
Jam menunjukkan pukul 8:30. Arend dan Zico memutuskan untuk turun lebih dulu, Kak Angga dan timnya baru akan turun nanti agak siang sekitar jam 10:30.
Kak Angga dan timnya sedang mengerjakan proyek membuat film pendek. Karna itu, ia masih belum bisa turun bersama Arend dan Zico.
Arend dan Zico mulai melangkah turun meninggalkan Puncak.
Tiba-tiba datang kabut yang sangat tebal. Jarak pandang tidak lebih dari 1 meter. Dan Zico merasa ingin buang air kecil. Sedangkan di sekitarnya yang terlihat semua sama, hanya Kabut.
..."Zico, nurut, buang air kecil di sini."...
..."Aku tidak mau, aku malu Arend, aku akan ke arah sana, kamu tunggu disini."...
..."Tidak, sudah ku bilang tidak, Kalau kamu tidak nurut, aku akan menghajar mu."...
..."Tapi aku malu."...
..."Malu apanya? Aku juga punya. Sudahlah, cepat . Oh ya, jangan lupa bilang permisi, numpang PiPis.!"...
Akhirnya dengan terpaksa Zico buang air kecil di tempat itu, dan Arend memegangi ransel Zico menghadap kelain arah.
Setelah selesai, mereka melanjutkan perjalanan menuruni puncak gunung.
Arend dan Zico jalan beriringan terus. Sampai tiba-tiba Zico terpeleset dan jatuh melipir ke arah kiri.
..."Arend"...
..."Zico!"...
..."Arend, kaki ku sakit.!"...
..."Tenanglah, jangan menangis, aku akan kesana."...
Jarak pandang yang sangat minim menyusahkan Arend untuk turun ke arah Zico.
Saat tiba di tempat Zico terjatuh, Arend mencoba melihat kaki Zico, Arend membuka celanan panjang Zico dan melepas sepatunya.
Pergelangan kaki Zico sedikit membiru.
..."Terkilir!"...
..."Sakit sekali Arend."...
..."Iya aku tahu, aku juga pernah mengalami nya, ini harus di urut biar sembuh, Pak Kiyai Umar bisa melakukannya. ...
..."Untuk sementara kita gunakan ini dulu, Arend mencari sebotol minyak di tas ranselnya....
..."Ah, pelan-pelan."...
Arend dengan telaten membalur minyak ke pergelangan kaki Zico, lalu kembali memakaikannya sepatu.
__ADS_1
..."Sekarang bagaimana Arend? Aku rasa aku tidak akan sanggup berjalan."...
..."Aku tidak yakin dimana pastinya sekarang kita berada. Aku merasa jika kita tadi terlalu melipir ke kiri. Kabut juga sangat tebal. Jadi aku tidak tahu sekarang kita dimana."...
..."Terus bagaimana Arend?"...
..."Kita diam saja dulu disini, sampai kabut nya menghilang, baru setelah kita tahu dimana posisi kita, kita bisa mencari jalur yang benar."...
Arend dan Zico menunggu hingga kabut menghilang.
Selama berada di tempat itu, Arend jadi banyak bicara, selain bercerita, dia juga banyak tanya tentang hidup Zico sebelumnya.
Terdengar suara Adzan, menandakan hari sudah siang. Dan kabut akhirnya hilang, semua kembali terlihat dengan jelas.
Keadaan itu membuat Arend dan Zico sangat kaget, ternyata mereka sekarang berada di tepian jurang dengan dataran kemiringan tanah kurang lebih 60°. Salah pergerakan mereka akan terjun bebas ke dasar jurang.
..."Aaaahh, aku takut Arend, tinggi sekali."...
..."Tenang Zico, saat berada di alam jangan panik, apalagi takut, percaya pada pertolongan Allah, dan kita akan selamat."...
Arend mengedarkan pandangan, mencoba mencari jalan keluar. Dia tidak akan melakukan kesalahan dengan terus berjalan tanpa arah, itu awal mula orang tersesat dan akhirnya hilang di gunung.
..."Aku tahu, kita berada dimana, kita berada di sisi kiri jauh dari jalur utama kita, kita harus mencoba kembali naik agar bisa menemukan jalur utama. Dan berharap akan bertemu pendaki atau Ranger yang bisa menolong mu nanti....
..."Di sebelah sana, sepertinya kita bisa melewati dataran itu untuk kembali ke atas."...
..."Tidak akan, aku tidak akan meninggalkanmu. Ayo, biar aku bantu."...
Arend mencoba memapah tubuh Zico, Arend juga membawa tas ransel Zico di bagian depan.
Mereka bergerak sangat pelan, selain kaki Zico yang sakit, Medan yang mereka lewati juga cukup berbahaya.
..."Arend, istirahat dulu, aku sangat lelah."...
Arend membantu Zico untuk duduk. Ia memberikan minum pada Zico, Arend sendiri hanya menenggak sedikit air agar tetap cukup.
Arend melihat ada dataran yang cukup lapang, tidak berada di titik kemiringan.
..."Zico, di depan ada tempat bagus untuk istirahat. Ayo, biar aku gendong kau di punggungku."...
..."Ah? Tidak, kau tidak akan kuat."...
..."Aku kuat, percayalah."...
Arend pun menggendong Zico di punggungnya, tas ranselnya di pakai di bagian depan. dan tas ransel Zico di pakai Zico di punggung.
Tak terasa sinar matahari sudah mulai meredup.
..."Ini sudah sore Zico, kita bermalam disini. Tempat ini cukup bagus. Kita tidak bisa melanjutkan perjalanan dengan suasana gelap di tambah kakimu yang terluka."...
__ADS_1
..."Apa kita akan selamat Arend? Atau, kita akan.?"...
..."Kita akan selamat, kita akan sampai rumah dengan selamat."...
..."E em."...
Zico mengangguk, padahal air matanya sudah jatuh.
Arend melakukan tayamum seadanya, ia melaksanakan shalat.
Lalu mendirikan tenda, mengumpulkan ranting ranting kecil untuk di bakarnya nanti malam. sebagai pencahayaan dan penghangat tubuh.
...****************...
Kepanikan jelas terasa di Pos Registrasi. Dion semakin terlihat takut dan kesal.
..."Ini sudah jam 5 Sore pak, Bapak bilang Arend dan Zico akan kembali saat pukul 3."...
Saat Dion tengah berdebat hebat dengan para petugas disana. Anak mapala Tim nya Kak Angga tengah melakukan registrasi laporan telah kembali/turun.
Mendengar perdebatan mereka, Kak Angga bisa menangkap bahwa yang di bicarakan mereka adalah dua anak laki-laki yang ikut muncak bareng sama Timnya. Ia pun segera menghampiri.
..."Apa yang kalian bicarakan adalah 2 anak ini?"...
Kak Angga menunjukkan foto Arend dan Zico yang di ambilnya tadi pagi.
..."Iya, benar, itu tuan muda Arend dan tuan muda Zico. Kau tahu dimana mereka?"...
..."Mereka sudah turun lebih dulu, sekitar jam setengah sembilan, seharusnya mereka sudah sampai disini lebih dulu dari pada Tim saya."...
Dion semakin takut.
...****************...
Kini jam menunjukkan pukul 8 malam.
Aryan tiba di pos registrasi bersama Ayla, Ineke, Pak Bodyguard, dan di temani oleh beberapa anggota TNI masuk ke dalam pos.
Sedangkan di luar pos nampak begitu banyak anggota Tim SAR ( Search And Rescue), yang di koordinir BASARNAS, TNI, POLRI, dan BPBD.
Tim Ranger yang awalnya belum menyetujui untuk di lakukannya pencarian, karna menurut aturan orang di nyatakan hilang setelah 1x24 jam, mengalah saat melihat kekuatan Aryan dengan membawa Anggota yang bukan kaleng-kaleng, Akhirnya pencarian Arend dan Zico di lakukan.
..."Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya, kedua putraku harus segera di temukan."...
Aryan sibuk melakukan panggilan. Ia sadar akan kemampuannya mendaki sangat buruk. Dengan terpaksa Aryan, Ayla dan Ineke hanya menunggu di pos registrasi. Karna jika dia memaksakan diri ikut pendakian, yang ada akan menggangu proses.
Sedangkan Pak Bodyguard ikut melakukan pencarian. Lewat Pak Bodyguard Aryan terus meminta perkembangan.
...****************...
__ADS_1