
"Assalaamualaikum"
Akak datang mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam."
Ineke menyambutnya ramah. Ia lantas mengambil alih barang belanjaan yang di bawa Akak.
"Terimakasih, Kak."
"Iya, Ke. Oh ya. Akak harus langsung pulang. Mau bikin pelas jagung."
"Wah, enak itu?"
"Nanti Akak kirimin kesini ya kalo udah Mateng.!"
"Aduh, gak usah, Kak. Ngerepotin. Ineke akan buat sendiri. Nanti Ineke biar beli jagung dari warga."
"Lho, kalo mau bikin Yo Ndak usah beli, kamu ambil saja di tegal Akak. Yo? Ndak usah malu, wes pokoknya Ndang ngambil sendiri. Masih ingat jalanya toh?"
"Masih, Kak. Makasih ya Kak?"
Akak berpamitan pulang. Arend yang mendengar percakapan mereka lantas menghampiri Ineke.
"Kita pergi sekarang saja, Aunty. Ini juga baru jam 3. Arend kangen pingin makan pelas jagung bikinan Aunty."
"Aku ikut". Zico berhambur mendekat. Ineke tersenyum sangat manis. Rain masih terus memperhatikannya dari anak tangga. Dengan pikiran konyolnya yang ingin menculik Ineke sang istri untuk di taklukkan di bawah kendalinya. Bodoh memang.
"Ya sudah, Bilang sama mama dulu gih, di rumah Pak Kiyai Umar. Aunty taruh bahan masakan ini ke dalam dulu."
"Ok, Aunty. Biar Zico yang izin sama Mamah."
Ineke mengangguk. Arend lekas masuk. Ia ingin mengambil ketapelnya.
Ineke melangkah memasuki rumah. Rain bangkit. Ia hendak membantu Ineke yang tengah membawa barang belanjaan. Namun Ineke tak menanggapinya. Ia dengan santai terus masuk kedalam mengabaikan Rain.
Rain tidak peduli. Ia mengikuti langkah Ineke. Terus membuntut. Ineke mengambil pisau yang cukup besar di dapur. Benda itu akan digunakannya nanti untuk mengambil jagung.
Rain tak sengaja menghadang jalan Ineke yang ingin berbalik. Dan Ineke juga tidak sengaja menghunuskan benda tajam itu tepat di depan Rain.
"Heiii?". Teriak Rain ketika benda itu hampir mengenainya.
"Apa kau berniat membunuhku, Nona?." Rain kembali berteriak.
"Apa sesuatu yang sudah mati itu masih bisa di bunuh, Tuan?"
Rain tidak mengerti dengan jawaban yang di berikan Ineke. (Makna tersirat Ineke adalah perasaan Rain yah sudah mati.)
"Minggir, Tuan. Anda menghalangi jalan saya."
Ineke melangkah dengan ketus.
__ADS_1
Rain mencengkeram ke dua telapak tangannya sendiri. Ia merasa geram campur gemas dengan sikap Ineke yang seperti ini.
Ineke dan Arend sudah berada di halaman depan rumah. Zico kembali.
"Sudah. Mamah malah seneng banget. Dia juga kangen makan pelas jagung."
Zico datang membawa kabar setelah meminta izin dari Ayla. Mereka terlihat sangat senang.
Rain berlari, lalu menghentikan langkah mereka.
"Tunggu, aku ikut.".
Ineke terus melangkah tanpa menanggapi ucapan Rain. Ia bergandengan tangan dengan Zico. Sedangkan Arend tersenyum sinis. Ia sepertinya mengerti akan situasi yang terjadi antara Aunty nya dan Tuan Rain.
"Ikut saja, Tuan. Selama kau masih bisa berjalan kaki."
Ucap Arend sinis yang membuat Rain berdecah kesal. Arend tahu jika Rain semakin kesal. Tapi ia justru semakin melebarkan senyumnya dan melangkah santai mengikuti arah Aunty nya. Semakin kesal semakin membuat orang lain bahagia.
Mereka melewati jalan yang menanjak. Tegal Akak berada di lereng gunung. Jalanan yang di lewati sudah lumayan baik. Meski terkadang masih terdapat jalan yang berlubang karna sudah rusak.
Kiri kanan jalan di suguhi dengan pemandangan yang sama. Tegal-tegal milik warga lain.
(Tegal adalah lahan pertanian yang berada di dataran lebih tinggi. Sehingga biasa di tanami jagung, cabai kacang. Sedangkan sawah adalah lahan pertanian yang berada di dataran rendah tergenang air dan lumpur yang di tanami padi. Kangkung, dll. Itu Versi saya. )
Setelah melakukan perjalanan kaki hampir setengah jam. Mereka sampai di Tegal akak. Udara yang sejuk, bersih, pemandangan hijau yang menyegarkan mata. Dan, entahlah. Ini hanya bisa di rasakan. Lebih sulit untuk di gambarkan.
Arend meminta izin pada Aunty nya untuk jalan mengitari area sekitar. Itu sudah biasa. Zico mengikuti. Kini Ineke tinggal berdua dengan Rain.
Ineke menebaskan Pisau nya ke arah jagung yang di tuju. Satu persatu jagung itu terlepas dari pohonnya.
"Biar ku bantu, Ke?"
Rain menawarkan bantuan.
"Anda tidak akan bisa melakukannya, Tuan."
Jawab Ineke sinis. Rain tidak peduli. Ia meraih paksa pisau itu dan mencoba mengambil jagung seperti yang Ineke lakukan tadi.
Memang bisa. Tapi terlihat sangat kaku.
"Aaaahhhh,, aaaahhhh". Tiba-tiba Rain berteriak sekencang-kencangnya. Berlari menjauh dari pohon jagung yang hendak di tebang.
"Ada apa?" Ineke ikut panik.
"Ulat, ulat bulu. Jauhkan makhluk mengerikan itu dari Ku?."
Rain benar benar terlihat ketakutan. Ineke malah tertawa terpingkal melihatnya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Bukan Main.
"Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu?"
Ineke masih terus tergelak. Ia akhirnya berusaha meredam tawanya.
__ADS_1
"Apa kau ini sungguh seorang Bos Mafia? Ha ha ha ha ha ha ha"
Ineke kembali tergelak.
"Sini pisaunya." Ineke meminta pisau yang di pegang Rain. Rain memberikannya dengan tatapan kesal, Karna Ineke menertawakannya yang geli melihat ulat bulu.
Ineke kembali menebang mengambil jagung. Ia membiarkan ulat tadi tetap di tempatnya.
"Ini hanya ulat, Rain. Kenapa takut?"
"Itu sangat menjijikkan." Jawab Rain dengan perasaan geli.
"Bahkan sesuatu yang menjijikkan pun akhirnya bisa menjadi sesuatu yang sangat indah setelah melewati tahap daur hidup, Rain. Begitu juga manusia."
Ineke tersenyum ke arah Rain. Sangat cantik. Ia mengangkat jagung yang di masukkan kedalam karung. Rain terus menatap lekat sang istri.
Ineke mencoba mengangkat jagung yang dimasukkan setengah karung itu. Cukup berat. Bahkan Ineke hampir terpeleset saat mengangkatnya.
Dengan sigap Rain meraih tubuh Ineke menyeimbangkan tubuhnya. Karung yang hendak di angkat Ineke kembali jatuh ke tanah.
Rain merengkuh tubuh Ineke. Menempelkan sempurna tubuhnya pada tubuh Ineke. Mereka saling menatap lekat satu sama lain. Mereka berdua sama-sama terbuai.
Rain merapikan anak rambut Ineke yang menghalangi wajahnya. Dengan gerakan lembut Rain mulai mendekat kan wajahnya dan hendak menautkan bibirnya pada Ineke.
"Aunty? Apa sudah selesai?"
Ineke mendorong cepat tubuh Rain setelah mendengar suara Zico. Ia terlihat salah tingkah.
"Sssshhh*****t". Rain mengumpat kesal.
"Aunty, sudah?". Zico kembali bertanya saat sudah dekat dengan aunty nya.
Ineke tersenyum kaku. Dan mengangguk.
"Biar aku saja yang bawa." Rain mengangkat karung yang berisi jagung ke atas pundaknya. Mereka lantas melakukan perjalanan kembali pulang ke rumah.
Dalam perjalanan mereka sesekali bertemu dengan pendaki yang hendak muncak atau yang sudah turun.
Itu masih di satu jalur. Sebelum nantinya ada dua jalur pemisah. Satu mengarah ke pemukiman warga. Satu ke pos Administrasi.
Tiba-tiba seseorang memanggil Ineke dari belakang. Suara yang tidak asing.
"Ineke?." Teriak seorang pria dari belakang.
Ineke, Rain, Arend dan Zico berhenti. Lalu menoleh ke arah sumber suara. Ineke melebarkan mata seakan tak percaya dengan yang tengah di lihatnya.
Seorang pria tampan berpakaian seperti pendaki pada umumnya berdiri dengan senyum lebar yang terlihat sangat manis. Di samping nya ada seorang anak perempuan yang usianya sedikit lebih muda dari Arend dan Zico. Tangan mereka bergandengan.
"Kak Aaron?." Lirih Ineke. Rain mengernyitkan kening. Ia seperti pernah mendengar nama ini.
'Aaron?.'
__ADS_1