
Selama beberapa hari selepas kejadian hari itu, Ayla terus memikirkan apa yang harus dilakukannya, haruskah ia melangkah pergi meninggalkan Aryan dan melanjutkan hidupnya, atau, haruskah ia tetap tinggal seperti wasiat mendiang ayah bahwa istri harus tetap terus setia mendampingi suami, apapun yang terjadi, kecuali sang suami yang sudah pergi meninggalkan dan menjatuhkan talak untuk sang istri.
Sedangkan disini, Aryan tidak bersedia menceraikan Ayla, kecuali, jika Ayla mau, Ayla bisa datang ke pengadilan agama untuk menggugatnya.
Ayla memutuskan untuk tetap tinggal, dia berusaha menerima takdir tuhan yang sudah di garis kan untuknya, saat di rumah, ia merasa tidak betah, saat di luar, ia merasa ingin kembali pulang, begitu seterusnya, hingga ia memutuskan saat di rumah ia menyibukkan dirinya dengan mengerjakan apa saja yang bisa membuatnya merasa sibuk, dan raganya lelah, dengan harapan rasa lelah di hatinya menghilang tergantikan oleh lelah raganya.
Seperti pagi ini, meski assistant rumah sudah membersihkan lantai, Ayla justru kembali mengepel seluruh lantai, mulai atas sampai bawah, ia melakukanya selama setengah hari, meski para assistant rumah sudah melarangnya, dan bahkan berkata:
..."Apakah kerja kami tidak becus nyonya? Apa kerja kami tidak benar? Hingga nyonya kembali mengerjakannya ulang?"...
Pengurus rumah yang usianya sudah tidak muda lagi itu menangis.
..."Tidak bu, saya hanya ingin menyibukkan diri saja."...
Ayla selalu berusaha sopan saat bicara dengan siapa saja lawan bicaranya, meski dengan ekspresi datar dan terus mengerjakan tugas-tugas apa saja yang bisa membuatnya beraktifitas di luar kamar.
Saat siang tiba, Ayla kembali mencuci ulang semua piring dan perabotan dapur, biasanya kumandang adzan memberikannya waktu untuk beristirahat, karna harus melaksanakan kewajiban seorang muslim, tapi kali ini dia sedang kedatangan tamu bulanan nya, jadi Ayla hanya mendengarkan kumandang adzan sebentar lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.
Keringat bercucuran dari kening nya, bahkan wajahnya terlihat sangat menyedihkan, ia lebih terlihat seperti assistant dari seorang nyonya, air matanya mengalir bercampur dengan keringatnya, benar benar Ayla yang menyedihkan.
__ADS_1
Hilang sudah Ayla yang dulu periang, aktif, supel, cerewet, kini yang ada hanyalah Ayla yang pendiam, Ayla yang murung, introfert, dan Ayla yang menyedihkan.
..."Sudah nyonya, HENTIKAN.!"...
Pengurus rumah yang biasa Ayla panggil Bu Nana itu merebut paksa piring yang di cuci Ayla dan lantas membantingnya ke lantai dengan sengaja.
Suara tangis Bu nana begitu keras dan membuat para pekerja yang lain ikut menangis.
Sedangkan Ayla hanya diam membisu, dengan air mata yang terus mengalir dan keringat yang bercucuran. Akhirnya Ayla pun menghentikan aktifitasnya dan pergi beranjak kelantai atas menuju kamarnya.
Para penghuni rumah tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan rumah tangga majikan mereka, tapi Ayla sempat memperingatkan mereka untuk bekerja sewajarnya dan tidak ikut campur urusan orang lain. bukan Ayla bersikap tidak sopan, tapi Ayla tidak ingin urusan pribadinya menjadi gunjingan banyak orang.
Ayla menghindari Aryan dengan cara tidur sebelum Aryan pulang, atau terkadang hanya pura pura tidur, kembali seperti itu hal yang ia lakukan, jika dulu ia masih menyempatkan dirinya untuk sarapan bersama, kini seusai shalat subuh ia akan kembali berpura-pura masih tidur dan membiarkan Aryan sarapan sendiri, meski terkadang Aryan tidak pulang malam, dan juga pergi tanpa sarapan pagi.
Orang-orang rumah tidak tahu pasti jika Aryan telah menikah lagi dengan wanita lain yang di cintai nya, setahu mereka tuan mudanya itu mengakhiri hubungannya dengan nona Nesa sebelum menikah dengan nyonya nya saat ini yakni Ayla, namun yang mereka tahu hanya lah, rumah tangga majikanya itu tidaklah harmonis.
Meski tidak pernah terdengar keributan antara mereka, tapi jelas terlihat perang batin yang sedang meluluh lantak kan kehangatan rumah ini yang sudah lama hilang sejak kepergian nyonya besar, istri papah, ibunya Aryan.
Sejak masuk kamar tadi siang, Ayla mengunci diri di kamar, ia sama sekali tidak keluar, meski Bu Nana atau assistant yang lain sudah berusaha memanggil nya, sekedar untuk meminta Ayla untuk makan, namun Ayla mengabaikannya, dan saat pintu hendak di dobrak karna takut terjadi sesuatu pada nyonya mereka, Ayla berkata.
__ADS_1
..."Aku baik-baik saja Bu Nana, biarkan aku sendiri, aku ingin beristirahat."...
Sampai malam Ayla masih terjaga, hingga pukul 12:45 menit Aryan belum juga pulang, Ayla fikir, malam ini Aryan kembali tidak pulang, dan seperti biasa mengabaikan Ayla yang entah seperti apa hidupnya.
Tapi tiba-tiba terdengar keributan dari lantai bawah, bahkan terdengar seperti suara vas yang pecah karna di banting.
Ayla lekas pergi keluar dan sesampainya di tangga ia menghentikan langkahnya ketika melihat papah yang datang dengan mas Aryan dengan wajah mas Aryan seperti habis kena pukul di bagian bibir dan pelipisnya.
..."Apa kamu benar-benar ingin melihat Papah mu ini mati Aryan,? Bisa-bisanya kamu menikah dengan Nesa!! Bagaimana kamu bisa melakukan ini pada Ayla Aryan??" Apa kurang nya Ayla untukmu?"...
Papah begitu marah pada Mas Aryan, ia berteriak ke memarahi Mas Aryan sambil menangis, dan lagi, karna tidak dapat menahan emosinya papah kembali membanting benda disana tepat di atas meja kaca, dan memukul wajah mas Aryan hingga tubuh mas Aryan tersungkur.
Terlihat mas Aryan hanya terdiam dengan raut mukanya yang juga menahan emosi, matanya terlihat merah, dengan rahang nya yang tegas. Jika ingin membalas pukulan Papah, sudah bisa di pastikan mas Aryan akan menang, tapi ia memilih diam dan menerima pukulan dari Papah.
..."Pukul pah, pukul, bukan Papah yang sebenarnya ingin mati, tapi Nesa pah, dia yang sudah hampir kehilangan nyawanya karna penghianatan yang Aryan lakukan dengan menikah dengan Ayla. Dan itu karna papah yang memaksaku untuk menikahi Ayla, gadis yang tidak aku cintai. Dengan mengancam ku bahwa papah akan bunuh diri?. Jika semua orang ingin mengakhiri hidupnya, oke,,, kalau begitu, ayo pah, ayo, kita lakukan ini semua sama-sama."...
Orang-orang rumah semuanya berkumpul di ruang tengah itu menyaksikan kedua tuanya berdebat, beberapa di antaranya ikut menangis sedih melihat kekacauan pada tuan tuanya di rumah ini.
..."Keluar, kamu tidak seharusnya ada disini, ini bukan lah rumah mu." ...
__ADS_1
Ayah mencoba duduk dengan tertatih di sofa dekat meja yang sudah remuk.