
Tubuh Ayla berada tepat dalam pelukan Aryan, dunia serasa terhenti.
Mata mereka kini beradu, deru nafas mereka bersahutan seakan saling bertukar oksigen, jangan di tanya soal jantung, yang pasti sudah tidak aman lagi. Berdegub begitu hebat.
Aryan memandang wajah Ayla dengan tatapan begitu dalam, tatapan cinta, tatapan rindu yang mendamba.
Aryan tanpa sadar mendekatkan wajah nya ke wajah Ayla dengan posisi kepalanya miring menunduk karna tinggi badannya yang tidak imbang dengan Ayla.
Ayla memejamkan mata, dan bibir itu semakin mendekat hendak bertaut sempurna.
..."YAAAAAAAKKKKK"...
Teriakan Ineke sukses membuyarkan adegan romantis itu, Ayla mendorong tubuh Aryan menjauh dari tubuhnya, dan Ayla melangkah mundur dengan cepat.
Ekspresi mereka berdua saat ini seperti sepasang sejoli yang telah tertangkap warga saat berbuat mesum. Benar-benar memalukan.
..."Aaaahhhhh, apa kalian sudah gila hah? Kalau sudah tidak tahan, cepat masuk kamar! Ah, tidak, nanti suara kalian berisik dan di dengar anak-anak. Sewa saja penginapan.!"...
..."ada apa? Kenapa ribut sekali?"...
Zico keluar sambil mengucek matanya, di susul Arend yang juga masih mengumpulkan kesadarannya dengan mata menyipit baru bangun tidur.
..."Papah?"...
Aryan tersenyum dan Zico memeluknya, Arend tidak peduli lagi dan dia kembali ke kamar melanjutkan tidurnya.
..."Booosss, booss, apa kau melupakan ku? Bos, di luar sangat dingin!"...
Ayla langsung berlari masuk ke kamarnya. Ineke membuka pintu.
Dilihatnya Dion yang menggigil karna berada di luar terlalu lama.
..."Dion? Ya Allah,! Cepat masuk. Dasar, keterlaluan, melupakan teman demi kesenangan."...
Ineke menyindir Aryan, tapi Dion tidak mengerti dan terlebih dia hanya fokus dengan tubuhnya yang sudah menggigil kedinginan.
Ineke menyuruh Dion dan Aryan tidur di kamarnya, dan Ineke masuk ke kamar Ayla melanjutkan tidurnya.
Tak ingin mendapat kan ceramah dari ustadzah dadakan Ineke, Ayla berpura-pura tidur, ia memejamkan matanya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
...'Memalukan, memalukan, benar benar memalukan.'...
...****************...
*Sarapan Pagi Bersama
Ineke masih terlihat jengkel dengan tingkah dua orang di hadapannya yang duduk bersebelahan.
Dion terlihat lahap menyantap menu nasi putih, sayur daun singkong, dengan bumbu campur parutan kelapa, (di daerah saya di sebutnya Kulup), ada tempe goreng, tahu, dan telur dadar.
Arend menikmati sarapannya dengan tenang. Zico sarapan sambil menceritakan hari-hari yang di lewatinya bersama Arend kepada
Papanya Aryan dengan antusias.
__ADS_1
..."Aku akan ke kios sekarang. Kamu tidak perlu ke sana, Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan yang sempat tertunda, dasar tidak tahu tempat."...
Ayla dan Aryan serentak tersedak.
..."Ish ish iiishh, tersedak saja pakek acara barengan. Sudah, aku mau berangkat ke kios dulu, ngapain jadi obat nyamuk disini."...
Ayla dan Aryan saling bertatapan tidak enak.
..."Zico, kita harus segera kembali ke rumah. Kamu juga akan segera masuk sekolah, Papah akan mendaftarkan kamu di sekolah SMP yang kamu inginkan."...
..."Benar papah akan mendaftarkan Zico di sekolah yang Zico inginkan?"...
..."Heemmmm"...
..."Kalau begitu, Zico mau sekolah disini, di sekolahnya Arend."...
Kini Arend yang tersedak, dan Zico hanya nyengir menampakkan deretan giginya yang rapi.
..."Kau tidak bisa sekolah di sekolahan ku, Kau tidak akan betah."...
..."Tidak, aku pasti akan betah, sangat betah malah."...
..."Kau tidak boleh terlalu lama tinggal di rumahku? Itu akan menambah pengeluaran mama ku, memangnya kau tidak punya rumah, sampai harus menumpang?"...
Arend tidak sadar dengan apa yang di ucapkannya.
..."Arend!"...
Aryan tampak bingung, ia kehabisan kata untuk bisa bersuara saat ini.
..."Iya, lakukan saja, kalian orang kaya semua sama saja, menyelesaikan masalah kalian dengan uang."...
Arend beranjak meninggalkan tempat, Zico berlari mengekorinya.
Meski apa yang di katakan Arend bisa sangat melukai hati orang yang mendengarnya, tapi Zico tidak ambil hati, karna dalam pandangannya, Aryan adalah orang yang baik.
Arend adalah pahlawannya yang menyelamatkannya dari gangguan anak tambun waktu itu, bahkan teman-teman lamanya tidak ada yang berusaha menolongnya kala itu, dan itu selalu di ingat oleh Zico.
..."Dion, cari rumah yang bisa kita beli di sini."...
Ayla membulatkan mata menatap Aryan yang juga tak melepas pandangannya dari Ayla.
..."E' em, em Baik Tuan."...
Setelah mendapat bantuan dari kepala desa, Dion berhasil menemukan sebuah rumah yang di tinggal pemiliknya, tapi rumah itu tidak di jual, hanya di sewakan.
Dan nasib yang sangat baik, rumah itu berada tepat di samping rumah Ayla, yang hanya tersekat sebuah pohon mangga.
Dion segera meminta bantuan ibu-ibu disana untuk membersihkan dan merapikan tempat yang akan di tinggali Bosnya itu. Lalu memberi uang yang cukup sebagai rasa terimakasihnya.
Dua koper yang di bawa kemari. ternyata berisi pakaian pakaian Zico dan miliknya Aryan, serta barang-barang lain yang mungkin sangat di butuhkan.
..."Benar-benar jalan yang lancar, apa ini sudah di rencanakan?"...
__ADS_1
Dion menaruh curiga pada pasangan anak dan papah itu.
...****************...
Aryan dan Zico tengah berada di dekat petakan sawah, dari pandangan mereka terlihat Arend yang tengah sibuk menangkap belut.
..."Dia benar-benar mirip seperti mu pah."...
..."He em, dia memang putraku."...
..."Dia pasti akan segera memanggilmu dengan sebutan Papah, Papah tenang saja, Dion akan selalu mendukung papah....
..."Rencana pertama kita sudah berhasil pah, kita hanya harus bersabar."...
..."Kau memang anak papah."...
..."Iya, Zico dan Arend memang anak papah."...
Mereka berpelukan dengan hangat, Arend mencuri pandang dari kejauhan ke arah mereka.
..."Lihat Zico, Arend tengah mengawasi kita, dia pandai sekali berpura-pura."...
..."Ayo Pah, kita kesana."...
Aryan dan Zico menuruni persawahan dengan tekstur tanahnya yang berlumpur, sangat kotor, sesaat Aryan merasa geli dengan keadaanya saat ini, tapi karna merasa bisa lebih dekat dengan Arend putranya, ia pun terbawa suasana dan menjadi terasa menyenangkan.
...****************...
Ineke dan Akak hendak menutup kios INELA. Saat mau menstarter motornya, Ineke baru menyadari jika ban motornya itu kempes.
..."Aiiissshhhh, sialnya aku."...
Dengan terpaksa Ineke mendorong motornya sampai di tempat tambal ban. Dion lewat dan menghentikan mobilnya.
Dion menemani Ineke menambal ban. Ia menawari minuman pada Ineke.
..."Makasih."...
..."Minumlah, kamu pasti lelah mendorong motor."...
Ineke hanya tersenyum kecut.
..."Aku menyewa rumah tadi, di dekat rumah kalian, sesuai perintah Tuan Aryan."...
..."Menyewa rumah? Kenapa? Kenapa tidak tinggal serumah saja dengan kami?"...
..."Tuan muda Arend tak mengizinkannya. Dan tuan muda Zico bersikeras untuk tinggal di desa ini, aku juga harus mendaftarkan tuan muda Zico ke tempat yang sama dengan tuan muda Arend bersekolah."...
Ineke tertawa mendengar cerita Dion.
..."Aku tidak menyangka, ada anak yang bisa tahan dan betah untuk berteman dengan Arend. Dia terlalu pendiam. Dan dingin seperti kulkas"...
Dion dan Ineke saling ngobrol menunggu selesainya tambal ban.
__ADS_1