
Jam menunjukkan pukul 21 malam. Masih sore jika berada di perkotaan. Jalanan masih ramai mobil serta motor yang lalu lalang.
Lampu-lampu malam yang berwarna warni memeriahkan kota. Dengan kecepatan Sedang Aryan membelah jalanan menuju kantornya.
Aryan sendiri merasa penasaran dengan kedatangan Tuan David yang tak bisa menunda pertemuan hingga esok hari.
Aryan tiba di kantor, memarkir mobil dan bergergas ke lantai atas. Kantor sangat sepi, bahkan beberapa petugas yang biasanya berjaga atau karyawan yang lembur tak nampak di sana.
Setelah sampai di lantai ruangannya. Aryan melihat meja Gita sang sekretaris yang tadi menelfonnya. Tidak ada siapa-siapa disana.
...****************...
Ineke dan Dion berada di teras rumah di desa. Mereka tidak memiliki bahan untuk mengobrol hanya saling melempar senyum.
Saat tiba di desa tadi sore mereka langsung menemui kepala desa dan Ke rumah Pak Kiyai Umar, semua orang turut senang jika itu adalah keputusan terbaik yang mereka ambil.
Semua surat-surat juga sudah siap. Dion dan Ineke berniat akan kembali ke kota besok selepas waktu subuh.
Dion dan Ineke lagi-lagi hanya saling pandang, lalu tersenyum. Suara-suara binatang malam di desa mengiringi kebersamaan mereka, serasa musik romantis dari musisi akustik. Berdawai dengan indah.
Drrrttt drrttt drrrttt..
Ponsel Dion bergetar. Dion melihatnya.
..."Nomor baru?"...
..."Siapa Dion?"...
..."Entah lah.!"...
Dion mengangkat panggilan itu.
..."Halo!"...
..."Dion!"...
Mendengar suara dari balik ponsel itu Dion kaget dan lekas berdiri. Ia membulatkan matanya karna kaget yang luar biasa.
...****************...
Aryan berhenti sejenak di meja Gita. Ia melihat tas selempang Gita masih ada disana.
..."Kemana dia?"...
Terdengar suara sangat keras dari dalam ruangan kerjanya. Aryan kaget dan langsung menoleh ke sumber suara.
Aryan pun bergegas membuka pintu ruangannya.
Ia membulatkan mata kaget melihat keadaan seisi ruangan. Ruangannya yang sudah berantakan.
Gita duduk di lantai dengan seorang pria bersetelan serba hitam menodongkan pistol ke arahnya.
Aryan semakin kaget melihat Tuan David yang sudah tersungkur tengkurap di lantai. Matanya melotot, dibawahnya bersimbah darah.
Sekitar ada 20 Orang dengan bersetelan hitam lengkap memegang senjata api semuanya. Mereka semua mengarahkan senjata itu ke arah Aryan secara bersamaan.
Satu orang mengintruksikan agar Aryan masuk dengan menggerakkan pistolnya. Aryan memasuki ruangan pelan sambil mengangkat tangan. Lalu Orang bersenjata tadi mem 'bangkik' tangan Aryan kebelakang. Memakaikannya sebuah borgol.
__ADS_1
...'Apa yang sedang terjadi?'...
Jelas Aryan merasa kaget dan takut yang dominan saat ini. Ia merasa tidak punya musuh kecuali pesaing dalam bisnis. Tapi para pesaing tidak mungkin akan seberani ini melakukan hal yang melanggar hukum.
...****************...
..."Mah, malam ini, mamah temenin kita tidur di kamar kita ya mah?"...
Ayla mengembangkan senyumnya lalu mengangguk.
..."Kasurnya akan sesak Zico.!"...
..."Tidak akan Arend, ini kan king size. Aku ingin merasakan tidur di pelukan seorang Ibu Arend!. Boleh ya?"...
Arend membuang nafas kasar. Ia mulai membaringkan tubuhnya di samping Ayla yang berada di tengah-tengah mereka. Dengan posisi membelakangi Ayla.
Ayla mulai menyanyikan lagu penghantar tidur sambil memeluk Zico penuh kasih sayang. Zico memejamkan mata dan mereka mulai terlelap bersama.
...****************...
..."Kau?"...
..."Apa kabar Dion?"...
..."Dari mana kau tahu tentang diriku? Bagaimana kau bisa tahu kalau aku masih hidup?"...
Kini Ineke ikut bangkit dari duduknya. Ia mulai merasa cemas dan takut.
..."Dion, ada apa?"...
..."Uuuhhh, wanita yang sangat cantik Dion, suaranya sangat lembut."...
Tiba-tiba Dion melihat sebuah mini camp di salah satu tiang rumah Ayla.
..."Brengs*k"...
Dengan emosi Dion menarik alat itu dengan keras. Ineke merasa sangat takut dan cemas.
..."Ha ha ha ha ha "...
..."Apa yang kau inginkan?"...
..."Tidak ada Dion, kau hanya harus membayar semua kerugian yang kau berikan. Dan aku akan segera mendapatkannya."...
Lalu telfon itu di matikan.
..."Halo, Mark. Mark!"...
..."Dion, ada apa?"...
..."Aaahh, Brengs*ek."...
Dion mengusap kepalanya gusar. Nafasnya terasa berat dan terdengar berkejaran.
..."Ke, kita pulang sekarang.!"...
..."Tapi, ini sudah malam Dion. Ada apa?"...
__ADS_1
..."Aku akan menceritakan semuanya di jalan, ayo. Cepatlah.!"...
Ineke mengambil surat-surat yang sudah di siapkan. Ia lalu mengunci pintu, berlari ke dalam mobil, Dion sudah berada di posisi kemudi.
Dion lekas menancap gas. Pikirannya sudah mulai kalut, ia di Landa rasa takut yang mencekam.
Ineke melihat Dion yang begitu gusar tidak berani bertanya. Ia mengeluarkan ponselnya memberi pesan singkat pada Ayla. Tidak ada balasan. Lalu Ineke mencoba menghubunginya, berkali-kali. Dan tetap tidak ada jawaban.
..."Dion?"...
Ineke memberanikan diri untuk bertanya. Dion melihat ke arah Ineke. Tangannya mengelus rambut Ineke dengan lembut.
..."Maaf, aku membuatmu takut.!"...
Ineke menggeleng.
..."Tidak, tapi, ada apa? Kenapa kamu terlihat tegang sekarang? Dan, benda tadi? Apa itu sebuah kamera?"...
Dion mengangguk.
..."Kenapa ada mini camp di rumah kita? Siapa yang menaruhnya? Untuk apa itu di taruh di sana?"...
Dion diam. Ia sendiri kini bingung bagaimana cara menjelaskan pada Ineke. Bagaimana caranya agar bisa memberitahu Ineke bahwa masa lalu nya yang gelap telah kembali datang.!
..."Dan, tadi kamu menyebut satu nama, Mark? Siapa dia?"...
Dion menginjak rem, menghentikan mobilnya yang sudah keluar dari jalan utama desa. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari.
..."Dia adalah Bos mafia yang dulu menaungiku. Dia kembali.!"...
Tatapan Dion sangat tajam, matanya merah sempurna. Sulit bagi Ineke untuk bisa mengartikannya.
..."Apa yang dia inginkan?"...
..."Semua akan baik-baik saja ke. Aku akan selalu melindungi mu. Tidak akan ada yang bisa menyakitimu."...
..."Aku tidak pernah takut dengan kematian Dion, aku hanya takut dengan perpisahan.?"...
Kini Ineke sudah menangis dalam pelukan Dion. Dan mereka melanjutkan perjalanan agar lekas sampai rumah.
Dalam pikiran Dion saat ini, ia takut jika Mark menargetkan Aryan dan keluarganya.
...****************...
Seseorang menendang tengkuk lutut Aryan dari belakang, sehingga ia jatuh kelantai dengan tumpuan lutut depannya.
Aryan hanya bisa diam dan pasrah menerima semua perlakuan itu, Ia tidak mampu melawan, lagi, Aryan juga belum mengetahui apapun tentang mereka, siapa mereka. Apa motif mereka?
Gita sang sekretaris hanya bisa menangis. Tanpa aba-aba orang yang mengarahkan senjatanya ke kepala Gita dengan sekali tembak peluruh itu melesat masuk menembus tengkorak Gita.
Mata Gita terbelalak. Darah segar bercucuran dari lubang akibat peluruh panas itu. Seketika Gita jatuh tergeletak di lantai.
..."Gita!"...
Aryan kaget dan berteriak.
..."Sssuuuuuttt ssuuttt!"...
__ADS_1
Seorang pria tampan dengan tatto yang terlihat di lengan kanannya bergerak mendekat ke arah Aryan. Ia menggerakkan jari telunjuknya ke mulut mengisyaratkan agar Aryan diam.
Aryan melihat ke arah pria itu dengan tatapan amarah penuh kebencian.