Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
MEMBAIK


__ADS_3

Ayla tengah mengemas beberapa barang, ada baju, buku, dan mainan anak-anak. Ia ingin mengirim barang-barang itu besok ke panti.


Ia juga berencana akan berziarah ke makam Ayah dan Papa. Aryan sudah setuju, selama satu hari penuh besok Aryan akan terus menemani Ayla.


Zico menuruni tangga berlari ke arah Ayla. Arend pun terlihat di belakangnya berjalan dengan santai.


..."Mau dibawa kemana Mah barang-barangnya?"...


Zico duduk di depan Ayla yang tengah sibuk mengepack di lantai di bantu Sila.


..."Di kirim ke panti, sayang?"...


Ayla tersenyum tulus. Ia memang menyayangi kedua putranya sama besarnya.


..."Mamah sangat baik, suka mambantu orang lain. Untung saja Papah kaya!"...


Zico asal nyeletuk, (Ya? Emang bener sih papahnya kaya!)


Ayla tersenyum mendengar celoteh putranya. Ia lantas mengesampingkan kardus di depannya. Tangannya meraih tangan Zico. Matanya menatap manik Zico dengan teduh.


..."Membantu itu, bukan karena kita mampu, tapi karena kita mau. Membantu bukan selalu tentang harta, bisa dengan tenaga, ilmu, ataupun yang lainnya."...


Kini Zico berbaring di lantai berbantalkan paha Ayla. Ia siap mendengar nasehat ataupun cerita mamanya. Ayla mengelus rambut pirang putranya penuh kasih dan cinta.


..."Dulu waktu kecil, mamah hidup dengan sangat sederhana. Mamah bukan berasal dari keluarga yang berada, tapi Ayahnya mamah selalu mengajarkan untuk berbuat baik pada sesama. Mamah juga tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu, Mamah bahkan tidak pernah bertemu dengannya, Mamah hanya hidup dan tinggal bersama Ayah. Itulah kenapa mamah selalu sayang sama anak-anak panti. Rasanya begitu menyenangkan melihat senyum mereka mengembang."...


Mata Ayla terlihat berkaca-kaca. Zico beranjak. Kini ia duduk menghadap Ayla.


..."Zico beruntung, meski dulu sejak kecil Zico tidak pernah bertemu dengan Mom Zico, tapi Tuhan memberikan Mamah yang terbaik untuk Zico sekarang."...


Zico memeluk Ayla. Arend melihatnya dengan muka datar. Tiba-tiba Aryan yang baru datang masuk rumah dengan berseru.


..."Kabar gembira!"...


Ayla, Arend, dan Zico serentak menoleh ke sumber suara.


..."Wa'alaikum salam.!"...


Ayla menjawab salam membuat Aryan merasa tidak enak karna masuk tanpa mengucapkan salam.


Aryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


..."Assalaamualaikum!"...


Ayla bangkit, menyalami tangan suaminya. Dan Aryan mengecup keningnya.


..."Wa'alaikum salam.!"...


..."Kabar gembira apa Pah?"...


Zico bertanya antusias.


..."Besok sore kita akan terbang ke pulau Tuan Rain! Kita akan menemui Aunty Ineke.!"...

__ADS_1


Sontak raut muka mereka semua sangat senang. Arend bahkan sampai terlonjak. Tanpa sadar ia memeluk papahnya.


..."Papah serius?"...


..."Iya Arend!. Tadi Cen menghubungi Papah. Besok sore kita akan berkunjung kesana."...


..."Terimakasih Pah?"...


Arend kembali memeluk Aryan. Ayla dan Zico sama halnya.


..."Terimakasih Mas!"...


...'Aaaahhh, bahagianya bisa hidup bersama dengan orang-orang tercinta. Menjadi keluarga yang sakinah. Mawadah warahmah.'...


...****************...


*Di Mansion Rain


Rain mendengarkan dengan seksama. Ia menunggu dengan perasaan gamang apa yang akan di ucapakan istrinya.


..."Jika kau terus mendiamkanku, aku tidak yakin akan dapat bertahan. Aku bukan wanita sekuat itu Rain.?"...


Ineke turun dari ranjang, ia berjalan menuju Rain, tangannya meraih tangan Rain dengan lembut. Ineke ingin bicara dari hati ke hati.


..."Rain? Kau mau memaafkan ku?"...


Ineke melihat mata Rain yang masih enggan melihat ke arahnya. Rain hanya menatap lurus tanpa titik yang pasti.


..."Lepaskan tanganmu Ke.!"...


Kini Rain menghadap ke arah Ineke. Menatapnya begitu dalam. Kedua tangannya menyentuh kedua lengan Ineke, rasanya seperti sebuah remasan yang kuat. Ineke mulai merasa gugup dan takut yang dominan.


..."Jangan membuat seseorang mencintaimu, jika kamu tidak bisa membalas cintanya, karna cinta yang tak berbalas itu, SAKIT.!"...


Rain berbicara dengan suara pelan namun sangat tegas. Ia melepas kembali tangannya dengan kasar.


Terdengar deru nafas Ineke. Ia mencoba mengatur emosinya. Ia sendiri tidak berani jika menyatakan cintanya langsung pada Rain. Ia menjadi gugup dan bingung sekarang. Ineke menelan salivanya kasar.


..."Aku memang tidak tahu bagaimana rasa sakitnya cinta yang tak berbalas Rain, tapi aku tahu rasanya sakit karna sepi, itu seperti pisau yang mengiris hati, aku tahu rasanya rindu. Dan itu karna dirimu Rain.!"...


Ineke kembali meraih tangan Rain.


..."Aku pernah merasakan sakitnya karna kehilangan, dan aku tidak mau jika sampai merasakan itu lagi Rain.! Aku merana dengan sikap acuhmu. Aku tidak tahu apakah itu cinta, tapi itu yang aku rasakan Rain."...


Ineke menunduk, menangis tanpa suara. Untuk sesaat mereka hanya saling diam. Raut muka Rain mulai berubah, ia merasakan ketulusan dari ucapan Ineke. Ineke merasa kehilangan dirinya, Ineke merindukannya. Bukankah itu artinya?


..."Kau sakit, badanmu demam, kita akan kerumah sakit, Cen sedang mengurus penerbangan."...


..."Aku tidak mau kemana-mana, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin disini, bersamamu, Ini pasti karna aku tidak menjaga diri dengan baik akhir-akhir ini."...


Ineke sadar dengan kelakuannya beberapa hari terakhir, jarang makan, tidak bisa tidur, bahkan tidur di balkon yang membuat tubuhnya kena terpaan angin malam.


..."Kau yakin?"...

__ADS_1


Ineke mengangguk, hati Rain mulai luluh.


..."Bajumu? Em, M m maksudku, penampilanmu?"...


..."Aku ingin memberikanmu kejutan, ingin minta maaf, malah aku yang terkejut.!"...


Rain menyunggingkan senyum. Istrinya terlihat sangat menggemaskan. Sangat Cantik, seksi dan menawan.


..."Jangan pernah pakai pakaian seperti ini lagi saat keluar kamar, hanya aku yang boleh melihatnya, kau malah dengan sangat nakal menunjukkannya di hadapan semua orang.!"...


Suara Rain terdengar kesal. Tapi Ineke senang mendengarnya.


Cen datang.


..."Tuan, Heli sudah datang!"...


..."Tidak jadi."...


Cen mendongakkan kepala, ia seperti kaget, tapi tidak berani bertanya.


..."Kak.! Mereka masih menunggumu, kau harus segera membuat keputusan.!"...


Tiba-tiba Bian juga datang.


Ineke tidak suka dengan orang itu, apalagi tatapannya yang seolah-olah seperti ingin menelanjangi.


..."Kau istirahatlah dulu, seseorang akan mengantar makanan dan obat untukmu, aku harus menyelesaikan urusanku dulu."...


..."Aku akan menunggumu, aku tidak akan makan dan tidak akan tidur sampai kau datang.!"...


..."Kau?"...


..."Pokoknya tidak akan!"...


Ineke menggelengkan kepalanya berkali-kali seperti bocah.


..."Nakal sekali."...


Rain menepuk pucuk kepala Ineke pelan. Ia hanya bisa membuang nafas kasar menghadapi tingkah Ineke yang kekanak-kanakan.


Ineke menggenggam erat tangan Rain saat ia hendak melangkah pergi. Cen dan Bian memperhatikan.


..."Rain?"...


Ineke seperti enggan di tinggal oleh Rain. Cen membungkukkan badan lalu undur diri. Sedangkan Bian masih berdiri disana.


Rain meraih tengkuk Ineke. Mengecup keningnya dengan mesra. lalu mengecup pipinya.


..."I Love You.!"...


Suara Bariton yang berbisik di telinga itu terdengar begitu indah, seperti mengantarkan Ineke ke angkasa. Seperti terbang bagai kupu-kupu di surga. Ineke melebarkan senyumnya. Rain melangkah pergi.


Ineke masih terus saja tersenyum. Matanya bahkan terpejam saking senangnya. Ia tidak menyadari adanya Bian yang masih berdiri memperhatikannya disana.

__ADS_1


Bian terus memperhatikan Ineke dengan tatapan yang sama. Seorang Pemburu yang sedang mengincar Mangsa.


__ADS_2