Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
KEINDAHAN PUNCAK GUNUNG


__ADS_3

Suasana terasa kurang bersahabat di rumah Ayla.


Selepas kejadian tadi, Dion langsung pergi ke Pos Tempat registrasi. Ia akan menunggu disana sampai kedua Tuan Muda nya turun dengan selamat.


Menurut Ranger yang berada di pos, kemungkinan Arend dan Zico akan tiba besok sore jam 3.


Karna pendaki juga tidak bisa lama-lama di puncak, saat siang puncak gunung biasanya erupsi dan berpotensi mengeluarkan gas beracun.


Aryan sibuk memainkan ponselnya, entah sudah berapa kali dia melakukan panggilan, dimatikan dan lalu memanggil lagi.


Ineke sekarang mulai merasa takut, baru kali ini ia melihat Aryan dalam mode emosi. Sepertinya mode Arend seperti kulkas lebih baik dari pada mode marah nya Aryan.


Ayla tak berani mendekat ke arah Aryan, ia merasa sungkan sekarang karna tak bisa dengan baik menjaga putra-putra Suaminya itu.


..."Ay, kamu suruh Aryan istirahat gih, udah jam 2. Kita juga jadi gak bisa tidur kan?"...


..."Gak berani ke, kamu lihat saja sendiri, tampangnya udah serem gitu."...


..."Ih, kamu gimana sih, jadi istri malah takut."...


Ayla mencubit pinggang Ineke.


..."Aauuwww"...


Teriakan Ineke sukses mencari perhatian Aryan. Dan dia menghampiri Ayla.


..."Ay, masih disini? Belum tidur? Hmmm?"...


Tatapan Aryan dan nada bicaranya membuat hati Ayla serasa mau lompat. ada desiran hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.


..."Em, Aku, gak enak mau tidur kalau mas juga gak tidur."...


Aryan tersenyum manis.


..."Mau mas temenin?"...


Seketika Ayla melotot. dan Ineke kabur ke kamar.


..."Ayyy, aku tidur dulu. Sudah ngantuk."...


..."Ke!"...


...****************...


Arend dan Zico mulai perjalanan mereka melakukan SUMMIT, Mendaki menuju puncak, bersama dengan anak-anak Mapala yang kemarin.


Suhu malam di gunung sangat rendah. Mereka harus terus berjalan mendaki agar tubuh mereka tetap hangat dengan melakukan gerakan.


Mereke tidak bisa melakukan istirahat berlama-lama, jika berhenti beristirahat, mereka harus kembali bergerak.


...****************...


Ayla gugup karna Aryan semakin mendekat.

__ADS_1


..."Ay, boleh mas mengecup kening mu ay? Mas sangat merindukanmu, Mas benar-benar kangen.!"...


Ayla menunduk, jari jemarinya saling meremas. tapi akhirnya ia mengangguk.


Aryan tersenyum, lantas menangkup wajah Ayla agar ia melihatnya, ayla sedikit mendongak dengan postur tubuh Aryan yang lebih tinggi.


Aryan mulai mengecup kening Ayla dengan penuh perasaan cinta dan sangat lembut. cukup lama kecupan di kening itu. Hingga Aryan melepaskannya, dan di lihatnya Ayla yang tengah memejamkan matanya.


..."Ay, Kamu memang Istri Partner Ranjangnya Mas, Ay."...


Ayla membuka matanya lebar mendengar Aryan berbicara.


..."Iya Ay, kamu tahu? Semenjak kamu pergi meninggalkan Mas, Mas tidak lagi bisa bermain Ranjang dengan baik. Karna Partner Ranjang Mas telah pergi meninggalkan Mas....


..."Tidak dengan Nesa, apalagi dengan wanita lain. Jujur Ay, Mas pernah mencoba bermain dengan wanita yang bisa memuaskan dahaga Mas, tapi itu tidak bisa Ay? Dia tidak mau merespon."...


..."Mas"...


..."Ay, di bawah sana sekarang sedang merespon dengan sempurna. Maafkan mas, tapi memang itu yang mas rasakan. Mas tidak bisa merespon wanita lain. Karna Partner Ranjang Mas adalah kamu Ay."...


..."Mas,Aku belum siap.!"...


..."Mas akan bersabar, mas akan menunggu.!"...


Aryan memeluk Ayla dengan hangat, dan mengecup kening Ayla berulang kali.


Tanpa mereka sadari jika Ineke ternyata menguping sedari tadi.


Entah kenapa Ineke merasa kesal sendiri.


...****************...


Zico sebenarnya sudah sangat lelah. Memang kekuatan fisiknya jauh berbeda dengan Arend yang lebih kuat.


Arend berjalan bersebelahan dengan Zico


Ia benar-benar berusaha menjaga saudaranya itu.


Sepanjang perjalanan Arend terus mengajak Zico bicara secara pelan agar tenaga yang di keluarkan juga tidak mengalami pemborosan.


Ia terus menanyakan kepada Zico, apa dia masih kuat? Jika tidak maka Arend akan mengajak zico kembali turun.


Puncak memang satu hal yang luar biasa. Tapi tujuan utama mendaki adalah pergi dan pulang kembali dengan selamat.


Zico sempat merasa takut saat terdengar bunyi Krusak dari balik semak.


..."Apa itu Arend.?"...


Ia bahkan mengarahkan head lamp nya ke arah sumber suara.


..."Bukan apa-apa, itu paling binatang malam cari makan. Sudah, abaikan saja, kita cukup fokus pada pendakian."...


Mereka semakin bersemangat ketika puncak terlihat semakin dekat. Pelan tapi pasti mereka terus mendaki menaiki tanah yang tekstur nya berpasir gembur itu.

__ADS_1


Tibalah mereka di puncak Beriringan dengan munculnya Sang Surya yang di nantikan.


..."Sun rise di puncak gunung!"...


Mata Zico berkaca-kaca, dia sangat bahagia sampai memeluk Arend dengan sangat erat. Zico benar-benar menangis karna saking bahagianya.


Ada juga dari anggota anak mapala yang berteriak mengekspresikan kebahagiaannya.


Ada yang bersujud syukur ke tanah berterimakasih pada Tuhan Yang Maha Kuasa.


Keindahan alam yang tak akan cukup jika hanya di ungkapkan dengan kata-kata.


Cahaya Jingga itu begitu terlihat indah menyinari puncak gunung dan sekitarnya.


Alam memang karya Tuhan Yang Sangat Indah.


Suhu waktu itu mungkin 10°, tapi karna sang Surya telah menampakkan kegagahannya, itu cukup memberi kehangatan.


Zico mencari ponselnya, ia baru ingat dengan benda pipih itu ketika mau mengambil foto, sedang Arend menikmati Setian inci dari keindahan itu, ia akan menyimpannya dalan sanubari hati dan memori nya.


..."Arend, aku tidak menemukan ponselku."...


Arend yang sedang menikmati pemandangan menghampiri Zico yang tengah membongkar isi ranselnya.


..."Apa kau tidak lupa membawanya? Sejak kemarin kau sama sekali tidak memegang Banda itu."...


..."Ya Tuhan.! Iya, Ponselku masih di kamarmu. Aahh, sekarang gimana aku mau ambil gambar.?"...


Arend pergi meninggalkan Zico yang mengemas kembali barang-barangnya kedalam tas ransel.


Lalu Arend datang dengan salah satu anak mapala bernama Angga.


..."Kak, tolong foto kami ya.! Nanti fotonya kirim ke akun IG saya."...


..."Siap!"...


Kak Angga menyiapkan kamera nya untuk segera mengambil gambar Arend dan Zico.


..."Wah, keren, pakai kamera Nikon.!"...


Zico terlihat sangat senang, ia memakai tas ranselnya lalu berpose dengan berbagai gaya, dan di berbagai titik yang menghasilkan hasil yang hampir sempurna.


Sedangkan Arend yang tak begitu suka di foto, hanya mengambil gambar satu kali.


Dengan gaya tangan kirinya merangkul bahu Zico yang tinggi nya hampir sama dengannya. Tangan kanan memegang bendera kecil kebanggaan bangsa, Sang Saka Merah Putih.


kaki sebelah kirinya lebih maju sedikit. Dan Arend tersenyum sangat manis di foto itu. Di belakangnya ada kabut tipis dan sang Surya yang jika di lihat di foto sejajar dengan bahunya.


Setelah selesai melakukan foto-foto. Arend, Zico dan anak-anak mapala timnya Kak Angga sarapan bersama.


Jam menunjukkan pukul 8:30. Arend dan Zico memutuskan untuk turun lebih dulu, Kak Angga dan timnya baru akan turun nanti agak siang sekitar jam 10:30.


Kak Angga dan timnya sedang mengerjakan proyek membuat film pendek. Karna itu, ia masih belum bisa turun bersama Arend dan Zico.

__ADS_1


__ADS_2