
Suasana tegang juga terasa di rumah Aryan. Di luar maupun di dalam rumah penjagaan begitu ketat, sudah layaknya Paspampres. Bahkan mungkin lebih.
Beberapa heli dari kesatuan ****** Memutar-mutar di sekitaran sana menyisir area. Menghindari adanya penyusupan. Atau pergerakan yang mencurigakan.
Menjalani hidup serasa tidak tenang. Harta dan tahta tidak terasa nikmatnya. Lebih menyenangkan ketika hidup di desa yang sederhana namun nyaman dan aman.
Arend tidak sekolah dan Aryan tidak pergi ke kantor. Mereka di Landa kepanikan. Mereka tengah menunggu kedatangan Ineke.
..."Bagaimana Pah?"...
Untuk kesekian kalinya Arend bertanya.
..."Cen dan Tuan Aryan tidak bisa di hubungi, Arend?"...
..."Bagaimana dengan aunty?"...
..."Sama saja."...
..."Pah, biarkan aku pergi kesana pah. Dengan Kapten."...
..."Tidak."...
Ayla, Aryan dan Zico berteriak serentak. Gila saja kalau membiarkan Arend pergi ke tempat peperangan seperti itu. Itu pertarungan nyata, nyawa taruhannya.
Aryan sudah tahu rasanya berada di situasi seperti itu. Itu seperti terasa selalu dekat dengan kematian. Penuh tekanan. Traumanya tentang Dion seakan kembali menghantui.
Aryan mendekat ke arah Ayla Yang duduk di sofa memainkan ponselnya terus mencoba menghubungi Ineke.
..."Kau lihat ini, Ayla? Kau yang mengirim sahabatmu kesana."...
Aryan menyalahkan Ayla atas situasi yang terjadi saat ini. Ayla menatap Aryan dengan tatapan bersalah. Ia mengusap air matanya dengan cepat. Hatinya begitu sakit mendengar Aryan yang mengucapkannya. Meski ia sendiri juga sudah merasa jika ia bersalah.
Ayla menunduk karna merasa malu. Iya, memang dia yang memberikan dorongan hubungan Ineke dan Rain dulu.
..."Pah. Mama tidak sepenuhnya bersalah."...
Arend mendekat dan menggeleng ke arah Papahnya. Arend begitu mengerti tentang perasaan mamahnya. Meskipun Ayla tidak mengatakannya. Arend yakin jika Ayla menyesali keputusannya.
..."Ini memang salah Mamah Arend."...
Ayla berbicara dengan lirih. Kedua tangannya menangkup wajahnya kasar. Ia begitu takut sekarang jika sesuatu yang buruk terjadi pada Ineke.
Zico menatap Aryan dengan perasaan tidak suka. Zico juga tidak setuju jika Mamahnya Ayla di salahkan.
..."Mah, aku yakin aunty akan baik-baik saja."...
Zico memeluk Ayla mencoba memberikan ketenangan. Ayla tersenyum hambar dan membalas pelukan Zico.
..."Maaf, Ay. Bukan itu maksudku. Aku sedang panik."...
Aryan mengusap wajahnya kasar. Ia dengan tidak sengaja menyakiti hati istrinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Seharusnya Ineke sudah sampai. Tapi tak ada tanda-tanda kedatangannya sama sekali.
...****************...
..."Kau?" Lirih papah Cassandra....
...****************...
__ADS_1
Anak perempuan yang masih kecil di tuntun memasuki kamarnya. Di suruh membuka semua pakaiannya, lalu di jamah layaknya seorang istri.
Tubuh si kecil yang bergetar dan derai air mata yang satu persatu menetes dari ujung mata tak juga menimbulkan rasa kasihan sang Tuan untuk menghentikan keinginan nafsu setannya.
Si kecil yang di baringkan lalu di serang. Di kungkung sang Tuan yang Menyisakan trauma yang mendalam.
Untunglah dalam hati sang Tuan timbul penyesalan. Ia memperkenalkan diri sebagai Om Akbar. Menyembunyikan ID yang sesungguhnya. Dan Memberikan jaminan pendidikan untuk si Kecil.
...****************...
Ineke berdiri berhadapan dengan Pria tua yang sangat di kenalnya itu. Matanya sudah berkaca-kaca.
..."Om Akbar?"...
Rain seperti pernah mendengar nama itu. Ia mencoba mengingatnya, namun tak bisa. Dan terlebih, dia adalah Tuan Nostra, Papahnya Cassandra.
..."Keke?"...
Tangis Ineke pecah. Bahunya sampai bergerak karna tangisnya yang ingin meledak. Satu sosok yang kadang di rindukannya. Berpuluh tahun berpisah akhirnya kembali berjumpa. Jangan tanya bagaimana? Karna Tuhan selalu memiliki takdirnya yang lebih indah dari rencana hamba-hamba-Nya.
Senjata Tuan Nostra yang di pegang Sedari tadi tiba-tiba lepas jatuh ke bawah. Ia seakan tidak bertenaga saking haru nya.
Tuan Nostra mengangkat kedua tangannya seakan ingin memeluk tubuh Ineke. Namun Ineke kaget dan mundur. Iya. Dia tahu alasannya.
Tuan Nostra melihat kedua tangannya sendiri. Dengan tangan itu dulu ia menyentuh Ineke kecil. Dia tertawa tapi menangis. Namun raut mukanya nampak jelas jika ia bersedih.
..."Dia suamimu?"...
Tuan Nostra bertanya. Ineke menjawab dengan mengangguk antusias.
..."Kau mencintainya?"...
..."Cassandra sudah merelakannya."...
Ineke kembali melihat Tuan Nostra. Lalu menoleh kebelakang melihat Rain yang hanya diam.
..."Lepaskan mereka. Kita pulang."...
Keputusan Tuan Nostra membuat semua orang seakan tak percaya. Ini adalah dendam lama yang membara. Bagaimana bisa reda hanya dengan satu panggilan seorang wanita yang memanggilnya 'Om Akbar.' Dan semua selesai.
Anggota Klan Nostra bergerak patuh. Mereka melepaskan anak buah Cosa yang menjadi tawanan dari todongan senjata.
Tuan Nostra menatap Ineke dalam. Begitupun Ineke. Ia hanya mampu menangis mengiringi pertemuan ini.
..."Terimakasih."...
Ucap Ineke lirih dengan rasa yang dalam. Tuan Nostra mengangguk pelan, air matanya menetes sekali, lalu ia melangkah pergi.
Dua orang pria bertubuh besar melepaskan tangannya dari Cassandra. Cassandra berlari menghampiri Rain.
..."Aku akan pergi."...
Rain melihat Ineke yang kini memperhatikan mereka.
..."Pergilah."...
Rain tak ingin jika Ineke sampai kembali terluka karna kebodohannya.
..."Aku tidak akan kembali, Rain."...
__ADS_1
..."Jangan kembali."...
..."Kau tidak akan merindukan-Ku Rain?"...
..."Tidak akan."...
..."Aku akan merindukanmu, Rain."...
..."Jangan pernah."...
Cassandra menangis sesenggukan. Dadanya terasa sangat sesak. Setiap kata Rain terasa seperti sembilu yang menyayat hati.
..."Kenangan kita selalu hadir Rain."...
..."Hapus semuanya."...
..."Rain, aku akan menunggumu."...
..."Cukup Cassandra!."...
Rain berteriak keras. Ia merasa jengah dengan semua rengekan Cassandra. Ineke merasa senang mendengarnya. Tapi ia juga kasihan dengan Cassandra yang pasti sangat terluka.
Dua pria bertubuh besar menarik tangan Cassandra agar pergi dari tempat ini. Cassandra terus menoleh ke arah Rain yang tak lagi melihat ke arahnya. Tatapan Rain sepenuhnya hanya tertuju pada Ineke semata.
..."Obati luka kalian. Dan bersihkan semua kekacauan ini."...
...****************...
Drrtt ddrrtt drrtt
Ponsel Ayla bergetar.
...Ineke...
...Calling,,,,...
Ayla lekas mengangkatnya.
..."Ke?"...
..."Assalamualaikum Ay.?"...
..."Wa'alaikum salam!"...
..."Aunty?"...
Ineke berusaha menceritakan hal yang terjadi secara garis besar. Ia mengurungkan rencananya untuk datang ke rumah Aryan. Ineke meminta keluarganya untuk tidak lagi mengkhawatirkan dirinya.
..."Maaf, aku sudah membuat kalian semua khawatir."...
...****************...
Ineke keluar dari kamar mandi, Ia baru saja selesai membersihkan tubuh. Ineke melihat ke arah Rain yang tengah duduk di tepian ranjang menatap dirinya dengan tatapan bersalah. Ineke memalingkan wajah. Matanya masih begitu sembab karna tangisnya yang terus menyapa.
Kembali bayangan Rain yang bertautan bibir dengan Cassandra begitu mesra hadir dalam benaknya.
..."Brengs_ek!"...
Umpat Ineke kesal melempar handuk yang di pegangnya untuk mengeringkan rambut ke arah suaminya.
__ADS_1
Rain spontan memalingkan muka ketika handuk itu mendarat tepat di wajahnya. Lalu Rain mengambil handuk itu dan diberikannya pada Ineke dengan gerakan sangat lembut. Di iringi Tatapan penuh cinta yang mematikan. Buaya tengah berusaha berdamai dengan pawangnya.