
Dion dibawa cepat kembali menaiki kapal boat. Seluruh anggota Rain Cosa yang tersisa membereskan Anggota dari klan Kamora. Mark juga di bawa serta. Menuju markas Rain Cosa menggunakan Kapal Boat lainnya.
Aryan menggendong Dion di punggungnya sekuat tenaga. Ia tengah menangis sambil berteriak lari menuju kapal boat, darah segar yang terus keluar dari dada Dion membasahi tubuh Aryan di belakang.
..."Diooonn, bertahanlah, kumohon bertahanlah."...
..."Tu an Ar yan."...
Terdengar suara Dion yang seperti berbisik di ceruk leher Aryan.
..."Dion, Dion, Dion kau harus bertahan, kau harus selamat, ingat Ineke yang menantimu untuk menjadikannya pengantinmu.!"...
Tangis Aryan benar-benar pecah. Kapten segera melajukan Kapal Boat dengan kecepatan maksimal. Paling tidak mereka akan menempuh perjalanan 10 sampai 11 jam untuk sampai di pusat kota.
Rain menghubungi Cen. Memerintahkannya untuk segera membawa seluruh anggota keluarga Aryan kembali ke pusat kota. Dan langsung menuju Rumah Sakit yang sudah di sebutkan.
Rain mencoba mengeluarkan peluru yang bersarang di dada Dion. Untunglah peluru itu tidak terlalu dalam. dan jauh dari jantung. Di bawah tulang selangka.
Dengan hati-hati, Rain menggunakan seluruh kemampuannya yang sudah sering ia lakukan sebelumnya. Dan akhirnya peluru itu berhasil di keluarkan. Rain menuangkan alkohol pada luka tembak Dion untuk mencegah pendarahan yang lebih hebat.
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul 8 Malam. Kemungkinan mereka sampai di pusat kota pagi hari atau paling cepat waktu subuh.
..."Cen, ada apa? Kenapa kita kembali? Dan kenapa kita tidak menunggu Papah dulu?"...
..."Rencana berubah Arend. Kalian akan bertemu dengan Tuan Aryan di pusat kota."...
..."Tuan Cen, semua baik-baik saja kan?"...
Ineke merasa hatinya tidak tenang, seperti ada tekanan, seperti ada kecemasan. Tapi ia tidak tahu itu apa.
..."Aku harap begitu Nona."...
Cen pun membawa mereka kembali.
..."Kenapa kita kembali mah?"...
..."Maaf ya sayang? Sepertinya liburan kita harus kita tunda dulu. Kita bertemu papah dulu ya?"...
Zico sedikit kecewa. Tapi melihat Arend yang menatap ke arahnya seakan berkata.
...'Menurutlah Zico.!"...
Zico pun akhirnya mengangguk dan memeluk Ayla.
Arend mengajak Cen keluar, menuju Out Door.
..."Katakan padaku yang sebenarnya Cen. Apa yang sebenarnya terjadi?...
..."Aku sendiri tidak yakin Arend. Ku rasa, salah satu dari mereka ada yang terluka. Tuan Rain memintaku membawa kalian ke Rumah Sakit pusat kota."...
__ADS_1
Hati Arend merasa tidak tenang, sejujurnya, detak jantungnya saat ini seperti mengalami kenaikan tekanan.
...'Kau harus baik-baik saja pah. Atau aku tidak akan memaafkan mu jika sekali lagi kau meninggalkan mama.'...
...****************...
Denyut nadi Dion mulai melemah. Nafasnya mulai tipis. Aryan benar-benar merasa takut sekarang.
...'Ya Allah... Aku memohon kepadamu, selamatkan lah Dion.!'...
Kapal Boat yang mereka kendarai sudah mencapai Dermaga pribadi Rain. Dengan cepat mereka turun dari kapal, sudah ada mobil Ambulance disana yang sudah standby. Rain di larikan ke Rumah Sakit.
Ayla, Arend, Ineke dan Zico pun sudah menaiki mobil Limousine untuk segera mencapai Rumah Sakit kota.
Matahari mulai menampakkan diri. Menyinari perjalanan mereka yang terasa gelap tanpa gemerlap.
Dion dimasukkan ke ruang IGD. Karna peluru yang sudah di keluarkan, tidak di perlukan tindak operasi. Hanya pertolongan pertama untuk menghentikan pendarahan. Dan segera transfusi darah, karna Dion kehilangan begitu banyak darah.
Kaca jendela setengah badan Ruang IGD yang tidak tertutup tirai membuat Aryan dan Rain bisa melihat para Dokter mencoba menyelamatkan Dion di dalam sana.
Ayla, Ineke dan Arend datang, Zico berada di gendongan Cen.
..."Mas Aryan!"...
Ayla lekas berhambur kedalam pelukan Aryan ketika pertama kali melihatnya. Pelukan yang sangat erat. Sangat lekat.
Aryan menghujani wajah Ayla dengan kecupan. Air mata mereka tumpah ruah.
Arend pun merangkul papahnya, Aryan membalasnya dengan semangat.
..."Papah."...
Lalu Aryan menuju Zico yang berada di gendongan Cen. mengecup seluruh wajah anak laki-lakinya itu. Cen mendudukkan Zico pada bangku deret di dekatnya.
Ineke masih bingung. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sangat di cintai nya.
..."Dion?"...
Aryan terhenti. Ia melihat ke arah Ineke yang tengah celingukan mencari Dion.
..."Dion dimana pah?"...
Arend yang tidak sabaran langsung bertanya. Aryan tidak mampu menjawab. Ia hanya bisa menangis dengan deras.
Ayla baru menyadari jika seluruh punggung Aryan penuh dengan noda darah.
..."Mas Aryan? Darah?"...
Aryan benar-benar tidak mampu berucap. Ia hanya menangis dengan deras.
Rain yang berada di dekat jendela sejak tadi hanya bisa melihat kekalutan keluarga ini. Tatapannya kini tertuju pada satu wanita cantik yang terus menyebutkan nama Dion.
__ADS_1
Pandangan Ineke tertuju pada ruang dalam IGD yang terlihat dari kaca yang tak tertutup tirai. Ineke berlari menuju kaca jendela yang ada Rain disana.
Ineke tak mampu ber ucap, mulutnya hanya terbuka dengan pandangan matanya yang terarah hanya pada Dion yang terbaring tak berdaya di atas ranjang rawat.
Air mata Ineke mewakili segala kesedihan hatinya.
Ayla dan Arend juga mendekat. Aryan berdiri di belakang mereka di dekat Cen dan Zico yang kini duduk di bangku deret.
..."Apa yang terjadi pada Dion?"...
Ayla bertanya pada Rain.
..."Dia tertembak."...
...****************...
*Dalam Bayangan Dion Saat ini
..."Ibu.! Dion kedinginan Bu, Tolong buka pintunya Bu?"...
Dion kecil mengetuk pintu rumah lamanya yang terbuat dari kayu, rumah kecil jauh dari kata sederhana, seperti rumah yang tak layak. Dan lingkungan yang kumuh.
..."Ibu, Dion kedinginan Bu!"...
Dion kecil yang baru pulang dari rumah pengepul sampah usai menjual rongsokannya.
Anak laki-laki kecil berusia 5 tahun itu harus bekerja keras untuk membantu kebutuhan keluarganya.
Dion kecil kedinginan karna sepulang dari pengepul hujan deras mengguyur sepanjang jalan. Hari juga sudah gelap.
Pintu dibuka. Ayahnya menyeret Dion kecil dengan kasar kedalam rumah.
..."Mana uangnya."...
Dion kecil ketakutan, badannya pun menggigil kedinginan.
..."Berikan uangnya atau kau akan ku pukul!"...
..."Dimana ibu?"...
..."Dia sudah pergi dari rumah ini."...
..."Ibu tidak mungkin meninggalkanku."...
..."Aaaahh, sudah cepat berikan uangnya."...
Ayah Dion yang sedang mabuk memeriksa seluruh tubuh Dion mencari uang yang di hasilkan Dion hari ini. Dan akhirnya uang recehan itu ketemu di saku celana pendek Dion yang sudah sangat usang dan banyak lubang juga sobek.
Karena tidak tahan hidup seperti itu, ibunya Dion meninggalkan rumah tanpa mengingat anaknya yang masih sangat kecil. Dion kecil telah di tinggal ibunya. Menorehkan luka dalam di hati Dion kecil.
Terlihat kabut yang sangat tebal. Dion melihat Ineke tengah tertawa lepas di dekat pantai. Ineke sangat cantik dengan balutan gaun putih.
__ADS_1
Ineke terus tertawa, Dion sangat senang melihatnya. Namun saat Dion mendekat, Ineke terlihat menjauh. Dan semua menjadi bayangan putih.