
Hari sudah menjelang siang, karena kedatangan tamu secara tiba-tiba, Ineke dan Ayla sibuk mempersiapkan makanan di dapur, sedangkan Arend dan Zico sudah terlelap di kamar Arend.
Dion menemani Ineke dan Ayla yang sedang memasak. Kedua Pengawal bawahannya Dion tidur di ruang tengah depan tv.
..."Kebetulan sekali ya, kalian pernah ketemu dan sekarang bisa ketemu lagi."...
Ayla masih terus menggoda Ineke yang kini sudah mulai terlihat kesal dengan tingkah sahabatnya itu. Sedangkan Dion terlihat mengembangkan senyumnya.
..."Jodoh mungkin."...
Celetuk Dion.
..."Waaahh, bisa jadi."...
Ineke yang kesal membanting senampan minuman yang baru selesai di buatnya. Menatap tajam kearah Ayla dan Dion secara bergantian. Lalu keluar meninggalkan mereka.
..."Emmm, Maaf ibu Arend. Boleh saya bertanya sesuatu? Dari tadi saya tidak melihat suami anda, maksud saya Ayah Arend."...
Ayla yang sedang menggoreng ikan menghentikan aksinya. Tiba-tiba terdengar Ineke yang menyahut sembari kembali masuk, dengan nada yang penuh emosi.
..."Ayah Arend sudah Mati. Dan dia tidak boleh di sebut-sebut lagi di rumah ini."...
..."Oh, maaf, saya tidak tahu."...
Ineke kembali melangkah keluar dengan kesal.
Ayla hanya tersenyum kecut.
Makanan sudah tertata rapi di atas meja. Ayla membangunkan kedua jagoan itu untuk segera ikut makan siang. Kedua Pengawal sedang bergantian membersihkan diri. Dion di depan teras mengamati Ineke yang tengah bertelefon dengan Akak yang sedang menjaga kios.
Datang sebuah Mobil mewah menuju rumah Ayla. Dion langsung berdiri dari duduknya. Ineke hanya menoleh sebentar lalu kembali berbicara dengan Akak lawan bicaranya di telepon.
Aryan keluar dari mobil, dengan penampilan yang sudah bersih, dan rapi, dengan balutan jas dan setelan celana warna Hitam. Sesaat ia membenahi jasnya. Lalu melangkah ke arah Dion. Ineke masih belum menyadari kehadiran Aryan karna menghadap ke lain arah.
..."Bos, selamat datang."...
..."Dimana Zico?"...
..."Tuan muda ada di dalam. Ini nona pemilik rumah."...
..."Baiklah Akak, kalau benar-benar sepi dan Akak mau menutup INELA. Tutup saja. Akak pulang dan istirahat."...
__ADS_1
Ineke mengakhiri telponnya.
..."Nona Ineke, perkenalkan ini Bos saya, Papanya Zico."...
Ineke menoleh dan melihat Aryan berada tepat di depan matanya. Aryan dan Ineke membulatkan matanya saat saling berhadapan. Jantung keduanya serasa mau lompat. Saking kagetnya, Ineke hampir saja terjatuh kebelakang, dan Dion dengan sigap menangkap tubuhnya.
Mereka berdua dalam keadaan syok yang Ter amat sangat. Keduanya menegang. Dan tanpa kata.
..."Nona Ineke."...
Sesaat Ineke menoleh ke arah Dion yang tengah memeluk tubuhnya yang hampir jatuh, melepas pandangannya dari Aryan dan kembali menatap Aryan dengan tatapan yang sama.
..."Aunty, Uncle, ayo buruan masuk, semua sudah menunggu di meja makan.!...
Ayla keluar untuk memanggil Ineke dan Dion.
Aryan mendengar suara yang begitu sangat dirindukannya itu, langsung ia menoleh kearah Ayla datang dengan sorot mata yang sudah merah dan berair.
Kini tubuh Aryan yang hampir terjatuh karna kaget, sebelum akhirnya pak supir yang tadi ikut keluar mobil menangkap tubuhnya agar tetap tegak berdiri.
Dion merasa sangat bingung dengan situasi ini. 'ada apa ini?'
..."Ayla."...
Lelaki yang begitu ia cintai, lelaki yang sangat ia rindukan, lelaki yang selalu datang hanya dalam mimpinya.
Seorang Aryan, suami yang hanya menjadikannya sebagai Istri Partner Ranjang.
Seorang Aryan yang mempoligami ikatan pernikahannya.
Seorang Aryan yang tidak bisa memberikan hatinya meski hanya setitik cinta.
Ayla menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia tidak percaya dengan apa yang tengah di lihatnya saat ini, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia lupa cara bernafas dengan benar. Air matanya sudah membanjir.
Aryan mulai melangkahkan kakinya yang tiba-tiba terasa sangat berat, Aryan berjalan seakan ada beban ber ton-ton Ter ikat pada kakinya. Ia hanya bisa menangis. Dengan mulut yang sebentar terbuka sebentar menutup seperti ingin mengucapkan sesuatu namun tercekat di tenggorokan.
Aryan terus melangkah perlahan mendekati wanita pujaannya itu. wanita yang baru ia sadari di akhir kisah pernikahannya jika ia sangat mencintainya, wanita yang sangat ia sayangi, wanita yang sangat ia rindukan.
Tanpa sadar, Ayla pun melakukan hal yang sama, di sertai derai air mata yang membanjir ia mulai melangkah mendekati Aryan.
Saat mereka berdua saling berhadapan hanya dengan jarak kurang dari satu meter. Mereka berhenti secara bersamaan.
__ADS_1
Keduanya seperti ingin mengatakan sesuatu, namun itu sangat sulit untuk bisa keluar.
Tiba-tiba secara bersamaan, Aryan membentangkan tangan ingin memeluk, sedangkan Ayla mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.
Sesaat mereka tersenyum dalam tangis bersama, lalu bergantian, Ayla yang kini membentangkan tangan, dan Aryan yang hendak berjabat tangan. Benar-benar keadaan yang kikuk.
Ineke kembali tersadar dari kekagetannya, ia melepas tangan Dion dengan kasar, lalu dengan tarikan keras ia menarik tubuh Aryan menjauh dari Ayla hingga Aryan hampir terjatuh dan di pegang Dion.
..."Pergi kamu dari sini. Bagi kami kau itu sudah mati. Pria Br*ngs*k."...
Ineke berteriak sekuat tenaga. Matanya nanar dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
Arend dan Zico serta kedua Pengawal bawahannya keluar karna mendengar teriakan-teriakan Ineke penuh emosi yang sudah tidak dapat di tahan lagi.
..."Mah, ada apa?"...
..."Pergi kamu dari sini. PERGIII!"...
..."Ineke, Ineke, Ineke hentikan, Ineke tenanglah, Ineke."...
Ayla berusaha memeluk sahabatnya itu yang terus mencoba mendorong tubuh Aryan untuk pergi.
..."Apa Ayla? Kenapa? Apa kamu akan menerima kembali laki-laki B*jiing*n ini? Laki-laki yang sudah membuat hidup mu menderita?"...
Teriakan Ineke begitu keras. Hingga mengundang beberapa tetangga termasuk pak kiyai Umar yang rumahnya paling dekat dengan rumah Ayla.
Ayla hanya menangis tanpa dapat menjawab kata-kata Ineke.
Sekali lagi dengan emosi Ineke mendorong tubuh Aryan dan Dion untuk segera pergi dari rumahnya.
Pak kiyai Umar datang segera melerai keributan itu.
..."Ada apa ini? Ada apa ini nak Ayla? Kenapa kalian ribut?"...
Ayla, Ineke dan Aryan hanya menangis tanpa sanggup menjawab. Sedangkan Dion dan yang lainnya hanya terdiam membatu karna mereka juga tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Arend adalah anak yang genius. Hanya dengan melihat situasi ini, ia bisa memahami jika pria tampan yang baru datang kerumahnya saat ini itu adalah ayahnya. Orang yang sudah pasti menyakiti dan membuat hidup mamanya menderita.
Aunty Ineke adalah wanita yang sangat baik kepada semua orang, dia tidak mungkin akan bersikap begitu buruk pada orang yang tidak melakukan kejahatan pada nya.
Arend mendekati Aryan dengan tatapan penuh kebencian, gigi giginya saling ber Adu menahan amarah. Dan dia hanya mengucapkan satu kalimat dengan nada datar, pelan, namun penuh penekanan.
__ADS_1
..."Pergi, atau aku akan menghajar mu."...