayla, ia mematikan kompor dan berlari bersama Zico menuju halaman belakang.


"Aunty, aunty kenapa?"


"Ke, Kamu kenapa?"


Semua terlihat cemas. Ineke terlihat sangat pucat. Keringat dingin membasahi keningnya. Wajahnya begitu sembab dengan matanya yang mbentul Karna terlalu banyak menangis.


Ineke menarik nafas mencoba menenangkan diri. Zico berlari kembali masuk untuk mengambilkan air minum.


Tiba-tiba Ineke kembali muntah.


"Uuwwllekk uwwllekek uuwwllekk ."


Arend dengan telaten memijit tengkuk leher Ineke. Ayla membantu memegangi rambut panjang Ineke yang bertebaran tertiup angin segar di pagi ini.


"Ay? Kamu masak apa sih? Baunya nggak enak banget? Aku mual dan pusing banget mencium aromanya?."


"Hah?." Ayla terbengong dan mengernyitkan dahi mendengar penuturan Ineke. Bau yang dicium Ineke itu pasti bau pandan dari bubur sumsum yang Ayla masak. Tapi itu kan baunya sangat sedap. Kenapa Ineke justru mual dan enek mencium bau itu?


"Aku cuma masak bubur, Ke.?"


Mendengar kata bubur di sebut, Ineke kembali muntah. Arend dan Ayla saling memandang dalam.


"*Mungkinkah?"


"Mungkinkah*?"


Ibu dan anak itu bergumam bersamaan. Ineke malah memandang sahabat dan keponakannya bergantian dengan perasaan bingung.


Zico datang membawa air..


"Aunty, minum dulu?"


Ineke menerima air pemberian Zico dan meminumnya. Ayla dan Arend keduanya tersenyum sangat senang. Zico sampai bingung, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat Mama dam saudaranya radak aneh.


"Aaaahhhhh?." Ayla berteriak sangat keras dengan ekspresi sangat bahagia. Ia bahkan melompat-lompat dan mengibas-ngibaskan tangannya saking bahagianya. Ineke dan Zico memandanginya sambil menggelengkan kepala pelan. "Sedang aneh."

__ADS_1


Arend melihat Ineke dengan mata haru yang berbinar. Ia lantas memeluk tubuh aunty nya itu. Ineke hanya diam dan mengerjap-ngerjapkan matanya kala Arend mengelus punggung dan rambutnya.


..."Congratulation, Aunty. Be healthy, and Be happy always."...


__ADS_2