Istri Partner Ranjang

Istri Partner Ranjang
KEMBALI KE RUMAH ARYAN


__ADS_3

Arend memasuki ruang rawat setelah melepas kejenuhannya berkeliling rumah sakit. Ia menghentikan langkahnya ketika setiap pasang mata mengarah padanya.


..."Tuan Muda Arend sudah datang. Ayo, kita segera pulang."...


Dion mengambil alih mendorong kursi roda Zico.


Aryan, Ayla, Arend dan Zico satu mobil. Dion dan Ineke naik mobil yang lain. Perjalanan menuju rumah Aryan.


..."Arend, nanti kamu tidurnya sekamar dengan ku saja ya?"...


Arend tidak menanggapi, ia membaca bukunya pada bab selanjutnya.


..."Pah, nanti Papah sama Mamah tidur di satu kamar juga kan?"...


Aryan kaget dan mengerem mobilnya secara mendadak.


..."Aaaahhh"...


Teriakan Zico paling keras. Karna kakinya terasa sakit. Mengalami sedikit gesekan.


..."Zico kau tidak apa-apa?"...


Arend dengan cepat mencoba melihat ke arah kaki Zico.


..."Tidak, hanya sedikit kaget."...


..."Apa kau ini Driver Ilegal? Apa kau punya SIM? Kalau tidak bisa menyetir, suruh Supir.!"...


Kini Arend mencurahkan emosinya pada Aryan.


..."Maaf anak-anak, Papah kaget."...


Aryan melihat ke arah Ayla yang juga tengah melihat ke arahnya.


Di mobil Dion dan Ineke, mereka masih terlihat canggung. Dion ingin segera menyelesaikan kegundahan hatinya ini.


...'Benar kata Tuan Muda, jika di terima, menikah, jika di tolak, Bagaimana jika di tolak? hah!'...


Dion takut jika menghadapi kenyataan Ineke akan menolaknya.


...'Bagaimana ini?'...


Berkali-kali Dion melihat ke arah Ineke. Lalu kembali melihat ke arah depan. Melihat Ineke lagi, lalu ke arah depan lagi.


..."Tuan Dion? Bisakah kau berkonsentrasi saat mengendara?"...


..."Aaah? Oh, iya.!"...


...'Bodoh, ayo cepat katakan sekarang,!'...


..."Eemm, Nona Ineke? Bagaimana?"...


..."Apanya yang bagaimana?"...


..."Soal tadi?"...


..."Soal tadi yang mana?"...


..."Yang di katakan Tuan Muda Arend."...

__ADS_1


..."Yang mengatakannya Arend kan? Bukan kamu?"...


..."Haaahh??"...


Dion mengerem mobilnya. Ia mencoba mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan dari tadi. Jantungnya juga terasa mengalami kenaikan tekanan.


Dengan cepat Dion menghadap Ineke, ia menggenggam tangan Ineke, tangan Dion terasa sangat dingin.


..."Nona Ineke, Aku mencintaimu, Maukah kau menikah denganku?"...


Dengan sekali tarikan nafas Dion mengatakannya dengan cepat, Ineke terpaku. Ia tidak bisa mengeluarkan kata apapun. Badannya juga terasa kaku. Tidak bisa di gerakkan, tapi sorot matanya tidak lepas dari manik Dion.


Tanpa aba-aba dan dengan gerakan cepat Dion meraih tengkuk Ineke, ia menautkan bibirnya dengan bibir Ineke, Ineke membelalakkan mata karna kaget.


Cukup lama, Dion meresapi, menyesap, merasakan, menikmati kelembutan itu, Ineke mulai memejamkan matanya.


Dion mulai membuat pergerakan, sekali, dua kali, dan seterusnya mengeksplore bagian dalam mulut Ineke.


Dibawah sana sudah mulai berontak, tempat penampungannya terasa sesak. Dan dengan nafas Ter-engah Dion pelan-pelan melepaskan tautan itu. Kening nya dengan kening Ineke beradu saling memejamkan mata.


..."I Love you."...


Dion kembali berlirih.


...****************...


Mobil yang di kendarai Aryan tiba lebih dulu memasuki gerbang rumahnya. Beberapa assistant rumah sudah berdiri disana. Termasuk Bu Nana yang masih tinggal disana tapi tidak di perbolehkan bekerja, tugasnya hanya mengawasi assistant lainnya.


Aryan dan Ayla membuka pintu mobil, keluar secara bersamaan.


Bu Nana melihat Ayla dengan tatapan bingung, wanita cantik di hadapannya ini seperti tidak asing baginya.


..."Bagaimana kabar Bu Nana?"...


Mendengar suara Ayla Bu Nana baru bisa mengenali Nyonya nya itu.


..."Nyonya Ayla?"...


Mereka pun berpelukan dengan haru.


Arend membuka pintu, Bu Nana semakin kaget, ada duplikat Tuan Aryan. Sangat mirip.


..."Dia?"...


..."Namanya Arend, dia putra ku Bu!."...


Bu Nana menangis haru. Perlahan Bu Nana menghampiri Arend. Matanya sudah berkaca dan akhirnya tumpah juga.


Arend melihat ke arah mamanya seakan mencari jawaban. Ayla tersenyum lalu mengangguk.


..."Tuan muda.!"...


Bu Nana memeluk Arend, ia menangis sejadi jadinya. Bu Nana orang yang menyayangi Ayla dengan tulus. Arend membalas pelukan Bu Nana, terlihat bibirnya tersenyum meski sangat tipis.


Aryan menggendong Zico keluar dari mobil.


..."Kau melupakan aku Bu Nana?"...


..."Tuan Muda?"...

__ADS_1


Bu Nana melepas pelukannya dari Arend menoleh ke sumber suara. Zico tengah berada di gendongan Aryan dengan kaki yang di gips.


..."Tuan muda Zico? Ada apa ini? Kenapa? Kenapa dengan kaki Tuan muda Zico?"...


..."Tidak apa-apa Bu Nana. Hanya kecelakaan kecil."...


Mobil Dion dan Ineke sampai. Mereka semua memasuki rumah Aryan.


Begitu banyak obrolan yang terjadi diantara Ayla dan Bu Nana. Mereka mengobrol di meja makan dekat dapur.


Aryan menemani Zico dan Arend di kamar Zico. Ineke mengobrol santai di halaman belakang bersama Dion.


Sudah di putuskan, Ineke akan tinggal di rumah Aryan, Arend akan sekamar dengan Zico. Dan Ayla menerima permintaan Aryan untuk kembali ke kamarnya, berbagi ranjang yang sama dengannya.


Dan Arend, Ayla serta Ineke akan kembali ke desa setelah Zico sembuh.


...(Itu juga kalau takdir tidak berkata lain. He he)...


Sebelum Ayla menyetujui ia akan kembali ke kamarnya dulu, Ayla meminta Aryan untuk berjanji tidak akan menyentuhnya tanpa persetujuan darinya. Dan pasti Aryan meng-iyakannya.


...('Kalau tidak khilaf)...


Ayla menaiki tangga menuju kamarnya setelah ngobrol panjang lebar dengan Bu Nana.


...'Semua masih sama.'...


Bahkan foto pernikahan mereka yang berukuran besar masih terpajang di dinding yang sama.


Ayla memasuki kamar.


..."Assalaamualaikum!"...


Kamar itu nampak kosong. Tidak ada Aryan disana.


Ayla mulai melihat kamarnya dengan perasaan yang sulit di jelaskan.


Meja rias itu, terlintas ingatan pertama kalinya dulu dia melihat pantulan dirinya dalam cermin dengan balutan kebaya menjadi seorang pengantin.


Ayla menyentuh barang-barang Aryan yang ada di atas meja rias, krim wajah, handbody, parfum, sisir, jam tangan, dll. Masih sama.


Mengingatkan dirinya tentang pertama kalinya dulu ia memasuki kamar ini.


Lalu Ayla berpindah ke ranjang. Aryan yang merenggut Paksa untuk yang pertama kalinya, dan itu disaat ia tengah berduka kehilangan sosok seorang Ayah. Ayla menangis mengingat semuanya.


Ayla dulu yang bersedih terpuruk seorang diri, menangis tanpa suara karna batinnya yang tersiksa.


Ayla dulu yang dengan terpaksa harus menerima ranjangnya di bagi dua. Ayla dulu yang telah jatuh cinta pada suaminya dan menerima balasan sebuah pengkhianatan. Ayla dulu yang selalu merasa sakit yang tak sanggup jika hanya di ungkapkan dengan kata-kata. Kembali Ayla menangis dan memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


Kini Ayla melangkah ke satu ruang, yang terdapat dua lemari, lemari yang terbuat dari kaca. miliknya dan milik Aryan.


Semua masih sama, terlihat rapi dan bersih. Seperti yang di katakan Bu Nana ketika di bawah tadi,


..."Tuan Aryan meminta saya agar menjaga seluruh isi rumah ini agar sama persis seperti ketika anda masih disini nyonya.!"...


Bu Nana juga menceritakan bagaimana penderitaan Tuan nya Aryan. Yang begitu kehilangan dirinya setelah Ayla pergi tanpa jejak bersama Ineke.


Saat Ayla membuka lemarinya dan mengambil satu baju yang dulu pertama kali di pakai setelah membersihkan diri di malam pertamanya. Ia menangis sambil tersenyum mengingat tak ada kerudung di sana, dan kembali mengenakan kerudung pengantinnya meski akhirnya di lepas karna tidak nyaman.


Tiba-tiba pintu di buka.

__ADS_1


__ADS_2